Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi ketujuh membahas tentang relasi atau hubungan antara akal dengan tentara-tentaranya. Jika pada sesi sebelumnya tubuh manusia diibaratkan sebuah kerajaan, dalam pembahasan kali ini, Al-Ghazali menggambarkannya seperti sebuah kota.
Demikian dijelaskan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 881, sebagaimana berikut:
المثال الثاني اعلم أن البدن كالمدينة والعقل أعني المدرك من الإنسان كملك مدبر لها وقواه المدركة من الحواس الظاهرة والباطنة كجنوده وأعوانه وأعضاؤه كرعيته
Artinya: “Contoh kedua: Ketahuilah bahwa tubuh itu seperti sebuah kota, dan akal, kekuatan yang mampu memahami sesuatu, seperti seorang raja yang mengatur kota tersebut. Kekuatan-kekuatan akal, berupa indra-indra lahiriah dan batiniah itu seperti pasukan-pasukan dan asisten-asistennya, sedangkan anggota tubuh seperti rakyatnya,”
Gus Ulil menjelaskan bahwa seluruh kekuatan indra manusia, baik yang tampak seperti mata, telinga, dan sebagainya, maupun yang tidak tampak seperti kemampuan melihat dan mendengar, semuanya diibaratkan sebagai para pembantu yang melayani seorang raja.
“Mata fisik kita ini adalah organ lahir, tetapi kemampuan untuk melihat, kekuatan melihat itu tidak nampak, itu organ batin. Nah, baik organ batin maupun organ lahir itu fungsinya adalah seperti pembantu-pembantunya, birokrasi yang membantu seorang gubernur yang namanya akal itu,” jelas Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Ahad (12/1/2025).
Adapun nafsu ammarah yang cenderung pada kejahatan, yaitu nafsu syahwat dan ghadab, diibaratkan seperti musuh yang selalu menentang akal dan berusaha merusak rakyatnya. Maka, posisi badan diibaratkan seperti benteng pertahanan yang akan menjaga dari serangan musuh.
“Jadi badan kita ini seperti semacam wilayah perbatasan. Di mana musuh itu selalu mengintai untuk masuk menyerang kita. Jadi, badan itu seperti seperti wilayah perbatasan. Di mana di dalam wilayah perbatasan itu ada titik-titik yang bahaya karena di sana biasanya musuh masuk,” tambah Gus Ulil.
Adapun jiwa manusia, lanjut Al-Ghazali, itu seperti pasukan penjaga pada badan yang diumpamakan seperti pos perbatasan tersebut. Jika seseorang mampu memerangi dan menaklukkan musuh, yaitu nafsu ammarah (syahwat dan ghadab), maka dia termasuk pada golongan orang yang terpuji ketika nanti kembali ke haribaan Tuhan.
Perjuangan dalam memerangi musuh ini dinamakan dengan jihad. Al-Ghazali mengitip firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 95:
وَالْمُجٰهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةًۗ
Artinya: “Dan orang-orang yang berperang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur)."
Menurut Gus Ulil, ayat ini adalah bagian dari penafsiran (ta’wil) ala Al-Ghazali dalam memahami jihad sebagai perjuangan memerangi musuh, yaitu nafsu. Sebagaimana telah dijelaskan pada edisi sebelumnya, tafsir adalah penjelasan terhadap Al-Qur'an secara eksetorik atau berdasarkan pada makna lahiriah, sementara ta'wil itu adalah penjelasan terhadap Al-Quran secara esoterik dan penggalian makna yang dalam sekali.
“Yang dimaksud dengan jihad bin nafsi di sini adalah tadi ini, jihad dalam pengertian metafor yang sudah dijelaskan oleh Al-Ghazali. Jihad melalui akal sebagai raja, badan sebagai kota, akal sebagai gubernur, badan sebagai wilayah tempat berkuasanya gubernur, dan nafsu ammarah berupa tendensi marah dan syahwat itu sebagai musuh yang selalu mengintai untuk menyerang dan kita berusaha untuk mengalahkan mereka, itulah jihad,” papar Gus Ulil.
