Dark
Light
Dark
Light

Sepeda Raksasa Itu Bukan Punya Nabi Adam, Tapi Landmark Kota Jeddah

Sepeda Raksasa Itu Bukan Punya Nabi Adam, Tapi Landmark Kota Jeddah

Arina.id - “Pelan-pelan, Pak Sopir! Pelan-Pelan,” Nampaknya para pembaca pernah melihat video pendek atau short dengan isi suara semacam itu. Pada video aslinya, ada lanjutan kata berikut:

“Astaghfirullahal ‘Adzim, sepeda Nabi Adam yeuh...”

Jadi, sang pembuat video takjub melihat sebuah sepeda raksasa yang nampaknya ia kaitkan dengan Nabi Adam yang sepertinya pernah ia dengar dari para penceramah bahwa tubuh Nabi Adam itu tingginya 60 hasta atau 30 meter, maka ia anggap wajar jika sepedanya pun berbentuk raksasa.

Harus kita akui bahwa memang telah terjadi spekulasi di media sosial mengenai sepeda raksasa yang berdiri megah di salah satu sudut Kota Jeddah, Arab Saudi. Sebagian warganet menyebut bahwa sepeda itu adalah "sepeda Nabi Adam", sebuah klaim yang tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta sejarah. Faktanya, sepeda raksasa tersebut bukan peninggalan zaman Nabi, melainkan salah satu landmark atau tengaran modern Kota Jeddah.

Sepeda raksasa tersebut oleh situs traveling tripadvisor.com dinamai Bicycle Square yang dalam bahasa Arabnya disebut sebagai Diwar al-Darajah. Terjemahan bebas bahasa Indonesianya ialah Taman atau Alun-Alun Sepeda. Sepeda raksasa ini adalah instalasi seni publik yang terletak di Jeddah Corniche, kawasan tepi pantai yang terkenal dengan keindahan lautnya dan dipenuhi berbagai patung serta instalasi seni. Sepeda ini berukuran sangat besar, menjulang tinggi, dan langsung mencuri perhatian siapa pun yang melintas. Ini adalah salah satu dari ratusan karya seni yang menghiasi ruang terbuka Jeddah.

Berdasarkan penelusuran menggunakan aplikasi Google Maps, lokasi sepeda raksasa tersebut berada di Setten Rd, persimpangan King Fahd Street, Jeddah. M. Alvin Nur Choironi dalam tulisannya yang dimuat di islami.co menjelaskan bahwa sepeda raksasa tersebut merupakan landmark (tengaran) yang dibuat oleh Julio Lafuente, seniman asal Spanyol pada tahun 1982. Dengan tinggi 15 meter dan panjang 10 meter, Lafuente sengaja menciptakan seni instalasi tersebut sebagai perlambang akan gerakan dan kebebasan. Baginya, kota Jeddah selalu berkembang dan bergerak maju. Di sisi lain, Jeddah bagi banyak orang juga menjadi awal titik perjalanan haji untuk membebaskan dosa manusia, maka instalasi sepeda sengaja ia buat untuk merepresentasikan kedua hal tersebut.

Tengaran tersebut merupakan satu dari sekian banyak tengaran yang menjadi bagian dari proyek mempercantik kota Jeddah yang dimulai sejak tahun 1970-an. Wali Kota Jeddah saat itu, Mohammed Said Farsi menggagas ide untuk menjadikan Jeddah sebagai “museum terbuka” dengan memasang begitu banyak karya seni publik yang berukuran besar.

Bukan Peninggalan Nabi

Klaim bahwa itu adalah "sepeda Nabi Adam" jelas tidak masuk akal secara historis maupun logis. Sepeda baru ditemukan dan dikembangkan dalam sejarah modern, yaitu pada abad ke-19 di Eropa. Sedangkan Nabi Adam adalah manusia pertama menurut keyakinan agama samawi, yang hidup ribuan tahun silam, jauh sebelum era teknologi atau kendaraan modern.

Dengan demikian, mengaitkan sepeda tersebut dengan Nabi Adam adalah sebuah mitos modern atau gurauan internet yang tidak memiliki dasar ilmiah maupun religius. Penulis menduga bahwa beberapa jamaah haji atau umroh dari Indonesia biasanya ziarah ke Jeddah dengan mengunjungi lokasi yang dipercaya sebagai Makam Ibu Hawa yang panjangnya sekitaran 30 meter. Biasanya setelah itu, kendaraan yang mereka tumpangi akan melewati tengaran sepeda raksasa. Barangkali dari sinilah kemudian rumor istilah “Sepeda Nabi Adam” itu berkembang.

Sebagaimana telah disebutkan, sepeda raksasa ini merupakan bagian dari proyek seni publik besar-besaran yang telah dilakukan oleh pemerintah kota Jeddah sejak dekade 1970-an. Jeddah dikenal sebagai “kota seni publik” di Arab Saudi, dengan lebih dari 400 karya seni yang tersebar di berbagai penjuru kota. Di antaranya karya seniman internasional seperti Henry Moore dan Alexander Calder. Tengaran seperti sepeda raksasa ini bukan hanya menjadi hiasan kota, tetapi juga menjadi simbol keterbukaan Jeddah terhadap seni, budaya, dan ekspresi kreatif—sesuatu yang jarang ditemukan dalam konteks kota-kota Timur Tengah pada umumnya.

Sepeda raksasa ini sering dijadikan latar berfoto oleh warga lokal maupun wisatawan. Terletak di tepi jalan yang strategis, ia menjadi titik orientasi dan ikon visual yang mudah dikenali. Di malam hari, sepeda ini biasanya disorot dengan pencahayaan artistik, menambah daya tariknya sebagai objek wisata.

Jadi, sepeda raksasa di Jeddah bukanlah sepeda Nabi Adam, melainkan sebuah tengaran seni modern yang menjadi bagian dari identitas kota Jeddah. Cerita yang menyebutnya peninggalan Nabi hanya mitos atau candaan yang tidak berdasar. Sebaliknya, keberadaan sepeda itu menunjukkan bagaimana Jeddah mencoba tampil sebagai kota yang maju, artistik, dan terbuka terhadap modernitas, tanpa melupakan akar budayanya.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo