Dark
Light
Dark
Light

Kisah Utusan Umar bin Abdul Aziz yang Berkhianat dan Berakhir Tragis

Kisah Utusan Umar bin Abdul Aziz yang Berkhianat dan Berakhir Tragis

Arina.id - Integritas dalam kehidupan beragama dan bernegara menjadi nilai penting bagi seorang muslim. Pasalnya, ketika hal itu tidak dimiliki bisa memudahkannya dalam berkhianat dan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan merusak kepercayaan orang lain. Hal ini sebagaimana terjadi dan dialami oleh salah satu utusan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Abu Bakar dalam kitab Al-Mawa'idzul 'Ushfuriyyah (Semarang: Toha Putra, t.t), halaman 23.

Dikisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia mengutus sejumlah pasukan untuk menyerbu Romawi. Sayangnya, kekuatan pasukan Romawi saat itu terlalu tangguh sehingga pasukan muslim tidak mampu menaklukkannya. Sebagian prajurit yang masih hidup akhirnya ditawan dan diberikan pilihan untuk menentukan nasibnya.

Kaisar Romawi memanggil salah seorang tawanan dan memerintahkannya agar memeluk agama bangsa Romawi yang menyembah berhala. Dengan nada penuh ancaman, kaisar itu berkata:

“Jika kamu masuk agamaku dan bersujud kepada berhala, aku akan menjadikanmu pemimpin di kota besar dan memberikanmu kekuasaan dan berbagai fasilitas. Tapi jika kamu menolak, aku akan membunuhmu dan memenggal kepalamu,” tegas kaisar.

“Aku tidak akan menjual agamaku dengan harga dunia,” jawab tawanan muslim itu tegas.

Jawaban itu membuat kaisar murka dan memerintahkan algojo agar segera mengeksekusinya di lapangan. Proses eksekusi ini disaksikan oleh tawanan muslim lainnya, tujuannya tentu saja agar mereka ketakutan dan akhirnya meninggalkan agama Islam. 

Kaisar kemudian memanggil tawanan kedua, ia melontarkan pertanyaan dan opsi yang sama sebagaimana sebelumnya.

“Masuklah ke dalam agamaku, aku akan menjadikanmu pemimpin di kota ini. Jika tidak mau, maka aku akan memenggal kepalamu sebagaimana aku telah memenggal kepala sahabatmu,” tegas Kaisar.

Rayuan kaisar ini rupanya tidak mampu meluluhkan keimanan dalam hati tawanan muslim yang ada di hadapannya.

“Aku tidak akan menjual agamaku dengan harga dunia. Jika Anda memiliki kuasa untuk memenggal kepalaku maka sesungguhnya Anda tidak punya kuasa memotong keimananku,” jawabnya penuh keyakinan.

Jawaban itu membuat kaisar marah, dia langsung memberi perintah kepada algojo untuk mengeksekusi tawanan kedua itu di lapangan dan disaksikan oleh tawanan lain. Dua orang yang dieksekusi pun ini akhirnya meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Selanjutnya, tiba lah saatnya kaisar memerintahkan prajuritnya untuk menghadirkan tawanan ketiga. Dia berkata:

“Apa yang akan kamu katakan? Apakah kamu akan masuk ke dalam agamaku? Kalau mau, aku akan menjadikanmu pemimpin,”

Nahasnya, tawanan ketiga ini malah terbujuk pada rayuan sang kaisar. 

“Aku siap masuk ke dalam agamamu dan memilih dunia daripada akhirat,” jawabnya.

Jawaban dari tawanan ketiga ini membuat hati kaisar senang, dia kemudian memerintahkan pada menterinya untuk segera menunaikan janji yang ditawarkan pada tawanan tersebut. 

“Tolong catat dan beri dia pakaian kehormatan, genderang, dan bendera kekuasaan,” kata kaisar pada menterinya.

Perintah ini tidak langsung dilaksanakan, menteri tidak langsung percaya begitu saja karena ingin melihat keseriusan tawanan itu. Dia pun memberitahu pada kaisar agar menguji terlebih dahulu untuk membuktikan kesungguhannya.

“Wahai Kaisar, katakan kepadanya: jika kamu betul-betul serius dengan pernyataanmu, bunuhlah salah satu sahabatmu. Jika kamu melakukannya maka kami akan percaya dengan pernyataanmu,” bisik menteri pada kaisar.

Karena alasannya cukup logis, kaisar pun setuju dengan usulan menterinya itu. Dia pun langsung memerintahkan tawanan ketiga itu agar membunuh salah satu sahabatnya.

Tawanan ketiga ini kemudian menyeret salah satu sahabatnya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengeksekusinya di hadapan kaisar. Melihat kejadian itu, Kaisar memerintahkan menterinya untuk segera memberikan fasilitas yang telah dijanjikan sebelumnya. 

Lagi-lagi menteri tidak langsung melaksanakan perintah itu, dia kemudian berbisik kepada kaisar: 

“Ini tidak masuk akal, bagaimana kita bisa percaya dengan pernyataannya. Masalahnya, dia berani mengkhianati sahabatnya sendiri yang lahir dan tumbuh bersamanya. Apakah Anda yakin suatu saat nanti dia tidak akan mengkhianati kita?”

Rupanya, pernyataan menteri itu membuat kaisar tidak percaya dengan pengakuan tawanan ketiga ini. Akhirnya, kaisar memerintahkan algojo untuk membunuhnya dan dia pun mati dengan tragis dalam keadaan suul khatimah.

***

Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga dan meningkatkan keimanan agar tidak mudah tergoda dengan rayuan duniawi yang bersifat fana. Keimanan yang kokoh bisa menjadi benteng untuk melindungi diri dari manisnya godaan harta, kekuasaan, dan kenikmatan dunia lainnya serta mendatangkan kemuliaan baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana didapatkan oleh dua tawanan pertama. 

Selain itu, kisah ini juga mengajarkan tentang pentingnya memiliki integritas, baik dalam kehidupan beragama, bernegara, maupun dalam hubungan sosial lainnya. Orang yang tidak punya prinsip dan integritas akan sulit mendapat kepercayaan orang lain, pada akhirnya akan membawa kehancuran dan kehinaan pada dirinya sendiri, sebagaimana yang dialami oleh tawanan ketiga dalam kisah di atas. Wallahu a‘lam.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo