Dark
Light
Dark
Light

Kisah Doa Orang Sufi Tertolak Akibat Makanan Syubhat

Kisah Doa Orang Sufi Tertolak Akibat Makanan Syubhat

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai seorang sufi terkemuka, doanya pun selalu dikabulkan. Namun siapa sangka di suatu hari doanya tertolak akibat mengonsumsi makanan syubhat, padahal itu terjadi tanpa ada unsur kesengajaan sedikit pun.

Dikisahkan, saat berada di Makkah, Ibrahim bin Adham membeli sejumlah kurma kepada seorang kakek. Setelah transaksi berlangsung, ia melihat ada 2 buah kurma yang terjatuh di tanah. Tidak lama kemudian kurma itu pun diambil dan dimakan karena ia pikir kurma itu adalah miliknya yang terjatuh setelah ditimbang.

Usai membeli kurma, Ibrahim melanjutkan perjalanannya menuju Masjidil Aqsha Palestina, di sana ia akan khalwat di Qubbatus Shakra. Saat melakukan khalwat, terdengar ada 2 suara yang sedang berdialog.

"Dia Ibrahim bin Adham dari Khurasan, doanya selalu dikabulkan oleh Allah," bunyi suara yang terdengar Ibrahim bin Adham.

Sesaat kemudian terdengar suara lain yang menyahut.

"Tidak, doanya sudah tidak manjur lagi sejak ada nutrisi dari 2 buah kurma yang mengalir dalam tubuhnya," jawab suara lainnya.

Mendengar dialog tersebut Ibrahim bin Adham merasa terpukul dan menyadari bahwa 2 buah kurma yang dimakan saat di Makkah itu bukan milikhya, melainkan milik si kakek pedagang kurma.

Tidak menunggu lama, Ibrahim bin Adham langsung bergegas menuju Makkah. Tujuannya hanya satu, meminta kepada si kakek penjual kurma agar menghalalkan 2 buah kurma yang dulu ia makan.

Sayangnya, saat berada di Makkah Ibrahim bin Adham tidak menemukan si kakek. Penjaga tokonya sudah diganti oleh seorang pemuda. Merasa penasaran, ia pun menanyakan keberadaan si kakek.

"Itu ayahku, sekarang dia sudah meninggal," jawab pemuda itu.

Ibrahim bin Adham kemudian menyampaikan maksudnya agar kurma yang dulu dimakan bisa menjadi halal.

"Bagianku yang ada dalam 2 kurma itu sudah aku halalkan untukmu. Tapi entah untuk bagian ibuku dan saudara perempuanku," jawab pemuda itu.

"Tolong katakan di mana ibumu dan saudara perempuanmu itu? Aku akan menyampaikan permohonan yang sama kepada mereka," ujar Ibrahim bin Adham.

"Mereka ada di rumah," jawab pemuda itu.

Setelah mendapatkan alamatnya, Ibrahim bin Adham segera meluncur menemui 2 orang perempuan yang tiada lain adalah istri dan anak dari kakek penjual kurma itu.

Ketika sampai rumah yang dituju, Ibrahim langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tidak lama kemudian terdengar seorang nenek menjawab salam dan muncul dari balik pintu.

"Kamu siapa dan ada keperluan apa datang kemari?" tanya si nenek.

Ibrahim kemudian menjelaskan maksud tujuannya bertamu adalah untuk memohon agar nenek itu menghalalkan kurma yang dulu dimakan oleh Ibrahim.

"Bagianku yang ada dalam kurma itu sudah aku halalkan untukmu," tegas si nenek.

Ibrahim kemudian menyampaikan permohonan yang sama kepada anak perempuannya yang kebetulan sedang ada di rumah.

"Aku pun demikian, bagianku yang ada dalam kurma itu sudah aku halalkan untukmu," jawab perempuan itu.

Betapa lega dan bahagianya Ibrahim bin Adham usai mendapat jawaban dari keluarga si kakek penjual kurma. Ia sudah terbebas dari "racun" kurma syubhat yang dulu ia makan.

Ibrahim bin Adham pun kembali ke Palestina untuk melanjutkan khalwatnya. Saat melakukan khlawat di Qubbatus Sakhra, ia kembali mendengar suara yang mirip dengan suara sebelumnya.

"Itu Ibrahim bin Adham, dulu amal dan doanya tertolak karena 'kasus' 2 buah kurma. Sekarang amalnya sudah diterima, doanya pun kembali manjur dan Allah sudah mengembalikan derajatnya," cetus suara yang terdengar Ibrahim bin Adham.

Kisah Ibrahim bin Adham ini diungkap oleh Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir fi Hikayatis Shâliḫîn wa ‘Ajâ’ibil Mutaqaddimin (Kairo, Darul Afaq al-Arabiyah, 2010), halaman 52-53.

Dari kisah ini kiranya dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa makanan mempunyai pengaruh besar pada amal dan nasib seseorang. Mengonsumsi makanan syubhat saja, amal dan doa menjadi tertolak, apalagi untuk makanan yang haram tentu akan lebih dari itu.

Mengingat hal tersebut, kiranya penting menjaga diri dan keluarga dari makanan syubhat, apalagi makanan haram. Entah itu zatnya yang memang haram, seperti bangkai, minuman keras, dan sebagainya, atau proses yang diperoleh secara haram seperti hasil mencuri, menipu, judi, dan sebagainya. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo