Dark
Light
Dark
Light

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Makna Nafsu dan Akal dalam Kajian Tasawuf

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Makna Nafsu dan Akal dalam Kajian Tasawuf

Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi ketiga, memaparkan tentang makna nafsu dan akal sebagai bagian dari instrumen penting dalam diri manusia. Pembahasan ini menjadi kelanjutan dari topik pada pengajian sebelumnya yang membahas tentang makna hati dan ruh yang ada dalam diri manusia.

Makna Nafsu

Sebagaimana hati dan ruh, Imam Ghazali menjelaskan makna jiwa atau nafsu menjadi 2 pengertian, hal ini sebagaimana ia jelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 878 berikut:

أحدهما: أنه يراد به المعنى الجامع لقوة الغضب والشهوة في الإنسان على ما سيأتي شرحه  

Artinya: “Pertama, sesungguhnya yang dimaksud kata ‘nafs’ adalah merujuk pada kekuatan dari sifat marah dan syahwat dalam diri manusia, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut.” 

Dijelaskan Gus Ulil, makna pertama dari nafsu ini merujuk pada dua kecenderungan atau kapasitas mental dalam diri manusia, yaitu kemampuan untuk marah dan menyenangi sesuatu secara berlebihan. Makna ini biasanya digunakan oleh para ahli tasawuf untuk menunjukkan sifat-sifat negatif dalam diri manusia.

“Karena itu orang ahli tasawuf biasa mengatakan: kita harus memerangi nafsu, karena nafsu menunjukkan pengertian makna yang negatif, yaitu sifat-sifat yang tercela pada diri manusia, sifat marah dan sifat suka,” jelas Gus Ulil, sebagaimana sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Ahad (10/11/2024).

Keterangan Al-Ghazali ini sejalan dengan sabda Rasulullah dalam sebuah hadits berikut:

أَعْدَى عَدُوِّكَ نفسُكَ التى بين جَنْبَيْكَ

Artinya: “Musuhmu yang paling musuh adalah nafsumu yang ada di antara dua sisi badan kamu,”

Gus Ulil mencontohkan, makna nafsu yang pertama ini misalnya adalah ingin makan enak, ingin membeli HP baru, marah ketika jengkel, dan sejenisnya. “Itu semua adalah sikap-sikap atau manifestasi dari nafsu manusia pada dasarnya,” jelas Gus Ulil.

Berbeda dengan makna pertama yang mempunyai citra negatif, makna kedua nafsu mempunyai nilai positif, Imam Ghazali mengungkapkan makna nafsu dalam pengertian yang kedua sebagaimana berikut:

المعنى الثاني : هي اللطيفة التي ذكرناها التي هي الإنسان بالحقيقة، وهي نفس الإنسان وذاته، ولكنها توصف بأوصاف مختلفة بحسب اختلاف أحوالها ؛ فإذا سكنت تحت الأمر وزايلها الاضطراب بسبب معارضة الشهوات سميت النفس المطمئنة

Artinya: “Makna kedua (Nafsu) adalah sesuatu yang sifatnya lembut (lathifah) sebagaimana kami telah menjelaskannya dan itu adalah hakikat manusia, lathifah ini adalah jiwa dan esensi manusia. Tetapi nafsu ini disifati dengan sifat-sifat yang berbeda sesuai dengan perbedaan keadaan nafsu itu sendiri. Ketika nafsu ini tenang di dalam kendali manusia dan terhindar dari kegalauan karena mampu mengendalikan syahwat, maka nafsu ini dinamakan nafsu Muthmainnah (jiwa yang tenang),”

Gus Ulil kemudian menguraikan bahwa nafsu dalam pengertian kedua ini memiliki beberapa jenis. Pertama adalah nafsu Muthma’innah, yaitu jiwa yang mampu dikendalikan oleh manusia dan mencerminkan ketenangan serta kedamaian. Jika menggunakan istilah dalam psikologi Sigmund Freud, nafsu Muthma'innah ini mirip dengan Superego, yaitu bagian dalam diri manusia yang memiliki kekuatan untuk mengontrol dorongan-dorongan primitifnya. Karena kemampuannya dalam mengendalikan dan mengatasi kecenderungan-kecenderungan dasar tersebut, maka nafsu Muthma’innah ini mirip dengan istilah Superego.

Berkaitan dengan nafsu Muthma’innah, Allah berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 27-28:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ، ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang [27], kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai [28]”.

Gus Ulil mengungkapkan, nafsu dalam konteks marah dan syahwat tidak bisa kembali kepada Allah. Hanya nafsu Muthma’innah atau jiwa yang tenanglah yang akan kembali kepada Allah. 

“Kenapa? karena nafsu dalam pengertian pertama tadi jauh dari Tuhan, nafsu dalam pengertian marah dan syahwat itu adalah nafsu yang termasuk di dalam blok-nya setan, bagian dari kekuatan jahat dalam diri kita,” jelas Gus Ulil.

