Jakarta, Arina.id - Ada yang bilang omongan politisi memang sukar dipercaya. Bahkan ada pepatah atau kata khiasan Jawa yang acapkali dikutip oleh politisi-politisi untuk menggambarkan perangai orang yang plin plan, tidak konsisten dalam bersikap: "Isuk Dele, Sore Tempe" yang secara bahasa berarti paginya masih bentuk kedelai, sore harinya sudah berubah menjadi tempe.
Namun tafsir ungkapan itu mengacu pada karakter manusia yang tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan, sikapnya berubah waktu lalu dan sekarang. Bisa juga secara harfiah, begitulah orang Jawa melihat perangai seseorang yang mudah sekali terbawa angin dan tidak punya pendirian. Dan ungkapan ini sepertinya pas untuk menggambarkan sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam isu perang Iran vs Israel.
Beberapa waktu lalu Trump menegaskan kalau serangan Israel ke Iran pada Jumat, 13 Juni 2025 lalu merupakan tanggung jawab Israel sendiri. Amerika tidak terlibat. Sebab negeri Paman Sam itu sedang bersiap melakukan negosiasi isu nuklir Iran yang membetot dunia dalam satu dekade terakhir. Namun ketika eskalasi perang selama enam hari terakhir terus meninggi, sikap Trump berubah 180 derajat.
Amerika melarang warganya bepergian ke Iran, Irak, dan Israel dalam keadaan apapun. Trump juga membentuk tim khusus untuk memantau perkembangan kawasan Timur Tengah (Middle East). Pasukan atau tim tugas ini akan melihat logistik yang mungkin diperlukan bila situasi memburuk karena mencoba memindahkan staf diplomatik Amerika dan juga warga sipil dari wilayah Timur Tengah.
Seperti dilaporkan Al Jazeera, negosiasi Iran dengan Amerika terkait program nuklir sampai sekarang masih deadlock alias mengalami jalan buntu. Trump lantas menulis sebuah catatan berbahaya. Ia menyerukan agar warga sipil segera dievakuasi dari Tehran. Hal itu disampaikannya saat hendak menghadiri Konferensi Grup 7 (G7) di Kanada. Trump mengatakan bahwa dalam konflik Iran vs Israel ini Amerika Serikat mencari "akhir sejati" dan bukan hanya gencatan senjata dalam konflik.
Trump juga menulis beberapa kali dalam aplikasi di Platform Truth media sosialnya. Dalam salah satu unggahannya, ia berkata, "Kita sekarang memiliki kendali penuh dan penuh atas langit di Iran," tanpa menjelaskan siapa "kami" itu. Namun Israel beberapa waktu lalu juga sempat membuat pernyataan yang sama. Sebuah pernyataan yang sama untuk situasi yang sama.
Media-media barat juga mengutip postingan Trump yang mengancam Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dengan mengatakan bahwa AS tahu di mana dia bersembunyi tapi tidak ingin dia dibunuh untuk saat ini sambil menambahkan kata-kata "menyerah tanpa syarat". Hal itu tentu memicu kekhawatiran yang dapat memantik perang regional lebih luas bila mereka memasuki konflik langsung dengan Iran.
Sikap Trump yang plin plan ini aneh mengingat intelijen AS sudah mengeluarkan penilaian Iran tidak bekerja menuju bom nuklir. Hal ini seperti disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika kepada Al Jazeera, saat dikonfirmasi tentang penilaian intelijennya tersebut. Sang Juru Bicara mengatakan keputusan tersebut merupakan penialaian "Presiden Trump dan timnya sendiri yang melihat hal-hal penting dalam pengambilan keputusan".
Direktur Intelijen Nasional Amerika yang juga politisi Partai Demokrat Tulsi Gabbard, juga sempat bertanya tentang pernyataan penilaian inteligen AS bahwa Iran tidak memiliki nuklir, namun Trump menjawab, "Saya tidak peduli apa yang dia katakan." Trump saat ini secara efektif meng-handle semua kebijakan luar negeri Amerika, dan akan membuat keputusan jam demi jam berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari timnya sendiri.
Sebelumnya, intelijen AS telah menyatakan berulang kali--terbaru adalah pernyataan pada bulan Maret tahun ini--bahwa Iran tidak memiliki kemampuan senjata nuklir. Dan, pada tahap itu, menurut sumber intelijen AS, mereka tidak berencana untuk mencapai hal itu. Alasannya adalah perintah agama langsung yang dikeluarkan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun informasi intelijen tersebut diabaikan oleh Trump.
Dengan demikian posisi Trump terhadap Iran telah berubah. Baru beberapa minggu lalu, dia berbicara tentang kebutuhan solusi diplomatik. Namun sekarang sudah berbicara tentang operasi di Iran ketika ia menuntut Iran "menyerah tanpa syarat", kemudian mengatakan, "Kita sekarang memiliki kontrol lengkap dan total atas langit di atas Iran." AS juga mengerahkan lebih banyak pesawat tempur ke Timur Tengah. Diksi "kita" jelas merujuk pada Israel dan Amerika Serikat.
Sementara itu, seiring dengan sikap cawe-cawe Amerika terhadap konflik Iran-Israel ini, negara di Timur Tengah mulai ketar ketir. Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdulla bin Zayed al-Nahyan, menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah tegas dan mendesak kedua negara agar segera melakukan gencatan senjata. Ia juga mengatakan bahwa diplomasi diperlukan untuk "mencegah situasi dari spiral menjadi kubur dan konsekuensi yang jauh".
Ia terus memperingatkan bahwa tindakan yang ceroboh dan salah perhitungan dapat mengakibatkan konflik yang meluap di luar perbatasan Israel dan Iran. Sampai saat ini kedua belah pihak masih saling serang.
Editor: Muhammad Taufiq


