Dark
Light
Dark
Light

Menziarahi Nabi Hud di Hadhramaut Yaman: Saksi Kehancuran Suku Terkuat di Dunia

Menziarahi Nabi Hud di Hadhramaut Yaman: Saksi Kehancuran Suku Terkuat di Dunia

Jika berkunjung ke kota Tarim, Yaman, sempatkanlah berziarah ke makam Nabi Hud as. Lokasi makam Nabi Hud berada di daerah Syi'ib Hud, sebuah lembah pasir yang berjarak sekitar 80 km dari kota Tarim. Untuk menuju makam bisa ditempuh dengan kendaraan darat sekitar 3 jam.

Berdasarkan keterangan yang ada di papan komplek makam, tradisi ziarah ke makam Nabi Hud sudah berlangsung sejak 4.000 tahun lalu. Syahdan, Nabi Sulaiman dan Dzul Qarnain pernah berziarah ke sini, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hisyam, sejarawan Islam klasik.

Sebelumnya tradisi ziarah ke makan Nabi Hud dilakukan setiap hari, dan tampak ramai ketika musim panen kurma tiba. Sambil menjual hasil panen ke pasar terkenal yang berada di komplek makam Nabi Hud, tepatnya di Lembah Adam, masyarakat akan mampir ziarah ke makam Nabiyulllah itu. 

Sejak abad ke-10 Hijriah, Syekh Abu Bakar bin Salim mengubah tradisi ziarah ini. Semula setiap hari para peziarah mendatangi makam Nabi Hud, kemudian hanya dilakukan pada momen awal bulan Sya’ban, selama tiga hari dari tanggal 8-10 Sya’ban. Tradisi inilah yang berlangsung sampai sekarang, dan disebut sebagai ziarah agung Nabi Hud.

Seperti di komplek makam makam Wali Songo di Indonesia, di sekitar komplek makam Nabi Nuh pun ada pasar yang menjual pernak-pernik khas Hadramaut, Yaman.

Selain tentu berdoa dan mengharap berkah, berziarah ke makam Nabi Hud mengingatkan kita tentang Suku ‘Ad. Kaum yang terkenal dengan kekuatan fisik dan katerampilan arsitekturnya. Bahkan, mereka memahat bukit-bukit batu besar untuk dijadikan rumah yang kokoh dan indah. Sayang, kelebihan ini membuat mereka jumawa hingga tidak mau menerima ajaran yang dibawah oleh utusan Allah. Kaum ‘Ad akhirnya dibinasakan oleh Allah swt. 

Kisah Nabi Hud dengan kaumnya banyak diabadikan di dalam Al-Qur’an. Kurang lebih ada 68 ayat dalam 10 surat. Terkait Suku ‘Ad sendiri Al-Qur’an menyebut sebanyak 24 kali.

Arab ‘Aribah

Sebagaimana disebutkan para sejarawan, Suku ‘Ad merupakan golongan bangsa Arab Ba’idah, yaitu bangsa Arab yang data historisnya sangat sedikit sehingga sulit untuk diteliti. Penting diketahui bahwa secara periodik bangsa Arab terbagi ke dalam tiga generasi, yaitu Ba’idah, ‘Aribah, dan Musta’ribah. Generasi Ba’idah merupakan bangsa Arab sebelum Nabi Ismail. Mereka seperti kaum ‘Ad, Tsamud, Jurhum, Madyan, ‘Imlaq, Jasim, Qahthan, Banu Yaqthan, dan sebagainya. Sedangkan generasi ‘Aribah merupakan keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan, disebut juga Arab Qahthaniyah. Sementara generasi Musta’ribah keturunan dari Nabi Ismail, disebut juga Arab ‘Adnaniyah.

Penjelasan ini bisa dilihat dalam al-Bidāyah wan Nihāyah karya Ibnu Katsir dan ar-Raḥīqul Makhtūm karya Shafyurrahman al-Mubarakfuri.

Bencana Alam Mematikan

Kembali soal pembangkangan Suku ‘Ad. Kesombongan yang mereka miliki membuat Allah murka. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

‎فَاَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوْا فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوْا مَنْ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۗ اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَهُمْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ

Artinya, “Adapun (kaum) ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?” Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka itu lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka? Mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Fuṣṣilat [41]:15).

Ayat ini menggambarkan betapa Suku ‘Ad terlena dengan kekuatan fisik yang mereka miliki. Sampai-sampai mereka meyakini belum dan tidak akan pernah ada generasi manusia yang memiliki kemampuan seperti mereka. Padahal mereka lupa, yang menciptakan mereka adalah Tuhan yang maha kuat atas segalanya. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menandinginya.

Sifat jumawa ini membuat mereka meremehkan Nabi Hud yang sebenarnya masih bagian dari Suku ‘Ad. Hud bernama lengkap Hud bin Salikh bin Arfakhsyaz bin Saam bin Nuh. Mereka merupakan bangsa Arab yang tinggal di Al-Ahqaff, yaitu pegunungan pasir yang berada di Yaman, antara Oman dan Hadhramaut. Terletak di kawasan hamparan tanah yang mendekati lautan bernama Syihir. Lembah yang mereka tinggali disebut Mughits.

