Dark
Light
Dark
Light

Misteri Keabadian Nabi Khidir: Menyelami Pesan Kitab Inayatul Muftaqir

Misteri Keabadian Nabi Khidir: Menyelami Pesan Kitab Inayatul Muftaqir

Dalam sebuah penelusuran referensi untuk keperluan pribadi penulis, penulis menemukan kitab Ināyatul Muftaqīr bi ma yata'alaqu bi sayidina Khidir AS, sebuah karya Syaikh Mahfudz Termas sebagaimana di-tahqiq oleh Kiai Maimoen Zubair. Terjemah harfiah judul itu adalah Perhatian (atau Perlindungan) Si Fakir terhadap Hal-Hal yang Berkaitan dengan Nabi Khidir AS. Secara umum kitab ini berisi bahasan pro kontra tentang kehidupan Nabi Khidir ‘alaihis salam yang diyakini tak mengalami kematian hingga hari ini.

Kitab ini mengutip berbagai pandangan ulama klasik dan kisah-kisah wali yang mengaku pernah bertemu langsung dengan Khidir. Bagi sebagian pembaca modern, kisah ini terdengar fantastik. Namun justru di situlah daya tariknya: apakah mungkin seseorang hidup ribuan tahun? Apakah itu keabadian secara fisik? Atau ada makna lain yang lebih dalam?

Khidir adalah sosok misterius yang disebut dalam Al-Qur’an (Surah al-Kahfi ayat 60-82) sebagai “hamba dari hamba-hamba Kami” yang diberi ilmu langsung dari sisi Allah. Ia dikenal karena menemani Nabi Musa dalam kisah tiga peristiwa aneh: merusak kapal, membunuh anak kecil, dan menegakkan tembok.

Tapi yang lebih misterius lagi, adalah keyakinan sebagian ulama bahwa beliau masih hidup sampai hari ini. Kitab Ināyatul Muftaqīr mencatat bahwa banyak ulama dan sufi dari zaman ke zaman mengaku pernah bertemu dengan Khidir. Mereka tidak memperdebatkan “bagaimana cara hidupnya”, melainkan mengimani bahwa jika Allah menghendaki, maka ajal bisa ditangguhkan.

Apakah keabadian itu fisik? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak pembaca zaman kini: “Kalau benar Khidir masih hidup, apakah tubuhnya tidak tua? Apakah ini berarti keabadian fisik?” Jawabannya bergantung pada cara kita memahami “kehidupan”. 

Dalam teologi Sunni, Allah bisa menangguhkan ajal siapa saja, seperti Alloh menangguhkan ajal Isa As, dan memperpanjang umur ashabul Kahfi. Mempercayai bahwa Nabi Khidir hidup secara jasmani sampai hari ini (jika Allah menghendaki) bukanlah bid’ah. Tapi penulis lebih suka memahami, keabadian khidir bukan berarti tubuhnya abadi seperti dalam mitologi. Yang lebih penting adalah misi dan cahaya yang dibawanya tetap hidup. Dalam pandangan sufi, Khidir bukan sekadar tokoh sejarah, ia adalah simbol ilmu batin, kehidupan spiritual, dan cahaya yang tersembunyi di tengah gelap dunia. 

Salah satu kisah paling legendaris dari Khidir adalah tentang ‘Ainul Hayat, mata air kehidupan. Konon, siapa yang meminum darinya tidak akan mati. Sebagian ulama menjelaskan ‘ainul hayat secara harfiah, tapi banyak sufi menafsirkannya sebagai simbol kesadaran makrifat. Air itu adalah cahaya ruhani yang hanya bisa ditemukan dalam  lembah zulmah, “kegelapan pencarian”. Mereka yang ”meminumnya” adalah yang melepaskan ego, dunia, dan masuk ke dalam dzikr dan cinta ilahi. Dengan begitu, Khidir bukan hanya hidup secara jasmani (jika Allah menghendaki), tapi lebih penting: ia hidup sebagai simbol dan pancaran petunjuk ruhani.

Bahkan sebagian ulama melihat hidupnya Khidir sebagai bentuk kasih sayang Allah, menghadirkan penolong ruhani di antara umat, yang tak terlihat tapi terasa. Kisah Khidir mengajarkan bahwa hidup yang sejati bukan sekadar soal usia, tapi soal makna. Ia hidup karena membawa ilmu dan rahmat. Ia hadir dalam diri siapa pun yang jujur mencari cahaya di tengah kegelapan.

Di zaman ketika manusia mengejar umur panjang dengan teknologi, gizi, dan biohacking, kisah Nabi Khidir justru menantang kita dengan pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah panjang umur berarti panjang makna?”.

Bagi sebagian orang modern, keabadian terdengar seperti mitos. Tapi dari kisah Khidir, kita belajar bahwa hidup yang sejati bukanlah soal berapa lama kita hidup, tapi seberapa dalam kita hidup. Ia hidup bukan karena fisiknya, tapi karena ilmu, kasih, dan jejak ruhani yang ditinggalkannya. Dan itu, tak akan pernah mati.

Hari ini, Khidir bisa kita temukan dalam bentuk lain: Dalam orang yang hadir di saat kita paling kehilangan arah, dalam suara hati yang membisikkan harapan ketika semuanya gelap, dalam ilmu yang tidak sekadar cerdas, tapi menyejukkan.

Maka, keabadian bukanlah fiksi ilmiah atau mitos tua. Ia hidup dalam bentuk nilai, cahaya, dan cinta yang terus diwariskan. Barangkali, yang abadi bukanlah tubuh tapi pengaruh, bukan usia tapi makna. Dan Khidir, adalah simbol dari hidup yang tetap hidup meski tak terlihat. Wallahu A’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Jamal Mustofa
Kader Nahdlatul Ulama, Tinggal di Ponorogo, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo