Arina.id – Melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam yang sudah mukallaf, yaitu orang yang telah mencapai baligh dan memiliki akal sehat. Perintah puasa ini sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183, berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Di sisi lain, puasa di bulan suci Ramadan tidak hanya sekadar menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang dapat membatalkannya. Lebih dari itu, di dalam ibadah ini tersimpan berbagai rahasia dan keistimewaan yang luar biasa bagi umat Islam.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrarus Shaum (Damaskus, Darul Fikr, 1996), halaman 26 mengungkapkan, setidaknya ada 2 (dua) keistimewaan bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa, yaitu sebagaimana berikut:
1. Berhubungan Langsung dengan Allah
Pada umumnya, ibadah dalam Islam memiliki sistem atau penghitungan pahala yang sudah ditetapkan. Misalnya, pahala shalat akan dilipatgandakan beberapa kali lipat, pahala sedekah bisa mencapai 700 kali lipat, dan ibadah lainnya yang sudah memiliki hitungan tertentu. Namun, dalam puasa memiliki keistimewaan tersendiri karena berhubungan langsung dengan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Hadist Qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ
Artinya, "Semua amal perbuatan anak Adam itu untuknya, kecuali berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”
Jika dianalogikan dalam dunia kerja, seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan akan menerima gaji melalui ketentuan yang telah ditetapkan, misalnya melalui standar UMR. Namun, dalam ibadah puasa imbalan atau pahala yang diberikan tidak terbatas pada hitungan tertentu karena langsung ditentukan oleh Sang Pemilik Segalanya, yaitu Allah SWT. Al-Ghazali mengungkapkan:
فيفرغ للصائم جزاؤه إفراغاً ويجازف جزافاً ، فلا يدخل تحت وهم وتقدير ، وجدير بأن يكون كذلك
Artinya: “Maka balasan bagi orang yang berpuasa akan diberikan secara penuh dan diberikan tanpa batasan tertentu. Maka pahalanya tidak dapat dijangkau oleh akal atau dihitung dengan takaran tertentu dan memang sudah sepatutnya demikian.”
Untuk menguatkan pernyataan ini, Al-Ghazali mengutip firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 10:
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”
Menurut Al-Ghazali, “orang-orang yang bersabar” dalam konteks ayat tersebut adalah umat Islam yang menunaikan ibadah puasa karena mereka telah bersabar menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang dapat membatalkan puasa.
2. Akses Setan Tertutup
Bagi umat Islam yang berpuasa, mereka tidak akan mendapat godaan dan tipu daya setan karena akses setan masuk ke dalam diri manusia akan tertutup rapat. Al-Ghazali mengungkapkan:
فإن وسيلة الشيطان - لعنه الله - الشهوات؛ وإنما تقوى الشهوات بالأكل والشرب
Artinya: “Sesungguhnya sarana setan (untuk memengaruhi manusia) -semoga Allah melaknat setan- adalah melalui syahwat, dan syahwat itu bisa menjadi kuat dengan makan dan minum."
Pernyataan Al-Ghazali ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang menganjurkan umatnya untuk melemahkan setan dengan cara menahan lapar. Rasulullah bersabda:
اِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ
Artinya: "Sesungguhnya setan itu mengalir dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah. Maka, persempitlah jalannya dengan lapar (puasa)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, karena saluran masuknya setan ke dalam diri manusia adalah melalui syahwat, sedangkan syahwat akan tumbuh subur dengan makan dan minum, maka dengan berpuasa yang menyebabkan perut dalam keadaan lapar, tentu saja akses setan untuk masuk dan menggoda manusia pun menjadi tertutup rapat.
Itulah 2 keistimewaan dalam ibadah puasa menurut Imam Al-Ghazali. Dengan berpuasa, seorang muslim bisa lebih dekat dengan Allah karena pahalanya langsung berhubungan dengan Allah. Selain itu, puasa juga bisa menjadi sarana untuk mencegah setan masuk ke dalam diri manusia sehingga terhindar dari bujuk rayunya. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