Dengan demikian, ketika seseorang lalai dan membiarkan lengah pos penjagaan tersebut serta menelantarkan rakyatnya, maka kelak dia akan mendapatkan siksa dari Allah. Di hari kiamat nanti, orang ini akan mendapat teguran sebagaimana dikutip dari keteragan hadits sebagaimana berikut:
يا راعي السوء أكلت اللحم وشربت اللبن ولم تأو الضالة ولم تجبر الكسير اليوم أنتقم منك
Artinya: “Wahai penggembala kambing yang jahat, engkau telah memakan daging dan meminum susu kambing itu, tetapi engkau tidak memberi perlindungan kepada kambing yang tersesat, dan tidak mengobati kambing yang terluka. Maka hari ini Aku akan membalasmu,”
Imam Al-Ghazali kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang jihad akbar, yaitu perjuangan terbesar dalam Islam yang tidak hanya berupa peperangan fisik, tetapi juga meliputi jihad melawan hawa nafsu.
“Inilah metafor kedua, badan sebagai sebuah kota. Pertama tadi, badan sebagai sebuah kerajaan, nafsu sebagai raja. (Metafor) yang kedua ini, badan sebagai sebuah kota dan akal sebagai sebuah gubernur,” ujar Gus Ulil.
Seperti Penunggang Kuda
Selanjutnya, Al-Ghazali mengumpamakan akal seperti seorang penunggang kuda yang sedang berburu binatang. Akal diumpamakan seperti penunggang kuda, syahwat seperti kuda, dan ghadab atau marah seperti anjing.
“Biasanya kalau orang berburu, seorang pemburu naik kuda lalu di sampingnya ada anjing pemburu. Kudanya itu melambangkan syahwat, anjingnya itu melambangkan rasa marah,” jelas Gus Ulil.
Jika akal yang berperan sebagai penunggang kuda mampu menguasai dan mengendalikan syahwat (kuda) dan ghadab (anjing), maka proses perburuan akan berjalan dengan sukses dan mencapai hasil yang diharapkan. Sebaliknya, Jika penunggang kuda (akal) tidak mampu mengendalikan kuda (syahwat) dan anjing (ghadab), maka keadaan akan menjadi kacau. Kuda akan bergerak liar tanpa arah, sementara anjing akan berlari tanpa mengikuti, pada akhirnya proses perburuan akan berakhir dengan kegagalan.
“Jadi syahwat yang dominan dalam diri kita itu seperti kuda yang liar, sementara rasa marah yang terlalu menguasai diri kita itu seperti anjing gila. Itulah metafor yang dibuat oleh Al-Ghazali,” ujar Gus Ulil.
Karakteristik Hati Manusia
Usai membahas perumpamaan manusia dan pasukan-pasukannya, Gus Ulil melanjutkan kajiannya dengan membahas karakteristik manusia menurut Al-Ghazali. Dijelaskan Gus Ulil, Al-Ghazali menyatakan bahwa instrumen yang ada dalam diri manusia sebenarnya juga dimiliki oleh binatang, Al-Ghazali mengungkapkannya dalam kitab Ihya halaman 882:
اعلم أن جملة ما ذكرناه قد أنعم الله به على سائر الحيوانات سوى الآدمي إذ للحيوان الشهوة والغضب والحواس
Artinya: “Ketahuilah bahwa semua yang telah kami sebutkan merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada seluruh makhluk hidup selain manusia, karena hewan memiliki nafsu, amarah, dan indra,”
Menurut Al-Ghazali, binatang juga memiliki pasukan lahir dan batin, sama seperti yang dimiliki oleh manusia. Misalnya adalah binatang juga memiliki mata yang menjadi pasukan lahir, sedangkan kemampuan untuk melihat adalah pasukan batin.
“Lima indra yang ada pada manusia, baik indra lahir maupun indra batin, itu semuanya ada pada binatang selain manusia. Jadi manusia tidak menjadi hebat, tidak menjadi istimewa, karena dia punya rasa marah, punya syahwat, karena binatang juga punya itu,” tambah Gus Ulil.
Menurut Al-Ghazali, hal yang membuat manusia istimewa dan lebih unggul dari binatang adalah karena adanya qalb atau hati yang di dalamnya terdapat ilmu (pengetahuan) dan iradah (kehendak).
Editor: Aiz Luthfi


