Arina.id- Mudik merupakan tradisi tahunan di Indonesia yang berlangsung saat Idul Fitri. Pada momen ini, para perantau berbondong-bondong pulang ke kampung halaman setelah sekian lama merantau untuk bekerja dan mencari nafkah di kota atau daerah lain. Selain sebagai ajang silaturahim dengan keluarga, mudik juga menjadi simbol eratnya ikatan kekeluargaan serta kerinduan terhadap tanah kelahiran dan suasana kampung yang telah lama ditinggalkan.
Dalam Islam, perjalanan jauh, termasuk mudik, tidak hanya dipandang sebagai aktivitas bepergian dari satu daerah ke daerah lain, tetapi juga mengandung unsur spiritual. Islam mengajarkan agar setiap pekerjaan yang kita lakukan dapat mendatangkan pahala. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan perjalanan mudik, dianjurkan untuk melakukan beberapa amalan yang dapat membuat perjalanan kita lebih berkah dan bernilai pahala, terlebih di bulan Ramadan yang merupakan momen penuh keberkahan.
Berikut adalah tiga amalan yang dianjurkan sebelum mudik.
1. Perjalanan di Hari Kamis
Dianjurkan untuk memulai perjalanan mudik pada hari Kamis pagi. Hal ini didasarkan pada kebiasaan Rasulullah yang memulai perjalanan, termasuk saat berangkat Perang Tabuk, pada hari Kamis pagi. Beliau juga mendoakan keberkahan pada waktu tersebut, sehingga umat Islam dianjurkan mengikuti sunnah ini agar perjalanan lebih lancar dan diberkahi. Dalam satu hadits diriwayatkan,
رَوَى جَابِرٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَلَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ وَهُوَ يُرِيْدُ تَبُوْكَ، وَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا.
Artinya, “Jabir meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi SAW melakukan perjalanan untuk melaksanakan Perang Tabuk, lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya.” (HR Kharaithi)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin menegaskan bahwa tidak diperkenankan memulai perjalanan pada hari Jumat setelah matahari terbit. Hal ini dikarenakan jika perjalanan tersebut menyebabkan seseorang meninggalkan sholat Jumat, maka ia akan berdosa. Oleh karena itu, dianjurkan untuk berangkat sebelum Jumat tiba atau setelah sholat Jumat selesai. (Al-Ghazali, 2016: juz I, h. 340-341)
2. Sholat Istikharah dan sholat Safar
Menurut Imam Nawawi dalam Al-Adzkār, jika seseorang telah memiliki niat untuk mudik, dianjurkan untuk terlebih dahulu bermusyawarah dengan keluarga guna mempertimbangkan berbagai aspek perjalanan, termasuk kesiapan dan keamanan. Selain itu, disunahkan melaksanakan sholat istikharah agar mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai waktu dan keadaan terbaik untuk melakukan perjalanan. Dengan bermusyawarah dan beristikharah, seseorang diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat serta mendapatkan kemudahan dan keberkahan dalam perjalanannya.
Setelah keputusan bulat, sebelum berangkat dianjurkan untuk melaksanakan sholat safar sebanyak dua rakaat. Rasulullah ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi menjelaskan bahwa sholat sunah ini memiliki khasiat untuk memohon perlindungan dan keselamatan selama perjalanan. Dengan melaksanakan sholat safar, diharapkan perjalanan menjadi lebih lancar, dijauhkan dari marabahaya, serta diberikan keberkahan hingga tiba di tujuan dengan selamat.
Anjuran ini berdasarkan hadits Rasulullah berikut,
مَا خَلَّفَ أَحَدٌ عِنْدَ أَهْلِهِ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِيْنَ يُرِيْدُ سَفَراً
Artinya, “Tidak ada yang lebih utama ketika seseorang hendak bepergian kecuali melaksanakan sholat (sunnah safar) dua rakaat.” (HR Thabrani)
Secara praktis, sholat sunah safar dilakukan sebanyak dua rakaat. Adapun niatnya adalah sebagai berikut,
أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatas safari rak’ataini lillāhi ta’ālā
Artinya, “Saya niat sholat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ālā.”
Pada rakaat pertama setelah membaca surat Al-Fātiḥah, kita dianjurkan membaca surat Al-Kāfirūn atau Al-Falaq dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlāsh atau An-Nās. Setelah salam dianjurkan membaca Ayat Kursi dan surat Al-Quraisy. Menurut Imam Nawawi, khasiat membaca surat Ayat Kursi dan Al-Quraisy sebelum perjalanan adalah agar perjalanan mudik tetap aman, lancar, dan tanpa gangguan apapun. (An-Nawawi, 2005: h. 358-361)
3. Membaca Doa Naik Kendaraan
Apabila semua barang bawaan telah dimasukkan ke dalam kendaraan dan kita pun sudah siap berangkat, dianjurkan untuk membaca doa sebelum memulai perjalanan. Doa ini dibaca saat sudah berada di atas kendaraan, sebagai bentuk tawakal kepada Allah agar perjalanan diberi kelancaran, keselamatan, serta dijauhkan dari segala marabahaya dan kesulitan. Berikut redaksi doanya:
اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ. سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسألُكَ فِي سفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ العَمَلِ ما تَرْضَى. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اَللَّهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالخَلِيفَةُ فِيْ الْأَهْلِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِيْ الْمَالِ وَالْأَهْلِ.
Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha Suci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakan-Mu.”
“Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keburukan ketika kembali dalam harta dan keluarga.”
Dengan mengamalkan tiga hal ini diharapkan perjalanan mudik kita berlangsung dengan lancar, selamat, dan penuh berkah. Semoga Allah memberikan perlindungan, menjauhkan dari bahaya, serta mempertemukan kita kembali dengan keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia. Amin.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


