“Kini, kita bersiap menapaki puncak ibadah haji: Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)—tempat di mana segala topeng dunia dilepas dan yang tersisa hanyalah kita dan Allah”
Berhaji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Ia adalah panggilan agung yang menyentuh relung terdalam jiwa. Di antara miliaran manusia di muka bumi, hanya segelintir yang dipilih Allah untuk menjadi tamu-Nya, melangkah ke tanah yang diberkahi, menapak jejak para nabi, dan bersimpuh di hadapan Ka'bah yang agung nan suci.
Panggilan ini bukan hasil kehebatan atau harta, melainkan murni anugerah dan kasih sayang-Nya yang tak terhingga. Maka, tak ada kata lain selain syukur yang harus mengisi hati setiap insan yang mendapat kesempatan berhaji.
Saat kaki telah menjejak tanah Makkah dan mata memandang Masjidil Haram, hati seharusnya semakin tunduk dan khusyuk. Kini, kita bersiap menapaki puncak ibadah haji: Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)—tempat di mana segala topeng dunia dilepas dan yang tersisa hanyalah kita dan Allah.
Di titik ini, marilah kita bertanya dengan penuh kesadaran: Sudahkah aku benar-benar mensyukuri nikmat ini? Sudahkah aku menjaga lisan dan hatiku dari segala yang mencederai kehormatan ibadah ini? Sebab, tidak semua orang mendapat kesempatan berhaji, dan tidak semua yang berhaji mampu menjaga kesuciannya.
Salah satu bentuk syukur atas nikmat haji adalah menjaga ibadah ini dari segala yang mencederainya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Rahman ayat 60:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
Dalam Tafsir Ibn Katsir, ihsan dimaknai sebagai amal baik yang dibalas Allah dengan surga. Rasulullah ﷺ bahkan menafsirkan ayat ini dengan hadis qudsi:
هل جزاء من أنعمت عليه بالتوحيد إلا الجنة
Artinya: "Apakah balasan atas tauhid kepada-Ku kecuali surga?" (HR. At-Tirmidzi).
Namun, ihsan sejati dalam berhaji bukan hanya tampak dalam gerakan ritual atau pakaian ihram yang seragam. Melainkan terletak pada pengendalian diri yang kokoh di tengah berbagai ujian. Menjelang puncak ibadah haji di Armuzna, saat tenaga terkuras, fasilitas tak lagi nyaman, suhu menggigit, dan antrean memanjang, di situlah kualitas batin diuji.
Haji bukan sekadar berjalan dan berkumpul, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap waras, tenang, dan sabar di tengah keterbatasan.
Salah satu bentuk pengendalian diri adalah menjaga lisan dari kerusakan. Lelah boleh dirasa, tapi lidah harus tetap dijaga dari keluhan yang memprovokasi, umpatan yang menyakiti, serta ghibah, hoaks, dan penyebaran ketidakbaikan yang mencemari suasana ibadah.
Ini termasuk dalam rafats, yakni ucapan keji dan sia-sia yang menggerogoti nilai kemabruran haji tanpa disadari. Seorang haji sejati akan memilih diam yang mulia daripada kata yang mencela.
Tak kalah penting, menahan hati dari fusuq, yakni dorongan-dorongan batin seperti rasa kesal yang meledak, iri terhadap perlakuan yang berbeda, atau merasa lebih benar dari orang lain. Bahkan tangan pun harus dijaga—tidak tergesa menyerobot antrean, tidak menyakiti orang lain demi kenyamanan pribadi.
Setiap bentuk kendali diri ini adalah ihsan tersembunyi, yang menjadi ukuran keikhlasan dan kematangan ruhani seorang haji.
Tafsir Ath-Thabari menyebutkan bahwa orang yang berbuat ihsan—dengan takut kepada Allah dan menjaga amalnya dari fusuq—mendapat balasan berupa surga, kenikmatan abadi, dan istri-istri suci yang digambarkan seindah yaqut dan marjan.
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه
Artinya: "Barang siapa berhaji dan tidak berkata rafats dan tidak berbuat fusuq, maka ia kembali seperti bayi yang baru lahir." (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, haji yang mabrur adalah buah dari ihsan dalam bentuk kendali diri, bukan hanya dari jumlah ritual, melainkan dari kesungguhan menjaga kesucian batin.
Dan setelah Allah menyebutkan balasan yang luar biasa itu. Allah kembali menggugah jiwa kita dengan ayat yang diulang 31 kali dalam surat Ar-rahman:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
Adakah nikmat yang lebih besar daripada bisa berdiri di padang Arafah? Adakah hadiah yang lebih agung dari ampunan Allah bagi mereka yang mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan bersabar di tengah lautan manusia?
Berhaji adalah sebuah kehormatan yang sekaligus ujian. Allah telah memberikan nikmat luar biasa: kesehatan, kemampuan, kesempatan, dan panggilan ke Tanah Suci. Maka jangan sampai kita mengotorinya dengan rafats dan fusuq. Jangan sampai amal besar ini tercemari oleh kelalaian kecil yang dibiarkan.
Marilah kita songsong Armuzna dengan niat yang bersih, hati yang jernih, dan kendali diri yang kuat. Sebab hanya dengan ihsan kita bisa meraih haji mabrur, dan hanya dengan kendali diri kita bisa layak menerima balasan ihsan dari Allah: surga yang penuh dengan kedamaian.
Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


