Arina.id - Di balik semangat ibadah yang luar biasa, Abdullah bin Amr bin ‘Ash menyimpan kisah yang patut direnungkan. Ia dikenal sebagai sahabat Nabi yang sangat tekun menjalankan ibadah. Namun, di satu fase hidupnya, ketekunan itu justru menyebabkan ia mengabaikan perannya sebagai suami. Kisah ini bukan sekadar sejarah, tapi pelajaran bagi siapa saja yang sering gagal menyeimbangkan antara cita-cita spiritual dan tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.
Kisah ini disampaikan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih-nya.
Abdullah bin Amr adalah putra dari sahabat kenamaan Amr bin al-‘Ash. Sejak muda, ia dikenal sebagai pribadi saleh yang sangat mencintai ibadah. Ia berpuasa hampir setiap hari dan membaca Al-Qur’an hingga khatam setiap malam. Niatnya sungguh mulia, ingin mendekatkan diri kepada Allah sebaik-baiknya. Namun, semangat tinggi itu malah membuatnya abai terhadap pasangan hidupnya, yang juga memiliki hak untuk diperhatikan, dicintai, dan dibersamai.
Setelah menikah, Abdullah bin Amr tidak menjalankan kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya. Ia lebih sering menghabiskan malam dengan ibadah dan siang dengan puasa. Sang istri yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang, justru ditinggalkan secara fisik dan emosional. Ayahnya pun curiga karena melihat menantunya seperti kesepian. Maka ia bertanya,
“Bagaimana keadaan suamimu?”
“Ia baik, tapi tidak pernah menyentuhku sejak kami menikah.” jawab istri Abdullah bin Amr
Jawaban itu membuat Amr bin ‘Ash khawatir. Ia pun menyampaikan persoalan tersebut kepada Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah kemudian memanggil Abdullah dan menanyakan pola ibadahnya. Abdullah menjawab bahwa ia berpuasa setiap hari dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam. Mendengar itu, Rasulullah tidak langsung memujinya, justru menegur dan menasihatinya agar tidak berlebihan. Ibadah yang melampaui batas justru bisa merusak tatanan hidup yang lain.
Nabi menyarankan agar Abdullah hanya berpuasa tiga hari setiap bulan dan mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali. Tapi Abdullah merasa mampu melakukan lebih. Maka Nabi menyarankan, “Puasa tiga hari setiap pekan.” Abdullah tetap ingin lebih. Hingga akhirnya, Nabi bersabda, “Berpuasalah seperti puasa Nabi Dawud, sehari puasa dan sehari berbuka.” Untuk Al-Qur’an, beliau menyarankan agar khatam setiap tujuh hari, tidak setiap malam sebagaimana yang dilakukan Abdullah.
Namun, waktu terus berjalan dan usia Abdullah pun menua. Fisiknya tak sekuat dulu. Ia mulai merasa lelah dengan ibadah berat yang terus-menerus ia jalani. Di saat itulah ia berkata penuh penyesalan, “Andai saja aku menerima keringanan dari Rasulullah.” Kini, ia hanya bisa mendengar bacaan Al-Qur’an dari keluarganya. Ia juga mulai mengqadha puasa-puasa sunnah yang tertinggal. Semua itu ia lakukan demi menjaga konsistensi dengan amalan yang dahulu pernah dijalani.
Kisah ini menyimpan pelajaran besar. Semangat ibadah yang meluap-luap tanpa kebijaksanaan bisa menimbulkan ketimpangan. Abdullah bin Amr bukan orang lalai, melainkan terlalu idealis. Ia ingin menjadi hamba yang paling taat, namun lupa bahwa menjadi suami yang penuh perhatian juga bagian dari ibadah. Islam tidak mengajarkan kita untuk tenggelam dalam ibadah pribadi sampai melupakan hak orang lain, terutama pasangan hidup yang telah sah secara syariat.
Rasulullah sendiri adalah teladan terbaik. Beliau sangat dekat dengan Allah, namun tak pernah mengabaikan keluarganya. Beliau membantu pekerjaan rumah, berbincang dengan istri-istri beliau, bahkan bercanda untuk menghibur mereka. Ini membuktikan bahwa spiritualitas sejati bukan tentang menyendiri terus-menerus, tetapi tentang hadir secara utuh, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sosial. Kesalehan bukan hanya tentang sajadah, tetapi juga tentang kebersamaan. Rasul pernah bersabda:
أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي. رواه البخاري ومسلم
Artinya, "Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan yang paling bertakwa kepada-Nya. Tapi aku berpuasa dan juga berbuka, aku salat dan aku juga tidur, dan aku menikahi perempuan. Maka siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukan termasuk golonganku." (HR Bukhari dan Muslim)
Berkaitan dengan hadits di atas, Syekh Mula Ali Al-Qari menjelaskan:
أَيْ: أَنَا أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، فَيَنْبَغِي عَلَى زَعْمِكُمْ أَوْ فِي الْحَقِيقَةِ أَنْ أَقُومَ فِي الرِّيَاضَةِ إِلَى أَقْصَى مَدَاهُ، لَكِنْ أَقْتَصِدُ وَأَتَوَسَّطُ فِيهَا، فَأَصُومُ فِي وَقْتٍ، وَأُفْطِرُ: فِي آخَرَ، وَأُصَلِّي: بَعْضَ اللَّيْلِ، وَأَرْقُدُ: فِي بَعْضِهِ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ: وَلَا أَزْهَدُ فِيهِنَّ، وَكَمَالُ الرَّجُلِ أَنْ يَقُومَ بِحُقُوقِهِنَّ مَعَ الْقِيَامِ بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، وَالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ، وَالتَّفْوِيضِ إِلَيْهِ، وَهَذَا كُلُّهُ لِيَقْتَدِيَ بِيَ الْأُمَّةُ
Artinya, "Aku (Nabi Muhammad) adalah orang yang paling takut kepada Allah. Maka, menurut anggapan kalian—atau memang kenyataannya begitu—seharusnya akulah yang paling pantas untuk menempuh latihan spiritual secara ekstrem. Tapi justru aku memilih bersikap moderat dan seimbang: aku berpuasa pada waktunya, dan berbuka di waktu lain; aku salat di sebagian malam, dan tidur di sebagian lainnya; aku juga menikahi perempuan, dan tidak bersikap zuhud dari mereka."
"Kesempurnaan seorang laki-laki terletak pada kemampuannya menunaikan hak-hak istri, sembari tetap menjalankan kewajiban-kewajiban kepada Allah dengan penuh tawakal dan penyerahan diri kepada-Nya. Semua ini aku lakukan agar umatku menjadikanku teladan dalam hidup yang seimbang dan manusiawi." (Al-Qari, 2002: juz 1, h. 227)
Dari penjelasan Al-Qari ini dapat dipahami bahwa Rasulullah mengajarkan konsep kesalehan yang moderat dan seimbang. Meskipun beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah, beliau tidak menempuh jalan ekstrem dalam ibadah. Justru, beliau mencontohkan bahwa ibadah yang benar mencakup perhatian pada hak-hak keluarga, seperti istri, serta tetap menjaga hubungan spiritual dengan Allah. Teladan ini menunjukkan bahwa kesalehan sejati mencakup aspek duniawi dan ukhrawi secara proporsional. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


