Dark
Light
Dark
Light

Mengenal Maqam ‘Ubudiyah, Identitas Spiritual saat Nabi Muhammad Isra Mi’raj

Mengenal Maqam ‘Ubudiyah, Identitas Spiritual saat Nabi Muhammad Isra Mi’raj

 

Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar pengalaman spiritual biasa, melainkan sebuah kejadian agung yang mengandung hikmah mendalam dan menjadi sumber teladan yang tak ternilai bagi umat Islam. Salah satu nilai yang diajarkan dalam peristiwa ini adalah sikap tawadhu (rendah hati) Rasulullah dan hakikat spiritual manusia di hadapan Allah SWT. 

Peristiwa Isra Mi’raj diabadikan pada ayat Al-Qur’an Surat Al-Isra [17] ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat di atas menjelaskan peristiwa Isra, yaitu ketika Allah memperjalankan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebuah perjalanan luar biasa untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Dalam ayat ini, Nabi Muhammad disebut dengan identitas ‘abdun, yang berarti seorang hamba, bukan dengan gelar lain yang lebih prestisius seperti nabi, rasul, atau kekasih Allah. Hal ini memiliki makna mendalam dan menjadi teladan bagi umat manusia.

Pemilihan, kata ‘abdun menunjukkan betapa Rasulullah mengedepankan sikap tawadhu (rendah hati) di hadapan Allah. Sebagai hamba, beliau menerima sepenuhnya peran sebagai makhluk yang tunduk dan patuh kepada Tuhannya, tanpa rasa bangga berlebihan atas kedudukannya yang mulia. Identitas sebagai ‘abdun juga menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan pengabdian yang penuh ketundukan dan keikhlasan.

Selain itu, istilah ‘abdun mengingatkan bahwa kemuliaan sejati di sisi Allah tidak ditentukan oleh status atau gelar, melainkan oleh kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan ibadah dan mengabdi kepada-Nya. Rasulullah, meskipun menjadi manusia pilihan, tetap mengajarkan umatnya untuk mengutamakan pengabdian kepada Allah di atas segalanya. 

Dalam sebuah riwayat pernah dikisahkan ketika Nabi Muhammad diberi pilihan ingin menjadi seorang nabi sekaligus raja atau seorang hamba yang diutus. Atas dasar tawadhu kemudian Rasulullah memilih menjadi hamba yang diutus. Berikut riwayatnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ فَقَالَ جِبْرِيلُ إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ قَالَ أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ أَوْ عَبْدًا رَسُولًا قَالَ جِبْرِيلُ تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ قَالَ بَلْ عَبْدًا رَسُولً.

Artinya, “Dari Abu Hurairah, dia berkata: "Jibril pernah duduk di samping Nabi SAW, lalu ia melihat ke langit, dan tiba-tiba ada malaikat yang turun dari langit. Maka Jibril pun berkata, 'Sesungguhnya malaikat ini belum pernah turun sejak diciptakan beberapa saat yang lalu.' Kemudian, ketika malaikat itu turun, ia berkata, 'Wahai Muhammad, Rabbmu telah mengutusku kepadamu.' 

Dia bertanya, 'Apakah kamu ingin Rabbmu menjadikanmu seorang raja dan seorang Nabi, ataukah seorang hamba dan seorang utusan?' Lalu Jibril menyela, 'Bertawadhulah kamu kepada Rabb-mu, wahai Muhammad.' Beliau pun menjawab, 'Seorang hamba dan seorang utusan.'" (HR Ahmad)

Nilai Fundamental Spiritual

Identitas hamba (‘abdun) yang dipilih Nabi bukan sebatas bentuk ketawadhuan, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang sangat fundamental. Sebab, identitas ini menunjukkan hakikat maqam (level) ‘ubudiyah. Maqam ini terletak pada kesadaran seorang hamba akan posisi sejatinya di hadapan Allah. 

Menurut Al-‘Aufi, sifat uluhiyah (keilahian), sayadah (kepemimpinan mutlak), dan rububiyah (ketuhanan) secara hakiki hanya milik Allah Swt. Tidak ada makhluk yang berhak menyandang sifat-sifat tersebut karena semuanya merupakan milik Allah secara mutlak. 

Sebaliknya, ‘ubudiyah (penghambaan) adalah kedudukan yang hakiki bagi semua makhluk selain Allah. Dengan demikian, seorang hamba berada pada maqam yang sebenarnya ketika ia menyadari dan menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah. (Ays-Syami, tanpa tahun: juz 3, h. 9)

Maqam ‘ubudiyah menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan tujuan diciptakannya manusia di dunia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Menurutnya, jika hidup di dunia tidak diisi dengan ibadah atau ibadah dianggap remeh, maka kehidupan itu menjadi sia-sia tanpa makna. 

Ar-Razi juga menegaskan bahwa para nabi diutus hanya untuk dua tujuan besar, yaitu beribadah kepada Allah dan menyampaikan hidayah kepada umat manusia. Jika umat tidak menerima hidayah atau ajakan mereka, tugas seorang nabi tetap belum gugur sepenuhnya, karena kewajiban beribadah kepada Allah adalah hal yang mutlak dan selalu melekat.

Dalam perepsktif tasawuf, yang lebiih esensial dan fundamental dari ibadah adalah ‘ubudiyah. Sebab, 'ubudiyah adalah jiwa dari ibadah itu sendiri. Jika ibadah adalah manifestasi lahiriah, maka 'ubudiyah adalah ruh dan inti dari pengabdian kepada Allah. Dalam konsep ini, seorang hamba dinilai telah mampu mencapai maqam ‘ubdudiyah ketika ia bisa melepaskan dirinya dari kehendak pribadi dan menerima sepenuhnya apa yang telah Allah takdirkan. (Ar-Razi, tanpa tahun: juz 28, h. 231)

Maka, dalam ibadah terdapat konsep taklif atau "beban spiritual," yaitu tuntutan untuk melampaui keinginan pribadi demi menjalankan perintah Allah. Salah satu contohnya terlihat saat waktu subuh tiba. Ketika itu, tubuh kita secara alami masih merasa ngantuk dan cenderung ingin melanjutkan tidur. Namun, sebagai seorang hamba, kita dituntut untuk melawan rasa malas tersebut dengan bangun, mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat subuh. 

Hal ini menggambarkan perjuangan seorang hamba dalam menempatkan kehendak Allah di atas kehendak pribadinya. Taklif bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk pengorbanan dan kesadaran spiritual yang mendidik manusia untuk disiplin, tunduk, dan patuh kepada Sang Pencipta. Melalui taklif ini, ibadah menjadi sarana mendisiplinkan diri dan mendekatkan hati kepada-Nya.

'Ubudiyah menuntut seorang hamba untuk meninggalkan keinginan pribadi yang bertentangan dengan kehendak Allah serta tidak membantah ketentuan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa puncak dari maqam 'ubudiyah adalah penyerahan total kepada Allah, baik dalam bentuk kepasrahan maupun penerimaan terhadap segala sesuatu yang Allah kehendaki.

Kesimpulannya, dari peristiwa Isra Mi’raj kita belajar bahwa maqam ‘ubudiyah adalah inti dari hubungan spiritual manusia dengan Allah SWT. Identitas sebagai seorang hamba (‘abdun) yang dipilih Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan agung tersebut mengajarkan nilai tawadhu, kesadaran penuh akan kedudukan kita di hadapan Allah, dan pentingnya menempatkan kehendak Allah di atas segala keinginan pribadi. 

Melalui maqam ini, kita diajak untuk menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan, menjadikan penghambaan sebagai tujuan utama hidup, dan memahami bahwa kemuliaan sejati hanya bisa dicapai melalui pengabdian total kepada Sang Pencipta. Peristiwa ini bukan sekadar pelajaran sejarah, tetapi juga sebuah panduan spiritual abadi bagi umat manusia. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo