Arina.id - Tanggal 10 Muharram atau yang dikenal dengan Asyura merupakan salah satu hari yang mulia dalam kalender Islam. Banyak keutamaan yang terkait dengan hari istimewa ini, terutama puasa Asyura yang disebutkan Rasulullah SAW dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu (HR. Muslim). Namun, bagaimana jika seorang muslimah sedang haid dan tidak bisa melaksanakan puasa? Apakah ia kehilangan seluruh keutamaan hari tersebut? Jawabannya tentu saja tidak.
Syariat Islam sangat luas dan penuh rahmat. Meski seorang muslimah haid tidak bisa melakukan ibadah puasa, shalat, atau menyentuh mushaf, masih banyak amalan lain yang dapat dilakukan untuk meraih keutamaan Asyura. Berikut beberapa alternatif ibadah yang bisa dilakukan:
1. Membahagiakan Keluarga
Sebuah riwayat hadits dari Abi Said RA menyebutkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
من وسع على عياله يوم عاشوراء وسع الله عليه في سنته كلها
Artinya: “Barangsiapa yang banyak bersedekah pada keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya satu tahun penuh".
Bagi muslimah yang telah menjadi seorang istri, memberikan kelapangan kepada keluarga bisa diartikan dengan melakukan sesuatu yang membahagiakan suami seperti memberikan hadiah atau ucapan ucaapan penuh kasih sayang.
Bagi wanita yang menjadi seorang ibu, maka beribadah dengan memberikan kebahagiaan kepada anak-anak, misalnya dengan memberikan hadiah atau kado serta bonus bagi anak-anaknya sambil memberikan ucapan terimakasih karena telah menjadi anak-anak yang membanggakan orang tua. Bagi wanita yang belum menikah, bisa dengan jalan memberikan hadiah kepada kedua orang tua khususnya kepada ibu.
Tentu saja kelapangan yang dimaksud bisa dimaknai secara luas, bukan melulu harta yang diberikan, tetapi bisa dalam bentuk hal-hal yang memberikan kebahagiaan, senyum, dan kerelaan.
2. Zikir dan Istighfar
Seorang wanita yang sedang haid tetap diperbolehkan untuk berzikir, mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Ia juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar (memohon ampunan) di hari Asyura. Sebuah hadits riwayat Abdullah bin Busr menyebutkan bahwa bibir yang selalu basah dengan zikir kepada Allah adalah mereka yang senantiasa berpegang kepada Ajaran Islam:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya: “Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. Beliau SAW bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berzikir kepada Allah).’” (HR. At-Tirmidzi)
3. Bersedekah
Salah satu amal yang sangat dianjurkan di hari-hari mulia adalah sedekah, terlebih lagi di Hari Asyura. Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk berbagi kepada sesama, terlebih kepada keluarga. Ketika ditanya tentang amalan terebaik, Rasulullah SAW menyebutkan di antaranya adalah bersedekah:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Artinya: “Kamu beri makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan tak kau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menyebutkan keutamaan bersedekah mengingat secara prinsipil, tujuan utama disyariatkannya agama Islam ialah sebagai rahmat bagi semesta alam.
4. Membaca Shalawat
Mengucapkan shalawat adalah ibadah ringan yang sangat dicintai oleh Allah. Di momen penuh keberkahan seperti hari Asyura, memperbanyak membaca shalawat menjadi amalan yang sangat besar pahalanya. Keistimewaan dan keutamaan membaca shalawat di antaranya sebagai berikut:
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya: “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim).
5. Menyantuni Anak Yatim
Secara khusus Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian kepada umatnya agar menekankan kasih sayang kepada anak yatim, terlebih pada saat hari Asyura. Dalam kitab Manahijul Imdad, j. I, h. 521 disebutkan sebuah riwayat tentang keutamaan mengusap kepala anak yatim yang bersanding dengan keutamaan puasa tasu’a dan asyura:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من صام يوم عاشوراء من المحرم اعطاه الله تعالي ثواب عشرة الاف مللك ومن صام يوم عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشر شهيد ومن مسح يده علي راس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالي له بكل شعرة درجة
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa puasa pada hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), Allah memberikan 10.000 pahala malaikat. Barang siapa puasa pada hari ‘Asyura( tanggal10 muharram), Allah memberikan pahala 10.000 para syuhada’. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram, Allah mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap”.
Dengan demikian, haid bukanlah halangan bagi wanita muslim dalam mendapatkan keberkahan Hari Asyura. Dengan memahami alternatif ibadah yang diperbolehkan, seorang muslimah bisa tetap aktif beribadah dan meraih pahala yang besar. Islam tidak memberatkan, bahkan memberi banyak jalan agar setiap hamba bisa dekat dengan-Nya, dalam segala keadaan.
Editor: Aiz Luthfi


