Dalam sejarah Islam, Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai seorang pemimpin adil dan penuh integritas. Saat ia menjabat sebagai khalifah Dinasti Umayah, kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz cukup menonjol karena ia menjalankan pemerintahan dengan prinsip keadilan, kesederhanaan, dan memiliki kepedulian terhadap rakyatnya.
Di sisi lain, nama Umar bin Abdul Aziz sering disandingkan dengan Umar bin Khattab karena keduanya dikenal sebagai sosok pemimpin yang adil, bijaksana, dan memiliki perhatian besar terhadap rakyatnya. Meskipun keduanya tidak hidup sezaman, namun salah seorang cucu Umar bin Khattab yang dikenal sebagai ulama zuhud, Salim bin Abdullah bin Umar, pernah memberi nasihat ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah.
Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Uyunul Hikayat, (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971], halaman 79 mengisahkan, ketika baru dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz merasa galau karena sebenarnya ia tidak menghendaki jabatan tersebut. Untuk meredam kondisi psikologisnya yang berkecamuk, ia menyurati Salim bin Abdullah agar memberikan nasihat, hikmah, dan rekomendasi dari kepemimpinan Umar bin Khattab.
“Jika surat ini telah sampai kepadamu, kirimkanlah kepadaku catatan-catatan tentang pemerintahan Umar bin Khattab, sirah, dan cara dia memutuskan perkara bagi ahli kiblat maupun ahli dzimmah karena saya ingin bertindak seperti dirinya dan mengikuti jejaknya, Insya Allah,” demikian poin penting dari surat Umar bin Abdul Aziz tersebut.
Beberapa saat kemudian, Umar bin Abdul Aziz menerima surat balasan dari Salim bin Abdullah dengan rangkaian kalimat yang Indah. Dalam surat tersebut disampaikan sejumlah nasihat penting, di antaranya adalah bahwa Allah telah menetapkan takdir kepada semua orang, termasuk Umar bin Abdul Aziz yang telah ditakdirkan Allah menjadi seorang khalifah.
Selanjutnya, Salim bin Abdullah juga mengingatkan bahwa hidup di dunia ini cukup singkat dan pada akhirnya semua makhluk Allah akan binasa. Untuk itu, sebaiknya sisa waktu hidup di dunia ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Allah berfirman dalam surat Al-Qashash ayat 88:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَࣖ
Artinya: “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Salim bin Abdullah juga memberikan nasihat agar Umar bin Abdul Aziz senantiasa hidup sederhana dan tidak berlebihan serta selalu mengingat dengan hari pembalasan. Dengan begitu, akan menumbuhkan sikap hati-hati dalam melakukan atau membuat kebijakan.
“Wahai Umar bin Abdul Aziz, saat ini engkau telah diberikan jabatan yang sangat tinggi. Jika engkau bisa mengikuti langkah orang sebelummu dan tidak membuat rugi dirimu dan keluargamu di hari kiamat kelak, maka lakukanlah pekerjaanmu itu. Jika engkau mampu membuka pintu kesejahteraan untuk mereka, maka lakukanlah. Karena jika engkau membuka satu pintu kesejahteraan bagi mereka, niscaya Allah akan tutupkan satu pintu bencana bagi mereka,” saran Salim dalam surat tersebut.
Lebih lanjut Salim bin Abdullah mendorong agar Umar bin Abdul Aziz bisa meyakinkan para pejabat yang ada di lingkungannya untuk senantiasa bekerja hanya untuk Allah. Jika sudah demikian, semua program pemerintah bisa berjalan dengan lancar dan akan ada pertolongan ketika di perjalanan terjadi hambatan.
“Barangsiapa yang niatnya lurus, niscaya pertolongan Allah akan datang kepadanya. Barangsiapa yang niatnya tidak lurus, niscaya pertolongan itu tidak sempurna datangnya,” jelas Salim dalam surat itu.
Selanjutnya, Salim bin Abdullah juga mengingatkan bahwa kehidupan di zaman Umar bin Abdul Aziz berbeda dengan kehidupan di zaman Umar bin Khattab. Dengan demikian, Umar bin Abdul Aziz perlu menyesuaikan diri dengan zaman. Ia juga berpesan agar Umar bin Abdul Aziz selalu tawadlu dan tidak merasa lebih baik dari Umar bin Khattab.
Demikian kisah dan beberapa nasihat dari Salim bin Abdullah kepada Umar bin Abdul Aziz yang merasa galau usai dilantik menjadi khalifah. Setelah mendapat pencerahan tersebut, Umar bin Abdul Aziz pun menjalankan roda kepemimpinannya sesuai arahan dari Salim bin Abdullah, hingga akhirnya ia mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah kepemimpinan Islam.
Meski nasihat ini ditujukan kepada Umar bin Abdul Aziz yang hidup ratusan tahun silam, namun nilai dan petuahnya masih tetap relevan untuk para pejabat yang baru dilantik menjadi pemimpin di negeri ini. Di antaranya adalah agar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, apalagi periode jabatan pemimpin di Indonesia cukup singkat, yaitu 5 tahun.
Para pemimpin juga hendaknya selalu memiliki hati yang lurus karena Allah. Ketika bekerja dilandasi dengan niat yang suci karena Allah, seberat apapun pekerjaan niscaya semuanya akan terasa ringan. Ketika terjadi terjadi kesulitan di perjalanan, akan datang pertolongan dari Allah dengan sistem dan cara-Nya sendiri.
Selanjutnya, seorang pemimpin juga hendaknya selalu mimikirkan kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan pribadi atau keluarganya. Dalam satu riwayat disebutkan, semua kekayaan Umar bin Abdul Aziz disalurkan dan dimasukan ke dalam kas negara untuk membantu program pemerintah.
Selain itu, pemimpin juga mestinya bisa hidup sederhana dan selalu ingat dengan hari pembalasan. Ketika hal ini terus tertanam, tentu akan bersikap lebih hati-hati dalam menerima harta karena semua harta tersebut akan dihisab dan dibalas dengan balasan yang setimpal. Jangankan kelak di akhirat, terkadang di dunia ini pun balasan tersebut datang tanpa diduga sebelumnya. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