Kedua, nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang ada di bawah tingkatan nafsu Muthma’innah. Nafsu ini belum mencapai pada ketenangan, namun ada upaya untuk melawan tendensi-tendensi negatif dalam diri manusia. Imam Ghazali mengungkapkan:

وإذا لم يتم سكونها ولكنها صارت مدافعة للنفس الشهوانية ومعترضة عليها سميت النفس اللوامة

Artinya: “Dan ketika tidak sempurna ketenangan nafsu, tetapi nafsu tersebut menjadi melawan pada nafsu kesenangan dan melawan terhadap nafsu kesenangan, itu dinamakan nafsu lawwamah,”

Gus Ulil menerangkan, Lawwamah adalah nafsu yang terus melakukan otokritik dan mengingatkan pada diri manusia saat lengah dalam menyembah Allah atau saat melakukan kesalahan. Allah menyinggung nafsu ini dalam firman-Nya pada Surat Al-Qiyamah ayat 2:

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Artinya: “Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).”

Ketiga, nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang selalu mendorong atau memerintahkan seseorang untuk melakukan kejahatan. Dijelaskan Gus Ulil, lafaz “ammarah” berasal dari kata sifat “âmir” yang artinya orang yang memberikan perintah. Ammarah termasuk shighat mubalaghah, yaitu format isim fa'il yang menunjukkan kuatnya penekanan sifat pada maushuf.

“Âmir itu orang yang memerintahkan dalam pengertian yang normal. Tapi ammaratun memerintahkan dengan sepenuh tenaga, dengan penekanan yang intensif, jadi tidak main-main ini, perintahnya perintah yang sesungguhnya,” terang Gus Ulil.

Nafsu Amarrah ini disinggung oleh Allah dalam firman-Nya pada Surat Yusuf ayat 53:

 وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ

Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.”

Selanjutnya, Imam Ghazali menjelaskan bahwa nafsu Ammarah ini identik dengan makna nafsu yang pertama sebagaimana telah dibahas sebelumnya, yaitu nafsu yang mempunyai citra negatif karena condong pada marah dan syahwat. Ammarah ini adalah nafsu yang paling tercela dan kedudukannya paling rendah dalam diri manusia.

“Karena itu sebetulnya ini nafsu primitif, nafsu purba. Nafsu ketika manusia belum mengalami proses civilization atau peradaban. Nah ini yang paling rendah sekali, nafsu yang tidak bisa naik kepada level yang disebut dengan Superego, karena masih terpenjara di dalam keadaan yang tidak beradab,” terang Gus Ulil.

Sebaliknya, nafsu Muthma’innah dan Lawwamah, adalah nafsu baik yang mempunyai citra positif karena nafsu ini adalah jiwa yang menjadi esensi manusia dan dapat mengetahui tentang Allah serta pengetahuan-pengetahuan yang lain.

“Nafsu yang pertama, nafsu dalam pengertian marah dan syahwat itu adalah sebetulnya bukanlah jiwa atau esensi manusia, itu adalah esensi kebinatangan,” tambahnya.

Makna Akal

Selaras dengan makna hati, ruh, dan nafsu, Imam Ghazali memaknai akal dalam dua pengertian. Ia mengungkapkan:

أحدهما : أنه قد يطلق ويراد به العلم بحقائق الأمور، فيكون عبارة عن صفة العلم الذي محله القلب

Artinya: “Makna pertama, (akal) terkadang diucapkan dan dimaksudkan pada pengetahuan sampai pada hakikatnya. Maka (makna akal) ini adalah ungkapan dari sifat ilmu yang tempatnya ada di hati,”

Gus Ulil menjelaskan bahwa makna akal yang pertama adalah pengetahuan tentang sesuatu sampai pada esensi terdalam pada sesuatu tersebut. Kapasitas ini menjadi sifat ilmu yang mempunyai tempat di dalam hati dalam pengertian kedua, yaitu sesuatu yang yang lembut (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyyah), dan bersifat kerohanian (ruhaniyyah).

“Ini menarik, hati yang dijelaskan Imam Ghazali di sini bukan hati yang sering kita pahami. Selama ini kita memahami hati itu sebagai tempat di mana ada kemampuan afektif, kita merasa sesuatu, kita senang, gembira, sedih. Tapi bukan itu saja, Imam Ghazali memaknai hati sebagai tempat atau organ dalam tubuh manusia yang di situ terletak kemampuan untuk mengetahui, kemampuan kognitif, bukan hanya efektif, nah itulah akal. Akal dalam pengertian pertama adalah pengetahuan tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya,” jelas Gus Ulil.

Adapun makna akal dalam pengertian yang kedua adalah

والثاني : أنه قد يطلق ويراد به المدرك للعلوم فيكون هو القلب أعني تلك اللطيفة

Artinya: “Makna kedua, (akal) terkadang diucapkan dan dimaksudkan pada sesuatu yang bisa memahami terhadap pengetahuan. Maka (akal) itu adalah hati, maksudnya adalah sesuatu yang lembut,”

Gus Ulil menjabarkan, dua pengertian akal ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok namun keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Makna pertama, akal itu adalah pengetahuan sampai ke akar-akarnya. Sedangkan akal dalam pengertian yang kedua, yaitu kemampuan untuk mengetahui sesuatu tersebut.

“Beda kan? kalau yang pertama tadi pengetahuannya, kalau pengetahuan itu sifat. Tapi (pengertian kedua) di sini adalah kemampuannya, sesuatu yang membuat seseorang bisa mengetahui. Jadi makna kedua akal adalah kapasitas, makna pertama adalah pengetahuannya, sesuatu yang dihasilkan karena kapasitas ini,” tambah Gus Ulil.

Dalam menjelaskan dua makna akal ini, Al-Ghazali mengumpamakan orang alim yang memiliki dua dimensi, yaitu orang alim itu sendiri dan ilmu yang melekat dalam diri orang alim tersebut. Akal dalam pengertian pertama diumpamakan seperti ilmu yang ada pada orang alim, akal dalam pengertian yang kedua adalah orang alimnya itu sendiri yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui.

Gus Ulil kemudian mengumpamakan Prof Quraish Shihab yang memiliki dua dimensi, yaitu Prof Quraishnya itu sendiri dan ilmu yang ada dalam diri Prof Quraish. Meskipun dua dimensi ini menyatu dalam diri seorang Prof Quraish, namun jika dirinci lebih lanjut sesungguhnya keduanya bisa dibedakan. 

“Pengertian akal itu bisa bermakna sifat yang menetap pada orang alim itu, itu makna pertama. Akal juga bisa dalam pengertian orang yang punya kemampuan untuk mengetahui, Profesor Quraishnya itu sendiri. Jadi akal itu bisa berarti Profesor Quraish yang alim, akal juga bisa berarti ilmu yang ada pada Profesor Quraish. Itulah makna akal,”

Akal dalam pengertian kedua ini selaras dengan hadits Nabi yang kontroversial di kalangan ulama ahli hadits, sebagaimana berikut:

أَوَّلُ ما خَلَقَ الله العَقْلُ

Artinya: “Sesuatu yang pertama diciptakan oleh Allah adalah akal,”

Menurut Al-Ghazali, akal dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa akal dalam pengertian kedua ini lebih dulu diciptakan daripada akal dalam pengertian yang pertama, yaitu pengetahuan. Pasalnya, akal dalam arti pertama (pengetahuan) mengikuti pada akal dalam arti kedua (kapasitas untuk mengetahui).

“Jadi, yang diciptakan pertama kali itu seharusnya tempat ilmu, yaitu akal, bukan ilmunya karena ilmu itu mengikuti akal itu sendiri,” tambah Gus Ulil.

Sentuhan Filsafat dalam Kitab Ihya

Dalam pengajian ini, Gus Ulil kembali menegaskan bahwa dalam kitab Ihya, terutama pada bagian ketiga dan keempat, terdapat sentuhan pemikiran filsafat Islam. Meskipun Imam Ghazali pernah mengkritisi ajaran filsafat, tapi sebenarnya dia tidak sepenuhnya mencela filsafat. Pasalnya, di dalam kitab Ihya ini terdapat sejumlah diksi yang menjadi ciri khas pemikiran filsafat Islam, misalnya lafaz “al-ma‘lumât” saat menjelaskan tentang makna nafsu yang kedua. Lafaz al-ma‘lumât ini merupakan istilah khas yang sering dipakai oleh para filsuf muslim, seperti Ibnu Sina.

“Sekali lagi, ini menunjukkan tidak benar kalau Imam Ghazali itu membunuh filsafat dan menjauhi filsafat, karena di dalam kitab Ihya ini sebetulnya bertebaran istilah-istilah filsafat, terutama kuadran ketiga dan keempat. Bahkan psikologi Al-Ghazali di dalam kuadran ketiga dan keempat nanti, itu dalam banyak hal mirip dengan psikologinya Ibnu Sina dalam kitab Asyifa,” jelas Gus Ulil.

Selain itu, dalam menjelaskan makna akal, Imam Ghazali membaginya menjadi dua pengertian dan diumpamakan dengan sosok orang alim. Akal bisa diartikan sebagai orang alim itu sendiri dan akal juga bisa diartikan dengan ilmu yang melekat padanya. Jika diperhatikan lebih dalam, dua pengertian ini mencerminkan pemikiran filsafat Islam yang mengacu pada konsep Jauhar (esensi dari suatu wujud) dan ‘Aradh (sifat yang melekat pada sesuatu).


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo