Beragam platform media sosial kini telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia di era modern. Dari pagi hingga malam, secara terus-terusan tersaji berbagai informasi, berita, dan cerita yang menarik perhatian kita. Namun, di balik kemudahan akses informasi tersebut, muncul fenomena "clickbait" yang seringkali menyesatkan pembaca dengan judul yang provokatif demi mendapatkan klik dan tayangan.
Clickbait, dalam banyak kasus, bertujuan untuk menarik perhatian pembaca dengan cara apapun, bahkan jika perlu sampai rela menyajikan informasi yang tidak akurat dan menyesatkan. Berita yang menggunakan judul clickbait ini diketahui seringkali memiliki kredibilitas dan kualitas informasi yang rendah (Molyneux & coddington, 2020). Sehingga tidak jarang ditemukan berita dengan judul tidak sesuai dengan isi berita. Padahal konteks ‘Clickbait’ ini seharusnya hal-hal positif dan ujaran perkataan baik yang seharusnya dimasifkan dan diviralkan.
Al-Baqarah ayat 263 mengingatkan dan memberikan kita petunjuk berharga. Ayat tersebut mengajarkan: "Sebuah perkataan yang baik dan pengampunan lebih berharga daripada sedekah yang diiringi dengan kata-kata yang menyakiti." Dalam konteks media sosial, ayat ini mengajak kita untuk berkomunikasi dengan baik, jujur, berintegritas, dan penuh empati.
Bayangkan jika setiap konten yang kita bagikan di media sosial diilhami oleh prinsip-prinsip Al-Baqarah 263. Konten yang informatif, jujur, dan bermanfaat akan mendominasi aliran berita kita, menggantikan clickbait yang menyesatkan. Ini bukan hanya tentang menghindari informasi palsu, tetapi juga tentang menyebarkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan di dunia digital.
Kemudian, bagaimana kita bisa mewujudkan hal tersebut? Pertama, kita harus selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Kedua, kita harus berkomitmen untuk berkomunikasi dengan empati dan kejujuran, menghindari kata-kata yang dapat menyakiti atau menyesatkan orang lain. Dan ketiga, kita harus mengingat bahwa setiap kata yang kita bagikan di media sosial memiliki dampak, baik itu positif atau negatif.
Menafsirkan Al-Baqarah 263, As-Sya'adi mengajarkan kita tentang empat tingkatan kebaikan. Pada tingkat tertinggi, kita diajarkan tentang pentingnya niat yang tulus saat berinfak atau bersedekah, di mana pemberian tersebut tidak diikuti dengan rasa riya atau menyakiti penerima. Ini adalah bentuk kebaikan yang paling murni, di mana kita memberi tanpa mengharapkan balasan atau pujian.
Kemudian kedua, ada kebaikan melalui perkataan atau "qaul ma'ruf". Ini mencakup semua bentuk komunikasi positif, seperti memberikan semangat, meminta maaf, atau bahkan menolak permintaan dengan cara yang sopan dan menghormati.
Tingkat ketiga adalah kebaikan melalui pengampunan. Di era media sosial saat ini, di mana kesalahan seseorang bisa dengan mudah tersebar dan menjadi viral, kemampuan untuk mengampuni menjadi semakin penting. Ini adalah bentuk kebaikan yang membebaskan hati dari dendam dan memberikan kedamaian kepada jiwa.
Sedangkan tingkat keempat, meskipun memiliki niat baik, tetapi bersedekah dengan cara yang dapat menyakiti penerima, dianggap kurang sempurna. Ini mengingatkan kita bahwa niat baik saja tidak cukup, tetapi cara kita menyampaikannya juga menjadi hal penting. Niat baik namun dilakukan dengan cara yang tidak baik, maka hasilnya pun akan tidak baik.
Di balik semua ini, kita diingatkan tentang sifat Allah yang Maha Kaya dan Maha Penyantun. Meskipun Allah tidak memerlukan sedekah atau amal kita, Dia tetap memberikan kita petunjuk tentang bagaimana cara berbuat baik dengan cara yang paling sempurna. Allah Maha Penyantun, yang meskipun memiliki kekuasaan untuk menghukum, Dia memilih untuk bersabar dan memberikan kita kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Di Era 5.0 di mana kita hidup saat ini adalah sebuah zaman di mana teknologi digital telah merajalela, mengubah setiap aspek kehidupan kita. Dari cara kita berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga berinteraksi dengan orang lain, semuanya telah bertransformasi. Namun, di tengah kemajuan teknologi yang memukau ini, seringkali kita terjebak dalam kecepatan informasi dan lupa akan esensi sejati dari komunikasi: menyampaikan pesan dengan empati, kejujuran, dan kebaikan.
Al-Baqarah 263 bukan hanya sebuah ayat, melainkan sebuah kompas moral bagi kita semua, terutama di era digital saat ini. Ayat ini mengajak kita untuk tidak hanya berbicara, tetapi berbicara dengan hati, dengan penuh pertimbangan, dan dengan empati yang mendalam.
Bayangkan dunia digital yang penuh dengan kata-kata positif, dukungan, dan pengertian. Bayangkan bagaimana perasaan seseorang yang sedang kesulitan ketika membaca kata-kata penuh semangat dan dukungan dari Anda. Itulah kekuatan komunikasi yang diajarkan oleh Al-Baqarah 263. Kita semua memiliki kekuatan untuk membuat perubahan, untuk menjadikan era 5.0 lebih dari sekadar teknologi, tetapi era di mana kebaikan dan kasih sayang menjadi hal yang paling utama.
Sebagai kesimpulan, di tengah kemajuan teknologi yang pesat, mari kita jangan lupa untuk selalu menyebarkan kebaikan. Dengan mengambil inspirasi dari Al-Baqarah 263, kita bisa menjadikan dunia digital sebagai tempat yang lebih hangat, lebih inklusif, dan lebih penuh kasih sayang.
Di tengah maraknya clickbait dan informasi palsu di media sosial, Al-Baqarah 263 memberikan kita petunjuk tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan integritas, kejujuran, dan empati. Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menjadikan media sosial sebagai platform yang positif, inklusif, dan bermanfaat bagi semua orang. Dengan demikian, kita bisa memastikan bahwa era digital kita penuh dengan kebaikan, kebenaran, dan kasih sayang.
Puji Raharjo, Kepala kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


