Arina.id - Kebaikan yang diberikan seorang dermawan tidak selalu mendapat balasan yang setimpal. Ada kalanya, orang yang telah dibantu dengan tulus malah membalasnya dengan keburukan. Bahkan, tak jarang kebaikan itu dibalas dengan fitnah yang keji, seolah-olah semua bantuan dan niat baik yang diberikan tak ada artinya.
Kisah seorang dermawan yang mendapat balasan tidak menyenangkan berupa fitnah, pernah terjadi di masa lampau. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Uyunul Hikayat (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971), halaman 393-394.
Dikisahkan, seorang pria melamar pekerjaan kepada salah seorang tokoh masyarakat yang dikenal dermawan dan baik hati. Setelah berkenalan, pria tersebut akhirnya diterima untuk bekerja. Tidak hanya itu, dia juga mendapatkan sejumlah fasilitas untuk memenuhi semua kebutuhan pribadinya, mulai dari tempat, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Beberapa waktu kemudian, pria ini mulai lupa diri dan tidak tahu cara berterima kasih kepada sang dermawan yang telah memberinya berbagai kebutuhan. Pria tak tahu diri ini malah mendatangi seorang Amir atau penguasa setempat dan mencemarkan nama baik sang dermawan, dia juga menyampaikan berita hoaks dan menuduh keburukan yang tidak sesuai dengan sifat dan karakter asli sang dermawan.
Amir pun tidak percaya begitu saja, karena selama ini orang yang dilaporkan tersebut dikenal dermawan dan baik hati. Untuk memastikan kebenarannya, akhirnya orang dermawan ini dipanggil untuk dimintai keterangan.
Setelah datang, tentu saja sang dermawan tersebut menyangkal semua tuduhan yang dilontarkan kepadanya.
“Tapi dia mengatakan demikian tentang dirimu,” tegas sang Amir sambil memberi tahu identitas orang yang melapor kepadanya.
Orang dermawan ini pun sangat terkejut saat mendengar informasi tersebut, karena selama ini dia selalu berbuat baik kepada pria yang melaporkannya itu.
“Kamu kenapa diam dan seperti terkejut?” tanya Amir kepada si dermawan.
“Tidak, aku hanya berpikir, mungkin selama ini aku tidak maksimal dalam berbuat baik kepadanya sehingga memicu dia berbuat buruk seperti ini,” ujar si dermawan.
Mendengar jawabannya, Amir merasa sangat takjub dan lebih percaya pada orang dermawan daripada pria yang melaporkannya.
“Subhanallah, betapa bedanya karakter kalian berdua. Kamu menunjukkan kasih sayang kepadanya, sedangkan dia sebaliknya bahkan ingin membunuh karaktermu. Aku bersaksi bahwa kamu adalah orang mulia dan dia adalah orang hina,” tegas Amir.
Tidak lama kemudian Amir mengizinkan orang dermawan itu pulang dan dia berdoa:
أدام الله عيش مثلك في الناس
Artinya: “Semoga Allah melanggengkan orang-orang sepertimu di tengah-tengah masyarakat,”
Kisah ini menggambarkan bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain belum tentu dibalas oleh mereka yang telah menerimanya. Bisa jadi, balasannya datang dari orang lain yang telah digerakkan oleh Allah untuk membalas kebaikan tersebut, sebagaimana orang dermawan yang berbuat baik kepada pria tak tahu diri dan mendapat balasan kebaikannya dari penguasa setempat.
Untuk itu, jangan pernah berhenti berbuat baik karena Allah pasti akan membalas kebaikan tersebut dengan cara-Nya sendiri. Namun demikian, perlu diimbangi dengan sikap waspada dan bijaksana, apalagi di zaman sekarang. Hal ini dilakukan karena kita juga diwajibkan untuk menjaga keselamatan diri agar terhindar dari kejahatan yang datang dari pengkhianatan. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


