Arina.id- Beberapa hari menjelang wafat, Rasulullah SAW membentuk sebuah pasukan militer. Pasukan itu bukan sembarang pasukan. Di dalamnya terdapat para sahabat senior yang mengepalai mereka. Ia bukan tokoh tua berpengalaman melainkan seorang pemuda, yaitu Usamah bin Zayd. Usianya baru sekitar delapan belas tahun, tapi kepercayaan Nabi kepadanya sangat besar, sebagaimana kepercayaan Nabi kepada ayahnya, Zaid.
Pasukan ini diperintahkan menuju wilayah Syam sebagai respons atas terbunuhnya ayah Usamah dalam ekspedisi sebelumnya. Namun sebelum pasukan sempat meninggalkan Madinah, Rasulullah wafat. Kabar duka itu mengguncang umat. Situasi menjadi genting. Orang-orang mulai meragukan apakah pasukan ini perlu tetap diberangkatkan atau tidak, mengingat kondisi umat yang masih berduka dan belum stabil.
Dalam situasi itulah muncul suara dari kalangan kelompok Anshar agar pasukan tidak dipimpin oleh Usamah, tapi diganti dengan sosok yang lebih tua. Bahkan Umar bin Khattab diminta menyampaikan hal itu kepada Abu Bakar yang telah diangkat sebagai khalifah. Usamah sendiri menunda keberangkatan, sebab khawatir meninggalkan Madinah tanpa penjagaan cukup. Ia meminta izin kepada Abu Bakar untuk menunggu.
Umar pun menyampaikan usulan kaum Anshar tersebut. Namun, reaksi Abu Bakar sangat tegas. Ia bangkit dari duduknya, memegang janggut Umar, dan berkata dengan nada tinggi, “Rasulullah yang mengangkat Usamah menjadi pemimpin tentara, mana mungkin aku mencopotnya.” Respons ini menjadi simbol keteguhan Abu Bakar. Keputusan Rasulullah tidak boleh diganggu gugat, meski suasana berubah dan tekanan semakin besar.
Setelah itu, Abu Bakar menegaskan bahwa pasukan harus tetap berangkat di bawah komando Usamah. Bahkan, sang khalifah sendiri mengantarkan pasukan tersebut dengan berjalan kaki. Usamah yang kala itu menunggangi hewan, merasa tidak enak dan meminta Abu Bakar menunggangi hewan yang sama. Tapi Abu Bakar menolak, “Aku lebih suka kakiku berdebu di jalan Allah,” katanya.
Sebelum melepas pasukan, Abu Bakar menyampaikan nasihat panjang kepada mereka, salah satunya berkaitan dengan perintah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Berikut penulis kutipkan sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tarikhul Umam wal Muluk:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قِفُوا، أُوصِيكُمْ بِعَشْرٍ فَاحْفَظُوهَا عَنِّي:... وَلَا تَعْقِرُوا نَخْلًا، وَلَا تُحَرِّقُوهُ، وَلَا تَقْطَعُوا شَجَرَةً مُثْمِرَةً...
Artinya: “Wahai manusia, berhentilah sejenak! Aku berwasiat kepada kalian sepuluh hal, maka jagalah baik-baik dariku: … Jangan menebang pohon kurma, jangan membakarnya, dan jangan menebang pohon yang berbuah…” (Ath-Thabari, 2017: juz 2, h. 268)
Wasiat Abu Bakar ini menunjukkan bahwa meskipun dalam situasi konflik sekalipun, kita tidak boleh melampiaskan kemarahan atau kekuatan dengan merusak ruang publik, terutama yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup masyarakat setempat.
Dulu, pohon kurma merupakan salah satu sumber kehidupan terpenting bagi masyarakat Arab. Jika kebun kurma dibumihanguskan, tindakan itu jelas menyalahi prinsip kemanusiaan dan merusak keseimbangan ekosistem.
Kurma dan Semangat Kampanye Ekologis
Dalam banyak kesempatan, Rasulullah menyampaikan bahwa pohon kurma bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kampanye ekologis dalam Islam. Beliau bahkan memberikan perumpamaan bahwa seorang Muslim sejati itu laksana pohon kurma.
Dalam satu hadis diriwayatkan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي. قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ. ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: "هِيَ النَّخْلَةُ."
Artinya: “Dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dan ia menyerupai seorang Muslim. Coba kalian tebak, pohon apa itu?" Orang-orang pun menebak-nebak pepohonan yang tumbuh di padang pasir. Abdullah (Ibnu Umar) berkata: Dalam hatiku terlintas bahwa itu adalah pohon kurma, tapi aku merasa malu untuk mengatakannya. Lalu mereka berkata, "Beritahulah kami, wahai Rasulullah, pohon apa itu?" Beliau menjawab: "Itu adalah pohon kurma." (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ingin menanamkan kesadaran ekologis dengan pendekatan spiritual. Perumpamaan Muslim sejati sebagai pohon kurma mengisyaratkan pentingnya menjadi pribadi yang produktif, tangguh, dan memberi manfaat bagi lingkungan. Kurma yang tidak menggugurkan daunnya melambangkan kesinambungan hidup yang lestari, sebuah karakter ekologis yang patut dimiliki setiap Muslim dalam menjaga alam dan sesama.
Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan:
وَبَرَكَةُ النَّخْلَةِ مَوْجُودَةٌ فِي جَمِيعِ أَجْزَائِهَا، مُسْتَمِرَّةٌ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهَا، فَمِنْ حِينَ تَطْلُعُ إِلَى أَنْ تَيْبَسَ تُؤْكَلُ أَنْوَاعًا، ثُمَّ بَعْدَ ذٰلِكَ يُنْتَفَعُ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهَا، حَتَّى النَّوَى فِي عَلَفِ الدَّوَابِّ، وَاللِّيفِ فِي الْحِبَالِ، وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا لَا يَخْفَى، وَكَذٰلِكَ بَرَكَةُ الْمُسْلِمِ عَامَّةٌ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ، وَنَفْعُهُ مُسْتَمِرٌّ لَهُ وَلِغَيْرِهِ حَتَّى بَعْدَ مَوْتِهِ.
Artinya: “Keberkahan pohon kurma mencakup seluruh bagiannya dan berlangsung terus-menerus dalam setiap fase kehidupannya. Sejak mulai tumbuh hingga mengering, buahnya bisa dinikmati dalam berbagai bentuk. Setelah itu pun, seluruh bagian pohon tetap bermanfaat: bijinya menjadi pakan ternak, sabutnya digunakan sebagai tali, dan banyak manfaat lain yang tak tersembunyi. Demikian pula seorang Muslim, keberkahannya meluas dalam segala keadaan dan manfaatnya terus dirasakan oleh dirinya dan orang lain, bahkan setelah ia wafat.” (Ibnu Hajar, 1986: juz 1, h. 174)
Penjelasan Ibnu Hajar ini menegaskan bahwa simbolisasi kurma oleh Nabi bukanlah perumpamaan biasa, melainkan gambaran mendalam tentang keteladanan ekologis dan sosial yang melekat pada diri seorang Muslim. Layaknya pohon kurma yang setiap bagiannya membawa manfaat hingga akhir hayatnya, demikian pula seorang Muslim sejati, keberadaannya selalu menebar manfaat, bahkan setelah ia tiada. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


