Larangan itu telah disampaikan dengan jelas oleh Tuhannya. Janganlah mendekati, Adam dan istrinya justru nekat menelan khuldi, semacam pepohonan yang tumbuh kekal di surga. Kesalahan mengunyah khuldi mengandung konsekuensi besar! Meski khilaf dan pertobatan keduanya termaafkan, mengapa Tuhan tetap mengeluarkan mereka dari surga? Apakah Tuhan telah menggariskan takdir lain atas keduanya?
Pakar tafsir Al-Qur’an Indonesia, Kiai Bahauddin Nursalim punya pandangan berbeda dari sebagian ulama. Secara tegas ia membantah kesalahan itu dialamatkan ke Adam. Menurutnya, Nabi Adam tidak pernah salah. “Ketika beliau ditanya Allah kenapa memakan buah yang dilarang? Nabi Adam menjawab, ‘Demi Allah, saya tidak pernah menduga ada makhluk yang berani berbohong atas nama-Mu,’”
Kiai Baha menegaskan bahwa Nabi Adam adalah korban sumpah atas nama Allah! Nabi Adam bukan korban godaan iblis yang lemah. Adam terkecoh kelicikan Iblis dengan menyertakan Tuhan di atas sumpahnya.
Kisah Nabi Adam telah banyak diabadikan dalam Al-Qur’an, dari ayat-ayat panjang hingga bait pendek. Surat-surat yang memuat kisah manusia pertama ini adalah al-Baqarah, al-A’raf, a-Hijr, al-Isra, Thaha, al-Kahfi, dan Shad. Pengulangan kisah serupa dalam surat dan ayat-ayat yang berbeda memang lumrah dalam Al-Qur’an. Menariknya, meskipun muatannya sama, pembaca akan memperoleh pemahaman berbeda pada tiap-tiap ayat dan surat.
Dikisahkan, Allah swt menciptakan malaikat, iblis, dan manusia di surga. Malaikat tercipta dari kemilau cahaya, ibilis dari api, sementara Adam (manusia) dari tanah. Mereka semua menikmati kemewahan yang sempurna. Saking istimewanya, para ulama menggambarkan surga dengan ungkapan “mā lā ‘ainun ra’ats, wa lā udzununnsami’ats, wa lā khatara ‘ala qalbil basyar,” kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit oleh manusia selama hidup di dunia.
Di sana, Adam dan istrinya, Hawa bebas menikmati ragam fasilitas, kecuali satu: tidak boleh mendekati apalagi sampai menelan khuldi.
Tak mau sujud
Sebelum Adam dan Hawa, Allah terlebih dulu menciptakan malaikat dan iblis di surga. Hingga sekali waktu Allah mengumumkan bahwa Dia telah menciptakan makhluk yang terbuat dari tanah. Sebagai bentuk penghormatan sekaligus menguji malaikat dan iblis, Allah memerintahkan keduanya untuk memberi sujud. Ingat, ini sujud penghormatan bukan untuk menyembah. Ibnu ‘Abbas menegaskan,
كَانتْ السَّجْدَةُ لِأَدَمَ وَالطَّاعَةُ لَلَّهِ تَعَالَى
Artinya, “Sujudnya memang kepada Adam, tapi sejatinya sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah ta’ala.”
Jika malaikat bersujud dengan penuh kepatuhan, sikap berbeda ditunjukkan iblis. Dia menilai dirinya lebih baik dari Adam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan dalam dialog,
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
Artinya. “Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf [7]: 12)
Kalimat “ana khairan minhu” merupakan klaim keangkuhan. Iblis merasa dirinya lebih baik dari makhluk yang diciptakan setelah dirinya. Adam tercipta dari tanah sementara iblis dari api. Pikirnya, api merupakan unsur alam yang lebih unggul dibanding tanah. Api bisa membumbung tinggi ke atas, sementara tanah hanya diam di bawah. Jelas dirinya lebih mulia. Bagaimana bisa ia harus hormat kepada makhluk yang kualitasnya lebih rendah.
Dalam pandangan Ibnu Katsir, sebenarnya iblis terjebak dalam logical fallacy (kesalahan berpikir). Seharusnya tanahlah yang lebih unggul dibanding api. Jika dipahami lebih mendalam, tanah adalah unsur alam yang tenang dan konsisten. Terlebih, tanah merupakan simbol kehidupan karena tanpanya tidak mungkin tanaman bisa tumbuh. Sementara api sebaliknya. Ia memiliki karakter beringas karena geraknya agresif, terutama saat menempel pada benda-benda. Jika tanah menjadi sumber kehidupan maka api lebih sering menghanguskan apa saja yang disentuhnya (Ibnu Katsir, 1997: vol 3, h. 392).
Akibat dari keangkuhannya itu iblis diusir dari surga. Hanya saja sebelum keluar dari gerbang surga, ia mengajukan satu keinginan agar diberi usia panjang sampai kiamat kelak. Permintaan ini Allah kabulkan. Dan sejak itu, aktivitasnya iblis konstan: melancarkan tipu muslihat kepada anak cucu Adam.
Dendam Iblis
Sejak dikeluarkan dari surga iblis mengikrarkan kesumat kepada Adam. Ia tidak hanya bersumpah menjerumuskan Adam dan Hawa dalam lembah dosa, tetapi juga kepada anak cucunya sampai batas kiamat tiba. Berdasarkan firman Allah surat Al-A’raf ayat 17, Ibnu Jarir mengelompokkan dua model upaya iblis, yaitu dengan menghalangi mereka dari perbuatan baik dan memperdaya agar saat melakukan maksiat terasa nikmat (Ibnu Katsir, 1997: vol 3, h. 395).
Langkah pertama yang dilakukan iblis adalah bagaimana agar Adam dan Hawa juga dikeluarkan dari surga seperti ia diusir dari tempat mulia ini. Tahu bahwa Allah melarang keduanya untuk mendekati buah Khuldi, iblis pun mulai menyusun siasat licik agar Adam dan Hawa tidak hanya mendekati buah haram tersebut tetapi juga memakannya.
Salah satu trik yang iblis lakukan adalah dengan memberikan janji palsu bahwa siapapun yang memakan Khuldi, ia akan berubah menjadi sosok malaikat dan hidup kekal di surga. Godaan ini tampaknya cukup berhasil. Adam dan Hawa telah merasakan kenikmatan luar biasa selama di surga. Begitu dijanjikan keabadian di tempat indah ini, keduanya sulit untuk menolak.
Mengapa mereka percaya begitu saja dengan bualan iblis? Di sinilah cerdasnya iblis. Ia menggunakan kalimat sumpah atas nama Allah untuk meyakinkan. Hemat Adam, sejauh ini orang yang bersumpah, terlebih menyelipkan Tuhan dalam sumpahnya pastilah sebuah kebenaran. Pendapat ini didukung oleh Ibnu ‘Abbas. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala,
وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ
Artinya, “Ia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi nasihat.” (Al-A‘rāf [7]:21)
Sedangkan menurut Ibnu Hazm, alasan Adam mau memakan buah Khuldi adalah karena ia berpikir jika menjadi malaikat dan hidup abadi di surga, ia akan bisa lebih dekat dengan Allah swt. Panalaran ini membuat Adam berani melanggar larangan-Nya. Sikap yang seharusnya diambil adalah tunduk. Di sinilah sebenarnya esensi dari perintah dan larangan agama. Terkadang perintah atau larangan agama hanya perlu dipatuhi, tidak perlu dipertanyakan. Sengaja Allah tidak menjelaskan alasan larangan tersebut untuk menguji seberapa besar komitmen Adam dengan Tuhannya (Al-Qasimi, 2003: vol 7, h. 150). Dasar argumen Ibnu Hazm adalah firman Allah ta’ala,
وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا
Artinya, “Sungguh telah Kami perintahkan Adam dahulu (agar tidak mendekati pohon keabadian), tetapi dia lupa dan Kami tidak mendapati padanya tekad yang kuat (untuk menjauhi larangan).” (QS Ṭāhā [20]:115)
Dikeluarkan dari Surga
Begitu sadar dirinya telah melanggar perintah Allah, segeralah Adam dan Hawa bertaubat dan menyesali apa yang mereka perbuat. Di sinilah perbedaan iblis dan Adam. Jika iblis melanggar perintah Allah atas dasar sombong dan tidak mau bertaubat, lain halnya Adam yang melakukannya atas dasar kelalaian. Selain itu, Adam juga segera mengakui kesalahannya dan memohon ampun begitu sadar telah berbuat maksiat. Konsekuensinya, iblis tetap menanggung dosa tersebut sampai hari kiamat sementara Adam dan Hawa mendapat ampunanan seketika itu juga.
Jika sudah diampuni mengapa Adam dan Hawa tetap mendapat hukuman dan harus hengkang dari surga? Untuk menjawab ini, menarik untuk disimak penjelasan Ibnu ‘Arabi dalam al-Futūḥātul Makkiyyah. Menurutnya, diturunkannya Adam dan Hawa ke muka bumi bukan sebagai balasan atas dosa karena keduanya sudah diampuni, melainkan karena Allah sudah merencanakan Adam sebagai khalifah di bumi segaimana sudah ditegaskan dalam Al-Baqarah ayat 30. Sederhananya semua ini sudah dalam skenario ilahi (Ibnu ‘Arabi, vol 11, h. 173).
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Zunus


