Arina.id - KH. Bahauddin Nur Salim, atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha, dalam banyak pengajian kitabnya yang tersebar di YouTube maupun video-video pendek di media sosial, sering menceritakan kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang terdahulu dalam kitab klasik untuk kita teladani.
Salah satu yang seringkali beliau kisahkan adalah tentang seorang laki-laki fasik yang hafal Surat Al-Mulk. Berkat hafalannya itu, ia selamat dari siksa malaikat karena mendapat syafaat dari Surat Al-Mulk. Menurut Gus Baha, kisah ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an kelak dapat memberi syafaat di akhirat, sama seperti syafaat para nabi atau Rasulullah SAW.
Namun, bedanya, syafaat Al-Qur’an datang sebelum seseorang terkena siksa, sedangkan syafaat Rasulullah SAW datang setelah seseorang terkena siksa.
Kisah ini juga memberi pemahaman bahwa yang akan memberi syafaat bukan hanya hafalan seluruh Al-Qur’an, tetapi setiap surat atau ayat yang kita hafalkan pun akan menjadi penolong kita di akhirat nanti.
Kisah tentang pemuda yang selamat dari siksa malaikat karena hafal Surat Al-Mulk ini bisa kita temukan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 8 halaman 175. Di sana diceritakan bahwa dulu ada seorang laki-laki yang dikenal sebagai orang fasik. Sepanjang hidupnya, ia tidak punya hafalan Al-Qur’an sama sekali, kecuali satu surat, yakni Surah Tabaarak (Surat Al-Mulk).
Ketika laki-laki itu meninggal dunia dan sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, malaikat datang untuk menyiksanya. Namun, tiba-tiba terjadi sesuatu yang menakjubkan. Surat Al-Mulk muncul dan berubah wujud menjadi sosok seseorang yang menghadang malaikat tersebut.
Malaikat pun terkejut dan lantas berkata;
إِنَّكِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، وَأَنَا أَكْرَهُ مُسَاءَتَكِ، وَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكِ وَلَا لَهُ وَلَا لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا، فَإِنْ أَرَدْتِ هَذَا بِهِ فَانْطَلِقِي إِلَى الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَاشْفَعِي لَهُ
Artinya: “Engkau adalah bagian dari Kitab Allah. Aku tidak mungkin menyiksamu. Tapi aku juga tidak punya kuasa apa pun untuk menolak perintah Allah. Jika engkau ingin membelanya, maka pergilah menghadap Allah dan mintalah pembelaan untuknya.”
Lalu Surat Al-Mulk pun naik menghadap Allah dan menyampaikan protesnya:
يَا رَبِّ، إِنَّ فُلَانًا عَمَد إليَّ مِنْ بَيْنِ كِتَابِكَ فتَعَلَّمني وَتَلَانِي أَفَتُحَرِّقُهُ أَنْتَ بِالنَّارِ وَتُعَذِّبُهُ وَأَنَا فِي جَوْفِهِ؟ فَإِنْ كُنْتَ فَاعِلًا ذَاكَ بِهِ فَامْحُنِي مِنْ كِتَابِكَ
Artinya: “Ya Allah, orang ini sengaja memilihku di antara seluruh kitab-Mu. Dia menghafalku dan selalu membacaku setiap hari. Masa Engkau tega membakarnya dengan api neraka dan menyiksanya, sementara aku ada di dalam dadanya? Tapi kalau Engkau tetap ingin menyiksanya dan aku tidak bisa menolongnya, ya sudah… hapus saja aku dari Kitab-Mu.”
Allah pun berfirman:
أَلَا أَرَاكِ غَضِبْتِ؟
Artinya: “Lah kamu kok marah?”
Surat Al-Mulk pun menjawab,
وحُقّ لِي أَنْ أَغْضَبَ
Artinya: “Tentu saja saya marah, ya Allah. Saya pantas marah. (masak sudah jadi Qur'an tapi tidak bisa mensyafaati bagi yang menghafal)”
Lalu Allah pun berfirman:
اذْهَبِي فَقَدْ وَهَبْتُهُ لَكِ، وشَفّعتك فِيهِ
Artinya: “Ya sudah, Aku ampuni dia karena permintaanmu. Sekarang, aku izinkan kamu menolongnya.”
Dari kisah Surat Al-Mulk yang memberi syafaat kepada penghafalnya ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada amalan yang sia-sia di sisi Allah, sekecil apa pun itu, termasuk hafalan surah-surah Al-Qur’an. Kisah ini juga memberi motivasi bagi kita yang merasa banyak dosa, bahwa kita tidak perlu berputus asa. Allah pasti akan mengampuni hamba-Nya yang bertaubat dan memiliki kebaikan, sekecil apa pun itu.
Namun, tentu saja kita tidak boleh meremehkan ampunan Allah dengan bersikap seenaknya, bermaksiat sepuasnya, lalu beralasan, “Toh nanti juga diampuni.” Selain itu, kisah ini mengingatkan kita untuk rutin membaca Al-Qur’an. Siapa tahu, dengan wasilah ayat-ayat yang kita baca dan hafalkan, kelak Al-Qur’an akan menjadi sahabat setia yang menolong kita di saat tak ada satu pun yang mampu membantu. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


