Arina.id - Dikisahkan, pemuda ahli maksiat ini tinggal di sekitar daerah Basrah. Ketika ia meninggal dunia, sang istri kesulitan mengurus jenazahnya. Sebab tak ada seorang pun yang mau membantu, karena masyarakat sekitar sudah tahu betapa fasiknya lelaki tersebut.
Akhirnya, sang istri terpaksa menyewa dua orang pengusung jenazah untuk membawanya ke mushala terdekat. Ia masih berharap ada yang mau menyalatkannya. Namun, ketika sampai di mushala, ternyata tak ada seorang pun yang mau menyalatkannya. Mereka semua menolak karena jijik dengan gaya hidupnya yang penuh maksiat.
Tak tahu harus berbuat apa lagi, sang istri memutuskan untuk langsung membawa jenazah suaminya itu ke padang pasir untuk dikuburkan.
Di dekat padang pasir tersebut, terdapat sebuah gunung tempat tinggal seorang sufi besar yang terkenal sebagai ahli ibadah. Ketika mendengar ada seseorang yang akan dikuburkan di padang pasir itu, sang sufi pun turun dari gunung dan hendak menyalatkan jenazah pemabuk tersebut.
Orang-orang pun heran melihat sang sufi yang hendak menyalatkan jenazah ahli maksiat itu. Mereka bertanya kepadanya, dan sang sufi pun menjawab:
إِنِّي قِيلَ لِي فِي النَّوْمِ: ٱنْزِلْ إِلَى الْمَوْضِعِ الْفُلَانِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ جِنَازَةَ رَجُلٍ، لَمْ يَكُنْ مَعَهَا إِلَّا ٱمْرَأَتُهُ، فَصَلِّ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ
Artinya: “Dalam mimpiku, ada seseorang yang berkata seraya memerintah:“Turunlah ke tempat itu. Di sana ada jenazah seorang lelaki, hanya ditemani istrinya saja. Sholatkanlah dia, karena dia telah diampuni dosanya.”
Mendengar penjelasan itu, orang-orang semakin heran. Sang sufi lalu memanggil istri si pemabuk tersebut dan bertanya tentang perbuatan suaminya semasa hidup.
Istrinya pun menjawab:
قَالَتْ: كَانَ كَمَا سَمِعْتَ، طُولَ النَّهَارِ فِي الْمَاخُورِ مَشْغُولًا بِشُرْبِ الْخَمْرِ
Artinya: “Ia seperti yang tuan dengar, sepanjang hari mabuk-mabukan di tempat maksiat.”
Sang sufi bertanya lagi, “Apakah dia pernah melakukan suatu kebaikan?”
Istrinya menjawab,
لَا وَاللَّهِ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يُفِيقُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ سُكْرِهِ عِنْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ، فَيُبَدِّلُ ثِيَابَهُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي الصُّبْحَ
Artinya: “Tidak ada, demi Allah. Kecuali setiap subuh dia sadar dari mabuknya, lalu mengganti bajunya, berwudu, dan menunaikan sholat subuh.”
Selain itu, meskipun ia seorang pemabuk berat, ia adalah sosok yang penyayang kepada anak yatim. Di rumah kami selalu ada satu atau dua anak yatim yang ia rawat, bahkan ia memperlakukan mereka lebih baik daripada anak kandungnya sendiri.
Dan di sela mabuknya, ia sering kali mengutuk perbuatannya, meskipun ia tak kuasa meninggalkannya. Ia sering menangis sambil menatap gelas araknya dan berkata:
إِنْتَهِي، أَيَّ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَا جَهَنَّمَ تُرِيدُ أَنْ تَمْلَأَهَا بِهَذَا الْخَبِيثِ
Artinya: “Hentikan… sudut mana lagi dari neraka Jahannam yang ingin kau penuhi dengan dirimu yang busuk ini?”
***
Tak ada yang tahu amalan apa yang kelak dapat menyelamatkan kita dan mendatangkan ampunan Allah hingga memasukkan kita ke dalam surga. Sebab, kita pun tak pernah tahu apakah akan ditakdirkan husnul khatimah atau sebaliknya. Bukankah kita sering mendengar kisah orang yang rajin beribadah, tetapi justru meninggal dalam keadaan su’ul khatimah? Sebaliknya, ada pula ahli maksiat yang malah meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Dari kisah yang termaktub dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sekecil apa pun amal kebaikan, jika dilakukan dengan hati yang penuh keikhlasan, pasti akan mendapat apresiasi dari Tuhan. Betapapun seseorang bergelimang maksiat, jika disertai dengan penyesalan dan pengakuan dosa, hal itu bisa menjadi sebab turunnya ampunan Allah.
Namun demikian, kisah ini bukan berarti membenarkan perbuatan maksiat. Sebaliknya, ia menegaskan betapa luas rahmat Allah bagi hamba-Nya yang tetap menjaga sholat dan memiliki kepedulian kepada anak yatim, sekalipun ia berkali-kali terjerumus dalam dosa.
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ
Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”(QS. Al-A’raf: 156)
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya, selalu memuliakan anak yatim, serta menjauhkan diri dari maksiat sebelum ajal menjemput. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