Al-Qur’an secara detail mengisahkan perdebatan sengit antara Nabi Hud dengan kaumnya. Setiap kali Nabi Hud menyampaikan risalah, ada saja balasan mereka untuk mengingkari ajaran yang dibawa nabinya. Setiap hujjah yang disampaikan Nabi Hud selalu dibalas dengan penuh kengeyelan.

Setelah perdebatan yang cukup lama dan argumen-argumen disampaikan, sama sekali tidak membuat Suku ‘Ad mau mengimani Nabi Hud. Mereka justru mengolok-olok Nabi Hud bahwa mau seperti apapun nasihat yang ia sampaikan, sedikit pun tidak akan berpengaruh. Watak keras kepala Suku ‘Ad ini disampaikan dalam firman Allah ta’ala,

‎قَالُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْنَآ اَوَعَظْتَ اَمْ لَمْ تَكُنْ مِّنَ الْوٰعِظِيْنَ ۙ

Artinya, “Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat'.” (Asy-Syu‘arā' [26]:136).

Disapu Topan Mematikan

Setelah segala upaya dengan penuh kesabaran ditempuh Nabi Hud, dan Suku ‘Ad masih saja tidak mau beriman, Allah pun mengirim bencana besar berupa badai topan dahsyat yang menyapu habis mereka selama delapan hari tujuh malam. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

‎سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ  كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ

Artinya, “Dia menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka, kamu melihat kaum (‘Ad) pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah (lapuk) bagian dalamnya.” (Al-Ḥāqqah [69]:7).

Dalam menafsiri kata ḥusūman pada ayat di atas, sejumlah mufasir berbeda pendapat. Sebagian mengartikan “berturut-turut”. Artinya, badai topan yang melanda berlangsung secara terus menerus selama delapan hari tujuh malam tanpa jeda sedikitpun. Pendapat ini merupakan pandangan mayoritas ahli tafsir. Pendapat lain menyebut kata ḥusūman berarti “totalitas”, sebab bencana besar ini membumihanguskan seluruh penduduk yang tidak beriman tanpa terkecuali. Tidak sebatas ini, kondisi mereka diilustrasikan bagaikan onggokan batang-batang pohon kurma yang telah lapuk berhambur tak beraturan. (ar-Razi)

Dalam satu hadisnya, Rasulullah mengilustrasikan dahsyatnya bencana alam mematikan itu dalam riwayat berikut,

‎عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ما فَتَحَ اللَّهُ عَلى عادٍ مِنَ الرِّيحِ إلّا مِثْلَ مَوْضِعِ الخاتَمِ، أُرْسِلَتْ عَلَيْهِمْ فَحَمَلَتِ البَدْوَ إلى الحَضَرِ فَلَمّا رَأوْها أهْلُ الحَضَرِ قالُوا: هَذا عارِضٌ مُمْطِرُنا مُسْتَقْبِلَ أوْدِيَتِنا. وكانَ أهْلُ البَوادِي فِيها، فَأُلْقِيَ أهْلُ البادِيَةِ عَلى أهْلِ الحاضِرَةِ حَتّى هَلَكُوا. قالَ: عَتَتْ عَلى خُزّانِها حَتّى خَرَجَتْ مِن خِلالِ الأبْوابِ.

Artinya, “Dari Ibnu Abbas ra, berkata, ‘Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Allah tidak membukakan angin terhadap kaum ‘Ad kecuali hanya semisal dengan lubang tempat cincin. Kemudian angin itu dikirimkan menuju daerah pedalaman mereka, lalu ke daerah perkotaan mereka. Dan ketika penduduk perkotaan melihat datangnya angin itu (yang berupa awan hitam), mereka mengatakan, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami sedang menuju ke lembah-lembah kami.’

Sedangkan penduduk pedalaman telah berada di dalam angin itu (terbawa terbang), lalu mereka ditimpakan kepada penduduk perkotaan hingga semuanya binasa. Angin itu memporak-porandakan kantung-kantung tempat mereka berada sehingga keluarlah angin itu dari celah-celah pintu-pintu tempat mereka.’” (HR ath-Thabrani).

Berdasarkan laporan penelitian Madain Project, situs arsip sejarah dan arkeologi Abrahamik, disebutkan bahwa bukti arkeologi reruntuhan arsitektur Suku ‘Ad berada di daerah Ubar, sebuah desa yang saat ini dikenal sebagai Syihr (الشصر) di Wilayah Dhofar, Oman. 

Reruntuhan di kawasan ini diidentifikasi memiliki benteng yang dikelilingi oleh delapan tembok dengan menara di setiap sudutnya, persis sebagaimana data dalam sejumlah dokumen kuno.

Madain Project menyebut Suku ‘Ad biasanya tinggal di Arab Selatan, di sebuah lokasi yang disebut sebagai al-'Aḥqāf (artinya dataran pasir). 'Aad adalah sebuah suku Arab kuno dan sebuah distrik di Arab Selatan yang dipimpin oleh 'Ad bin Kin'ad. Suku 'Ad menetap di sebuah daerah di sebelah timur suku Qahtan dan mendirikan Kerajaan 'Ad di Arab Selatan antara abad ke-10 SM dan abad ke-3 M.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo