Dark
Light
Dark
Light

3 Ulama Sundul Langit asal Iran, Karya Mereka jadi Orbit Pengetahuan Dunia

3 Ulama Sundul Langit asal Iran, Karya Mereka jadi Orbit Pengetahuan Dunia

Arina.id - Iran, negeri berlimpah sejarah dan peradaban, tak hanya dikenal karena kemewahan arsitektur bangunan-bangun yang memukau, namun keterpesonaan itu tampak nyata dari kesenian kaligrafinya yang terus berkembang.

Iran juga memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan keilmuan. Dari wilayah yang dulu dikenal sebagai Khurasan, Tabaristan, dan Naysabur, lahir banyak pemikir dan ulama yang pengaruhnya menembus batas ruang dan zaman.

Dari sekian banyak ulama, tiga di antaranya adalah Abu Hamid al-Ghazali, Fakhruddin ar-Razi, dan Nashiruddin ath-Thusi. Karya-karya mereka tidak hanya mewarnai pemikiran Islam, tetapi juga memberikan kontribusi besar dalam bidang filsafat, teologi, astronomi, logika, dan sains secara umum.

Abu Hamid Al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah intelektual Islam. Lahir di kota Thus, wilayah Khurasan (sekarang bagian dari Iran), al-Ghazali dikenal sebagai seorang pemikir ensiklopedis yang menguasai berbagai disiplin ilmu, yaitu fikih, tasawuf, filsafat, dan kalam (teologi). Dalam Siyaru A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi menyebut nama lengkap Al-Ghazali sebagai berikut:

الشَّيْخُ الإِمَامُ البَحْرُ، حُجَّةُ الإِسْلَامِ، أُعْجُوبَةُ الزَّمَانِ، زَيْنُ الدِّينِ، أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ أَحْمَدَ الطُّوسِيُّ، الشَّافِعِيُّ، الغَزَالِيُّ، صَاحِبُ التَّصَانِيفِ، وَالذَّكَاءِ المُفْرِطِ.

Artinya, “Syekh agung, lautan ilmu, hujjah Islam, keajaiban di zamannya, Zainuddin Abu Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad bin Muḥammad bin Aḥmad al-Ṭūsī, seorang ulama bermadzhab Syafi‘i dari keluarga al-Ghazala, dikenal sebagai penulis berbagai karya besar dan memiliki kecerdasan luar biasa.” (Adz-Dzahabi,2001: juz, 19, h. 322)

Nama dengan sederet gelar yang ditulis Adz-Dzahabi menunjukkan Al-Ghazali sebagai cendekiawan Muslim yang cukup berkompeten. Lafadz ath-Thusi (الطُّوسِيُّ) merupakan penisbatan tempat kelahiran Al-Ghazali, yaitu Thus.

Pada masa al-Ghazali, Thus merupakan kota penting di wilayah Khurasan, Iran timur laut, dikenal sebagai pusat ilmu, budaya, dan agama Islam. Di sana lahir banyak ulama besar. Hari ini, Thus termasuk dalam Provinsi Razavi Khorasan, dekat kota Mashhad. Meskipun tidak lagi menjadi pusat urban utama, Tus tetap dikenang sebagai situs bersejarah dan ziarah, terutama makam al-Ghazali dan Ferdowsi.

Al-Ghazali menulis banyak karya besar, di antaranya Ihya Ulumiddin yang menjadi rujukan Muslim di berbagai dunia, terutama dalam etika Islam dan tasawuf. Ia juga menulis Tahafutut Falasifah untuk mengkritik filsafat, serta al-Munqidz minad Dhalal sebagai catatan perjalanan spiritualnya. Karya lainnya seperti al-Mustashfa dalam usul fikih dan al-Kimiya as-Sa‘adah dalam bahasa Persia turut mengukuhkan warisannya.

Fakhruddin Ar-Razi

Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (w. 606 H/1210 M). Ia dikenal sebagai mufasir, teolog, dan filosof rasionalis yang sangat berpengaruh. Karyanya yang paling terkenal adalah Tafsir al-Kabir atau Mafatih al-Ghaib, salah satu kitab tafsir Al-Qur'an paling tebal dan paling lengkap dalam khazanah Islam klasik. Tafsir ini sangat terkenal di dunia Islam dan banyak dikaji di berbagai negara.

