Dark
Light
Dark
Light

Ngaji Gus Baha: Menabung, Ikhtiar Hadapi Krisis Ekonomi

Ngaji Gus Baha: Menabung, Ikhtiar Hadapi Krisis Ekonomi

Arina.id - Menabung merupakan habit (kebiasaan) yang sangat baik terlebih jika dilakukan secara disiplin. Dalam pandangan ekonomi, menabung berarti menyisihkan sebagian uang yang dimiliki untuk kebutuhan di masa mendatang. Dana yang terkumpul dari hasil menabung dapat digunakan untuk membeli barang yang diinginkan dan dibutuhkan tanpa mengganggu kebutuhan pokok sehari-hari.

Selain itu, menabung juga dapat berfungsi sebagai dana darurat, yakni cadangan keuangan yang bisa digunakan saat kondisi ekonomi memburuk, misalnya ketika terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau menghadapi pengeluaran tak terduga lainnya.

Apalagi melihat kondisi ekonomi saat ini, penting untuk memiliki dana cadangan. Kita banyak menyaksikan badai PHK yang melanda berbagai sektor, anjloknya harga saham global, hingga kebijakan tarif dagang seperti yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump yang turut memengaruhi perekonomian dunia.

Namun sebagian kalangan Muslim memandang bahwa kebiasaan menabung sebagai bentuk kurang tawakal atau bahkan sebagai tindakan menimbun harta dan melenceng dari sikap zuhud. Padahal, dalam kajian-kajian keislaman, seperti yang sering disampaikan oleh Gus Baha dalam tafsir Surat Al-Kahfi ayat 82 pendapat tersebut sangatlah keliru.

وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا 

Artinya: “Adapun dinding itu kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat simpanan bagi mereka berdua, sedang ayah keduanya itu orang saleh, maka Tuhanmu menginginkan agar keduanya mencapai dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku melakukan (tiga peristiwa) itu bukan atas kehendakku sendiri. Demikian itu tafsiran apa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya.”

Santri kesayangan KH. Maimun Zubair tersebut menjelaskan dalam sebuah kanal YouTube bahwa anggapan sebagian ulama zuhud yang melarang umat Islam untuk menabung adalah kekeliruan besar dan tidak berdasar.

Menurut Gus Baha, fatwa semacam itu bahkan bertentangan dengan syariat Islam. Ia merujuk pada kisah dalam Surat Al-Kahfi yang menggambarkan dengan jelas adanya seorang ayah saleh yang menyimpan emas sebagai bentuk perlindungan bagi anak-anaknya.

Emas itu kemudian dijaga oleh Nabi Khidir dengan membangun kembali dinding yang hampir roboh agar harta tersebut tidak diambil oleh orang-orang zalim. Menariknya, meskipun si ayah menyimpan harta, Al-Qur’an tetap menyifatinya sebagai orang yang saleh, sebagaimana disebut dalam ayat: وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا.

Gus Baha menegaskan bahwa menabung tidak mengurangi nilai kesalehan atau semangat kezuhudan seseorang. Namun, ia mengingatkan agar praktik ini dilakukan secara moderat, tidak kekurangan, tapi juga tidak berlebihan. Menyimpan harta hingga miliaran atau bahkan triliunan tanpa tujuan jelas justru bisa menjadi beban.

Yang penting, kata beliau, seorang Muslim memiliki adnal māl (harta minimum) atau adnal jāh (kehormatan minimum) yang bisa menjaga keberlangsungan hidup dan kelestarian agamanya.

Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memiliki dana cadangan, terutama dalam menghadapi kondisi yang tidak terduga seperti krisis ekonomi, badai PHK, atau bahkan ketika seseorang wafat dalam keadaan masih memiliki tanggungan anak.

Jika ia meninggalkan warisan atau aset berharga, maka itu dapat digunakan untuk mendukung kelangsungan hidup keluarganya, tanpa harus membebani orang lain atau mendorong anak cucunya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama seperti mencuri atau berutang secara zalim. 

Menabung, selama dilakukan dengan niat yang baik dan kadar yang wajar, bukan hanya dibenarkan, tetapi juga dianjurkan demi menjaga maslahat hidup dan agama. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo