Arina.id - Abdullah bin Mubarak atau Ibnu Mubarak, adalah seorang tokoh terkemuka di zamannya yang dikenal sebagai ulama dermawan dan zuhud. Ia juga cukup berani dalam memberikan nasihat dan teguran. Salah satu contohnya adalah ketika ia memberikan teguran pada sahabatnya yang diangkat menjadi pejabat di era Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Imam Ibnul Jauzi dalam Kitab 'Uyunul Hikayat. (Ibnu Jauzi, 'Uyunul Hikayat, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2019], halaman 213-214) mengisahkan, meskipun telah menjadi tokoh agama, Ibnu Mubarak tetap bekerja menjadi pedagang gandum di Khurasan. Keuntungan yang didapat biasanya dialokasikan untuk menafkahi keluarga, tabungan haji, dan berbagi dengan 5 sahabatnya, salah satunya adalah Ibnu Ulayyah, riwayat lain menyebutkan namanya Syarik bin Abdullah Al-Nakha’i.
Suatu hari, Ibnu Mubarak diberitahu bahwa sahabatnya itu telah dilantik menjadi salah seorang pejabat, tepatnya menjadi seorang qadli, riwayat lain menyebut menjadi pejabat urusan zakat. Sejak saat itu, Ibnu Mubarak tidak lagi memberikan sebagian keuntungan dagangnya kepada Ibnu Ulayyah.
Keadaan ini membuat Ibnu Ulayyah merasa galau, ia kemudian berusaha menemui Ibnu Mubarak untuk meminta penjelasan atas dihentikannya sumbangan. Sayangnya, ketika Ibnu Ulayyah menemuinya, Ibnu Mubarak malah bersikap acuh seolah tidak mengenalnya. Kondisi ini membuat kegelisahan Ibnu Ulayyah semakin bertambah hingga akhirnya dia menulis surat sebagaimana berikut:
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah senantiasa membahagiakanmu dengan ketaatan kepada-Nya, menyelimutimu dengan penjagaannya-Nya, dan melindungimu dengan perlindungan-Nya. Aku telah menunggu kebaikan bantuan darimu yang biasanya sampai kepadaku. Kemarin, aku datang menemuimu namun engkau tidak berkenan berbicara denganku dan aku berpikir sepertinya engkau marah kepadaku. Sebenarnya apa yang membuatmu marah kepadaku? supaya aku bisa memohon maaf kepadamu.” tulis Ibnu Ulayyah dalam surat yang ditujukan pada Ibnu Mubarak.
Setelah menerima surat tersebut, Ibnu Mubarak kemudian membalasnya dengan syair teguran yang membuat sahabatnya itu seolah tersambar petir karena menyebutnya seperti pemangsa harta orang miskin, sebagaimana berikut:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يَا جَاعِلَ الدِّيْنِ لَهُ بَازِيًا ۞ يَصْطَادُ أَمْوَالَ الْمَسَاكِيْنَ
اِحْتَلْتَ لِلدُّنْيَا وَلَذَاتِهَا ۞ بَحِيْلَةً تَذْهَبُ بِالدِّيْنِ
فَصِرْتَ مَجْنُوْنًا بِهِا بَعْدَمَا ۞ كٌنْتَ دَوَاءً لِلْمَجَانِيْنَ
أَيْنَ رِوَايَاتُكُ فِيْ سَرْدِهِا ۞ عَنِ ابْنِ عَوْن وَابْنِ سِيْرِيْن
أَيْنَ رِوَايَاتُكُ فِيْ سَرْدِهِا ۞ لِتَرْكِ أَبْوَابَ السَّلاطِيْن
إِنْ قُلْتَ: أُكْرِهْتُ فَذَا بَاطِلٌ ۞ ذَلَّ حِمَارُ الْعِلْمِ فِي الطِّيْن
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai orang yang menjadikan agama sebagai burung elang, untuk memburu dan menjaring harta orang-orang miskin. Kau jalankan strategi untuk meraih dunia dan nikmatnya, dengan strategi yang melenyapkan agama. Maka engkau berubah menjadi orang yang gila dunia, setelah sebelumnya engkau menjadi obat bagi orang-orang gila. Di manakah riwayat-riwayatmu di dalam untaiannya, hadits-hadits dari Ibnu Aur dan Ibnu Sirin. Di manakah riwayat-riwayatmu di dalam untaiannya, tentang meninggalkan pintu-pintu penguasa. Jika engkau berdalih karena dipaksa maka itu alasan batil, si pemikul ilmu telah tergelincir di kubangan lumpur.”
Setelah membaca bait-bait syair tersebut, Ibnu Ulayyah langsung bangkit dan menemui Harun Ar-Rasyid. Dalam pertemuan tersebut Ibnu Ulayyah langsung mengajukan pengunduran diri sebagai qadli. Setelah berdiskusi cukup alot, akhirnya Harun Ar-Rasyid menerima pengunduran diri tersebut dan Ibnu Ulayyah kembali hidup sebagai rakyat biasa seperti sebelumnya. Ketika Ibnu Mubarak mendengar bahwa Ibnu Ulayyah sudah tidak lagi menjadi pejabat, ia pun kembali membagikan hasil usahanya kepada Ibnu Ulayyah.
***
Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa jabatan apapun mestinya digunakan untuk tujuan yang baik dan menghindari segala bentuk penyalahgunaan dan penyelewengan yang bisa merugikan masyarakat. Teguran dan kritik Ibnu Mubarak ini juga bisa menjadi pengingat bagi para pejabat bahwa jabatan yang tidak dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan amanah, bisa berubah menjadi alat pemangsa harta orang miskin, pada akhirnya hal itu akan membawa keburukan di dunia maupun akhirat. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


