Arina.id- Ali bin Abi Thalib merupakan sosok sahabat Nabi sekaligus seorang pemimpin yang sangat inspiratif. Hidup sebagai seorang menantu Nabi, tidak menjadikannya sebagai privilege untuk hidup mewah dan mendapatkan perlakuan istimewa di tengah umat. Dalam kesederhanaannya, ia justru hobi berbagi dengan lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat dibanding keluarganya sendiri. Berikut adalah kisah saat Ali memberikan harta satu-satunya untuk orang-orang miskin.
Kisah ini disampaikan oleh Ibnu Abil ‘id Al-Maliki dalam Hilyatul Kurama wa Bahjatun Nudama. Diriwayatkan bahwa suatu malam, Ali bin Abi Thalib bersama istri, anak-anaknya Hasan dan Husain, serta pembantunya tidak memiliki makanan untuk dimakan. Ketika pagi tiba, Fatimah (istrinya) memberikan selendangnya agar dijual dan mereka bisa membeli makanan dengan uang hasil penjualannya. Ali pun menjual selendang itu seharga enam dirham.
Di tengah jalan pulang, Ali bertemu dengan sekelompok orang yang hampir mati kelaparan. Ali merasa iba dan memberikan keenam dirham itu kepada mereka, lebih mengutamakan mereka daripada dirinya, istri, dan anak-anaknya. Tidak lama setelah itu, seorang pria datang dengan seekor unta dan menyapa Ali.
"Wahai Abu Hasan, apakah Anda ingin membeli unta ini?" pria itu bertanya.
"Tentu saja, jika aku punya uangnya," jawab Ali.
"Ambillah unta ini secara kredit dan bayarlah ketika Allah memberi Anda rezeki," ujar pria itu
"Berapa harganya?" tanya Ali.
Pria itu menjawab bahwa harga untanya seratus dirham. Ali pun setuju, mengambil unta tersebut, lalu beranjak pergi.
Tidak lama kemudian, Ali bertemu dengan pria lain yang bertanya apakah ia ingin menjual unta itu. Ali menjawab ya, dan pria itu bertanya harganya.
“Seratus dirham,” jawab Ali.
"Aku akan membelinya darimu dengan keuntungan enam puluh dirham,” kata pria itu.
Ali pun setuju dan menjual unta itu seharga seratus enam puluh dirham kepada pria tersebut.
Ali kemudian menemui pria pertama yang menjual unta itu kepadanya. Pria itu bertanya:
"Wahai Abu Hasan, di mana unta itu?"
Ali menjawab bahwa dia telah menjualnya. Pria itu meminta haknya, dan Ali membayarnya seratus dirham. Ali pulang ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada Fatimah, berkata:
"Aku berdagang dengan Allah dengan enam dirham, dan Dia memberiku enam puluh dirham, sepuluh dirham untuk setiap dirham." jelas Ali pada istrinya, Fatimah.
"Kita tidak akan makan dari uang ini sampai kita bertanya kepada Rasulullah ﷺ." Tegas Fatimah.
Singkat cerita, mereka segera menanyakan hal ini kepada Rasul, beliau kemudian menjawab:
أَبْشِرْ يَا عَلِيُّ، تَاجَرْتَ مَعَ اللَّهِ فَأَرْبَحَكَ، فَالْبَائِعُ جِبْرِيلُ، وَالْمُشْتَرِي مِيكَائِيلُ، وَالنَّاقَةُ مَرْكَبُ فَاطِمَةَ فِي الْجَنَّةِ، يَا عَلِيُّ أُعْطِيتَ ثَلَاثًا لَمْ يُعْطَهَا غَيْرُكَ، لَكَ زَوْجَةٌ سَيِّدَةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَوَلَدَاكَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَلَكَ صِهْرٌ هُوَ سَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ، فَاشْكُرِ اللَّهَ عَلَى مَا أَعْطَاكَ وَاحْمَدْهُ فِيمَا أَوْلَاكً
Artinya, "Bergembiralah, wahai Ali, engkau telah berdagang dengan Allah dan mendapat keuntungan. Penjualnya adalah Jibril, pembelinya adalah Mikail, dan unta itu adalah kendaraan Fatimah di surga.”
“Wahai Ali, engkau telah diberi tiga hal yang tidak diberikan kepada orang lain: engkau memiliki istri seorang wanita pemimpin ahli surga, anak-anakmu adalah pemimpin pemuda ahli surga, dan engkau memiliki mertua seorang pemimpin para rasul. Bersyukurlah kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadamu dan pujilah Dia atas apa yang telah Dia anugerahkan kepadamu." (Ibnu Abil ‘Id, 2010: h. 95-96).
***
Dari kisah inspiratif ini bisa diambil hikmah bahwa kepedulian terhadap orang yang tidak berpunya lebih utama daripada kepentingan pribadi. Ali bin Abi Thalib menunjukkan keteladanan dalam sikapnya yang lebih mengutamakan orang lain meskipun dirinya sendiri dalam keadaan sulit. Peristiwa ini mengajarkan tentang keutamaan berbagi rezeki, di mana Allah menjanjikan balasan berlipat bagi mereka yang membantu sesama dengan penuh keikhlasan dan keimanan.
Saat Ali menyedekahkan uang enam dirham yang menjadi harta satu-satunya yang ia miliki, Allah membelasnya dengan imbalan enam puluh dirham. Sepuluh kali lipat dibanding uang yang ia dermakan. Hal ini sesuai dengan rumus balasan kebaikan dalam ayat Al-Qur’an berikut:
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Artinya, “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).” (QS Al-An’am: 160)
Dari kisah ini juga bisa dipetik hikmah bahwa keyakinan kepada Allah menjadi kunci dalam menghadapi kesulitan hidup. Ali dengan ikhlas memberikan seluruh hartanya tanpa ragu, dan Allah langsung membalasnya dengan rezeki berlipat. Ini mengajarkan bahwa siapa pun yang menolong orang lain dengan niat tulus tidak akan kehilangan apa pun, justru akan mendapatkan keberkahan yang tidak terduga dalam hidupnya.
Kisah ini juga mengingatkan kepada kita semua bahwa setiap kebaikan yang dilakukan di dunia memiliki balasan yang jauh lebih besar di akhirat. Unta yang dibeli Ali ternyata menjadi kendaraan Fatimah di surga, menunjukkan bahwa amal baik tidak hanya bernilai duniawi tetapi juga berbuah kebahagiaan abadi. Hal ini mengingatkan bahwa kepedulian terhadap orang yang membutuhkan bukan hanya bentuk kedermawanan, tetapi juga investasi bagi kehidupan akhirat. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