Saat menyebut nama Ar-Razi, Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala menuliskannya secara lengkap sebagai berikut:

العَلَّامَةُ الكَبِيرُ ذُو الفُنُونِ فَخْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الحُسَيْنِ القُرَشِيُّ البَكْرِيُّ الطَّبَرِسْتَانِيُّ، الأُصُولِيُّ، المُفَسِّرُ، كَبِيرُ الأَذْكِيَاءِ وَالحُكَمَاءِ وَالمُصَنِّفِينَ

Artinya, “Seorang ulama besar, ahli dalam berbagai bidang ilmu, Fakhruddin Muḥammad bin ‘Umar bin al-Ḥusayn al-Qurashī al-Bakrī al-Ṭabaristānī. Ia dikenal sebagai pakar usul fikih, mufasir (ahli tafsir), dan termasuk di antara tokoh paling cerdas, bijaksana, serta produktif dalam menulis.” (Adz-Dzahabi,2001: juz, 21, h. 501)

Sejumlah gelar akademik nonformal yang disematkan oleh Dza-Dzahabi menunjukkan bahwa Ar-Razi merupakan ulama ensiklopedis yang sangat berkompeten. Lafadz Ath-Thabarastani (الطَّبَرِسْتَانِيُّ) yang disematkan dalam namanya menunjukkan bahwa ia lahir di daerah Tabaristan.

Pada masa Fakhruddin ar-Razi, Tabaristan merupakan wilayah pesisir utara Iran yang subur dan strategis, dikenal sebagai pusat keilmuan dan tempat tinggal para ulama, termasuk pengaruh kuat dari mazhab Syafi‘i dan Asy‘ari. Dalam konteks modern, wilayah ini berada di Provinsi Mazandaran, Iran utara, yang kini lebih dikenal karena keindahan alamnya, tetapi tetap menyimpan warisan sejarah dan budaya Islam klasik.

Nashiruddin At-Thusi

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Hasan at-Thusi (w. 672 H/1274 M), lebih dikenal sebagai Nashiruddin ath-Thusi. Ia lahir di Thus, wilayah yang sama dengan al-Ghazali, dan menjadi salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh dalam bidang sains, astronomi, filsafat, dan matematika. Seperti Al-Ghazali, Nashiruddin Ath-Thusi juga berasal dari Tus, Iran. Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala memberikan testimoni untuk at-Thusi sebagai berikut:

قَالَ الحَاكِمُ: هُوَ أَحَدُ أَرْكَانِ الحَدِيثِ بِخُرَاسَانَ، مَعَ مَا يُرْجَعُ إِلَيْهِ مِنَ الدِّينِ وَالزُّهْدِ وَالسَّخَاءِ وَالتَّعَصُّبِ لِأَهْلِ السُّنَّةِ. أَوَّلُ رِحْلَتِهِ كَانَتْ إِلَى مَرْوٍ، إِلَى اللَّيْثِ بْنِ مُحَمَّدٍ المَرْوَزِيِّ. قَالَ: وَمَا خَلَّفَ يَوْمَ مَاتَ بِالطَّابَرَانِ مِثْلَهُ، وَأَمَّا عُلُومُ الصُّوفِيَّةِ وَأَخْبَارُهُمْ وَلِقَاءُ مَشَايِخِهِمْ، فَإِنَّهُ مَا خَلَّفَ فِي ذَلِكَ بِخُرَاسَانَ مِثْلَهُ

Artinya, “Al-Hakim berkata: Ia adalah salah satu pilar utama dalam ilmu hadits di Khurasan, sekaligus rujukan dalam hal agama, kezuhudan, kemurahan hati, dan loyalitas kepada Ahlus Sunnah. Perjalanan ilmiahnya yang pertama adalah ke kota Marw, menemui al-Layth bin Muhammad al-Marwazi. Ia juga mengatakan: Pada hari wafatnya di Thabaran, tak ada seorang pun yang dapat menandingi kedudukannya.”

“Adapun dalam hal ilmu tasawuf, kisah para sufi, serta pertemuannya dengan para masyayikh mereka, maka tidak ada di Khurasan yang sebanding dengannya dalam bidang itu.” (Adz-Dzahabi,2001: juz, 17, h. 7)

Di bidang matematika, ath-Thusi menyusun karya penting tentang trigonometri sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri, bukan sekadar bagian dari astronomi. Ia juga menulis komentar-komentar penting atas karya-karya filsafat klasik Yunani seperti Metafisika karya Aristoteles dan karya-karya Ibnu Sina. Yang menarik, ia juga mendalami ilmu-ilmu agama, termasuk ilmu kalam dan etika.

Salah satu karyanya yang terkenal dalam etika adalah Akhlaq-i Nashiri, yang ditulis dalam bahasa Persia dan menjadi acuan penting dalam etika politik dan keluarga di dunia Islam dan Persia.

Warisan intelektual al-Ghazali, ar-Razi, dan ath-Thusi membuktikan bahwa tanah Iran telah melahirkan tokoh-tokoh luar biasa yang karyanya menembus batas zaman dan peradaban. Mereka tidak hanya menulis untuk zamannya, tetapi membangun jembatan keilmuan yang terus menginspirasi hingga hari ini. Dari masjid, madrasah, hingga ruang akademik modern, cahaya pemikiran mereka tetap menyinari pencari ilmu di seluruh dunia.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo