Arina.id - Nama Abu Hurairah begitu populer dalam dunia Islam, terutama karena ia merupakan perawi hadits terbanyak. Disebutkan, ia meriwayatkan sekitar 5.374 hadits yang kemudian berkembang menjadi lebih dari setengah juta jalur periwayatan. Selain karena keluasan ilmunya, Abu Hurairah juga dikenal sebagai sahabat Rasulullah yang sangat menyukai kucing, atau orang sekarang menyebutnya cat lover. Kata "hurairah" artinya adalah anak kucing. Jadi, Abu Hurairah artinya bapak anak kucing.
Menariknya, Nabi Muhammad sendiri yang memberikan panggilan manis ini padanya. Nama aslinya adalah Abdurrahman bin Sakhr Ad-Dausi Az-Zahrani.
Ada beberapa riwayat yang mengisahkan asal-usul panggilan manis ini. Salah satu riwayat menyebut bahwa julukan tersebut telah disematkan kepada Abu Hurairah sejak masa Jahiliah, jauh sebelum ia memeluk Islam. Diceritakan bahwa kala itu ia bekerja sebagai penggembala kambing. Suatu hari, saat sedang menggembala, ia menemukan seekor anak kucing liar. Karena merasa iba sekaligus terhibur dengan kehadiran makhluk mungil itu, ia pun membawanya pulang.
Setiap malam, kucing itu ia letakkan di atas dahan pohon agar aman dari gangguan hewan buas. Ketika pagi menjelang, ia kembali membawanya dan mengajaknya turut menggembala. Sejak saat itu, kucing kecil tersebut menjadi teman setianya yang selalu hadir mengisi hari-harinya. Kebiasaan Abu Hurairah merawat dan membawa serta kucing mungil itu membuat orang-orang di sekitarnya menjulukinya “Abu Hurairah” yang berarti “bapak si kucing kecil”.
Riwayat ini disampaikan oleh Syekh 'Athiyyah Salim dalam Syarh Arbain An-Nawawiyah karyanya sebagai berikut:
وَكَنَّاهُ بِأَبِي هُرَيْرَةَ، وَهُرَيْرَةُ: تَصْغِيرُ هِرَّةٍ، قِيلَ: كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَرْعَى غَنَمًا، فَوَجَدَ هِرَّةً بَرِّيَّةً فَاحْتَمَلَهَا مَعَهُ، وَكَانَ فِي اللَّيْلِ يَضَعُهَا عَلَى غُصْنِ شَجَرَةٍ لِتَبِيتَ عَلَيْهِ، فَإِذَا جَاءَ الصُّبْحُ أَخَذَهَا وَاصْطَحَبَهَا مَعَهُ؛ مَخَافَةً عَلَيْهَا مِنَ الْوُحُوشِ، فَقِيلَ لَهُ: أَبُو هُرَيْرَةَ
Artinya, "Ia dijuluki Abu Hurairah, dan hurairah adalah bentuk kecil dari kata hirrah (kucing betina). Diceritakan bahwa pada masa jahiliah, ia menggembala kambing. Suatu ketika, ia menemukan seekor anak kucing liar, lalu membawanya. Saat malam, ia meletakkannya di dahan pohon agar bisa tidur di sana. Ketika pagi datang, ia membawanya kembali karena khawatir hewan buas akan melukainya. Maka ia pun dijuluki “Abu Hurairah”." (Salim, tanpa tahun: juz 24, h. 3)
Dalam versi lain, kecintaan Abu Hurairah terhadap kucing justru bermula setelah ia memeluk Islam. Dorongan itu muncul dari keteladanannya terhadap sabda Rasulullah, salah satunya adalah hadits terkenal tentang seorang perempuan yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing, dan hadits lain yang menyebutkan ada perempuan masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Menurut riwayat ini, sebelum masuk Islam, Abu Hurairah memelihara kucing sekadar sebagai hiburan, namun setelah masuk Islam, sikap itu berubah menjadi bentuk kasih sayang yang lahir dari dorongan iman.
Dikisahkan, suatu hari Abu Hurairah terlihat sedang bermain dengan seekor anak kucing. Ia memasukkan dan mengeluarkannya dari lengan bajunya yang longgar, hingga si kucing tampak bebas bermain di dalamnya. Rasulullah yang menyaksikan kejadian itu bertanya kepadanya, “Wahai ‘Abdurrahman, apa yang sedang kau bawa di lengan bajumu itu?” Ia menjawab, “Seekor anak kucing, wahai Rasulullah.” Sejak saat itu, Nabi pun memanggilnya dengan penuh kelembutan: “Wahai Abu Hurairah” (bapak si kucing kecil).
Berkaitan dengan riwayat ini, Syekh 'Athiyyah Salim menyampaikan:
وَقِيلَ: إِنَّ الْكُنْيَةَ كَنَّاهُ بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَآهُ يَحْمِلُ هِرَّةً صَغِيرَةً فِي كُمِّهِ، فَقَالَ: (مَا هَذَا يَا عَبْدَ الرَّحْمَٰنِ؟! قَالَ: هِرَّةٌ، قَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ!) وَقَالُوا: إِنَّ حَمْلَهُ إِيَّاهَا بَعْدَ الْإِسْلَامِ شَفَقَةٌ بِهَا، بَيْنَمَا حَمْلُهُ إِيَّاهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ تَسْلِيَةٌ، وَإِشْفَاقُهُ عَلَى الْهِرَّةِ نَاتِجٌ عَنْ اسْتِشْعَارِهِ لِلْوَاجِبِ الشَّرْعِيِّ الدَّاعِي إِلَى الرِّفْقِ بِالْحَيَوَانِ؛ إِذْ إِنَّهُ صَاحِبُ حَدِيثِ: (دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا، فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكْتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ). وَمَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ كُنْيَتَهُ أَصْبَحَتْ أَشْهَرَ وَأَعْرَفَ مِنِ اسْمِهِ عَبْدِ الرَّحْمَٰنِ.
Artinya, "Disebutkan bahwa julukan Abu Hurairah diberikan oleh Rasulullah ﷺ saat beliau melihatnya membawa seekor anak kucing kecil di lengan bajunya. Nabi bertanya, “Apa ini, wahai ‘Abdur Raḥman?” Ia menjawab, “Kucing kecil.” Maka Nabi pun bersabda, “Wahai Abu Hurairah!” Sebagian ulama mengatakan bahwa ia membawa kucing setelah masuk Islam karena rasa kasih sayang, sedangkan pada masa jahiliah karena hiburan semata."
"Rasa kasihnya terhadap kucing lahir dari kesadarannya akan kewajiban agama untuk berbuat baik kepada hewan. Bukankah ia adalah perawi hadis Nabi ﷺ tentang wanita yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing? Apa pun asal-usulnya, yang pasti, julukannya sebagai “Abu Hurairah” jauh lebih dikenal dan masyhur daripada nama aslinya, yaitu ‘Abdur Rahman'." (Salim, tanpa tahun: juz 24, h. 3)
Pemberian julukan semacam ini merupakan cerminan keakraban dan kelembutan Rasulullah dalam berinteraksi dengan para sahabatnya. Julukan bukan sekadar nama panggilan, tetapi juga bentuk kasih sayang yang menguatkan ikatan emosional di antara mereka. Hal serupa juga terjadi pada sahabat Nabi yang lain, seperti Ali bin Abi Thalib, yang dijuluki Abu Turab (bapak debu). Suatu hari, Ali tertidur di dalam masjid yang saat itu belum beralas apa pun selain tanah. Saat melihatnya berselimut debu, Rasulullah berseloroh lembut seraya memanggilnya, “Wahai Abu Turab!”
Sebagai penutup, kisah Abu Hurairah dan kucing kesayangannya bukan sekadar potongan sejarah yang menggemaskan, melainkan juga cerminan nilai Islam yang luhur tentang kasih sayang terhadap makhluk hidup. Lewat sosok Abu Hurairah, kita belajar bahwa iman bisa menyatu indah dengan kelembutan hati. Julukannya yang unik menjadi pengingat bahwa cinta, bahkan kepada seekor kucing kecil, adalah bagian dari jejak spiritual yang agung. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


