Oleh: Masnun Tahir
Dalam proses penciptaan kita sebagai manusia, Tuhan sematkan di hati kita masing-masing satu kekuatan yang bernama ”empati” sebagai modal sosial untuk berinteraksi dan bersosialisasi (lita’arafu) dengan sesama. Dengan modal itulah manusia dihajatkan mampu mensifati beberapa sifat Tuhan, seperti menolong, berbagi, peduli, kasih sayang, dan mencinta.
Nuansa haji merupakan perkumpulan manusia sedunia dengan berbagai varian usia dan kondisinya, mulai dari yang masih muda hingga yang lansia. Khusus yang lansia, kepedulian kita merasa terpanggil, karena melihat kondisi mereka yang lemah dan hampir tak berdaya, sementara ambisi untuk dapat beribadah dengan sempurna terlihat jelas dari pancaran matanya. Seakan-akan meminta bantuan untuk dapat melakukan ibadah secara maksimal, mereka ingin beribadah seperti yang dilakoni oleh jamaah usia muda.
Hanya orang-orang yang tidak memiliki rasa cinta yang tidak tergugah empatinya melihat para lansia berbalut harapan untuk mendapatkan kepedulian kita. Dengan luapan rasa cinta kepada sesama, kita tumpahkan perhatian dan kepedulian kepada mereka, dibarengi dengan empati yang tinggi, dan difasilitasi oleh kebijakan yang manusiawi dari Kementerian Agama yang bernama ”Murur”.
Kebijakan murur merupakan agenda kemanusiaan yang sengaja dirancang untuk memastikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan bagi jamaah haji lanjut usia (lansia) yang memiliki keterbatasan fisik dan memerlukan perhatian khusus, seperti lokasi khusus, fasilitas tambahan, petugas pendamping khusus, prosedur khusus, pengawasan dan keamanan, dan pengelolaan kesehatan khusus.
Dengan agenda kemanusiaan inilah, Kementerian Agama berusaha memastikan bahwa jamaah haji lansia dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih mudah, nyaman, dan aman, tentunya dengan dukungan dan fasilitas tambahan yang dapat membantu lansia mengatasi tantangan fisik yang mereka hadapi selama pelaksanaan ibadah haji.
Adapun Skema murur ini pertama kali diterapkan pada musim haji tahun 2024 dengan perhitungan 25 % atau sekitar 55 ribu orang jamaah haji mendapatkan pelayanan yang diprioritaskan, dengan kondisi jamaah yang memiliki risiko tinggi (risti), lanjut usia (lansia), disabilitas serta pendamping lansia.
Pelayanan yang diberikan kepada lansia, risti, dan disabilitas, difokuskan pada aktivitas selama di ”Armuzna” (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Di lokasi inilah aktivitas haji terpusat dan perlu mendapat perhatian. Teringat kita dengan penggalan lagu qasidah yang berjudul ”Panggilan Haji” yang dilantunkan dengan melankolis oleh Hj. Nur Asiah Jamil.
Lagu ini sering kita dengar sejak masih kecil seusia SD, apalagi waktu gotong royong di masjid dan ketika ada keluarga yang akan menunaikan ibadah haji. Hanya saja muatan-muatan moral dari lirik lagu tersebut saat itu belum kita fahami, bahwa ternyata yang dilantunkan dalam lagu tersebut adalah ”Armuzna”. Hanya secara substanstif di Armuzna inilah puncak penyelenggarakan ibadah haji yang membutuhkan atensi dari seluruh umat yang sedang berkhidmat di tanah suci tak terkecuali para petugas haji.
Sekjen Kementerian Agama RI menekankan perlunya konsolidasi yang kokoh antara petugas haji dan petugas lapangan lainnya di dalam mematangkan pelaksanakan murur yang merupakan kebijakan mandatori untuk kemaslahatan jamaah lansia, risti, disabilitas dan pendampingnya.
Berinteraksi dengan komunitas lansia, terbayang kita akan satu masa dan satu waktu yang akan kita lalui dalam rute perjalanan usia. Kita nanti akan sampai juga pada kondisi seperti mereka. Itulah empati yang dapat melahirkan sikap dan perilaku kemanusiaan, berupa perhatian, peduli, pertolongan, dan bantuan yang lahir dari rasa cinta yang mendalam terhadap sesama.
Menghadapi mereka yang lemah tak berdaya, menjadikan kita terkenang akan orang tua kita yang sudah mendahului menghadap Tuhan. Aktivitas menolong para lansia, para risti, dan disabilitas seakan menolong dan memperhatikan orang tua kita sendiri. Kata Nabi saw: ”Birru aba akum tabirrukum abnaukum”, (Berbaktilah kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian)
Sebuah ungkapan indah yang mengandung pesan moral yang mendalam tentang pentingnya berbakti kepada orang tua sebagai sebuah tindakan yang tidak hanya membawa kebahagiaan dan keberkahan, tetapi juga sebagai teladan yang baik bagi generasi berikutnya. Dengan berbakti kepada orang tua, kita tidak hanya memenuhi kewajiban moral dan spiritual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang akan diwariskan kepada anak-anak cucu kita.
Jamaah haji lansia, risti, maupun disabilitas memang sering menghadapi tantangan yang besar selama proses keberangkatan haji, mulai dari pengurusan dokumen, pemeriksaan kesehatan, sampai kepada pemenuhan logistik. Sehingga Kementerian Agama mengambil kebijakan fast track khusus untuk jamaah haji lansia, risti, dan disabilitas untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan ekstra bagi mereka.
Tentunya dengan menyediakan layanan yang ramah, seperti pelayanan yang sabar, pengertian, bersahabat, komunikatif, dan menghormati kemandirian sambil tetap siap membantu jika diperlukan, dengan standar pendekatan yang empatik dan penuh perhatian.
Inovasi untuk memberikan prioritas bagi lansia dalam berbagai sektor dan kloter dapat melibatkan teknologi, kebijakan, dan inisiatif khusus yang dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas, kenyamanan, dan pelayanan bagi mereka. Seperti rumah sakit dan pusat kesehatan telah membuka klinik khusus yang ditujukan untuk lansia. Inovasi tersebut menunjukkan adanya komitmen dari berbagai sektor untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan memberikan prioritas dan perhatian khusus terhadap kebutuhan mereka.
Kebijakan murur misalnya, yang diperuntukkan bagi jamaah lansia, disabilitas, dan yang sakit, sangat penting diberlakukan. Hal ini untuk memastikan mereka dapat melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman, melalui penyediaan fasilitas khusus, pelayanan dan bantuan khusus, serta edukasi dan koordinasi yang baik. Ini penting menjadi suatu tindakan seni di dalam melayani yang melibatkan rasa, seperti kepekaan, kreativitas, empati, dan kemampuan beradaptasi.
Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, melayani lansia tidak hanya menjadi tugas, tetapi juga sebuah seni yang dapat memperkaya pengalaman hidup baik bagi petugas maupun lansia itu sendiri. Keberhasilan dalam seni pelayanan ini terletak pada kemampuan untuk membuat lansia merasa dihargai, diperhatikan, dan dicintai.
Pada akhirnya, perlu kita merenung secara mendalam bahwa memperhatikan lansia, risti, dan disabilitas adalah menjadi tanggung jawab sosial dan moral kita, karena lansia telah memberikan kontribusi yang signifikan sepanjang hidup mereka, baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas.
Mereka telah bekerja, membesarkan anak, dan mendukung berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga memberikan perhatian kepada mereka adalah cara untuk menghargai dan mengakui kontribusi tersebut.
Lansia membutuhkan perhatian dan cinta karena berbagai alasan yang berhubungan dengan kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial mereka. Lansia sering kali menghadapi kesepian dan isolasi sosial, terutama jika mereka kehilangan pasangan hidup atau teman-teman dekat. Perhatian dan cinta dari keluarga dan teman-teman dapat membantu mengurangi perasaan kesepian dan depresi, serta meningkatkan kesejahteraan emosional mereka.
Lansia yang mendapatkan perhatian dan cinta cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik, mereka merasa dihargai, aman, dan bahagia, yang dapat berdampak positif pada kesehatan fisik dan mental mereka. Perhatian dan cinta juga berfungsi sebagai dukungan sosial yang penting bagi lansia, karena dapat membantu mereka mengatasi tantangan sehari-hari, seperti masalah kesehatan, keterbatasan fisik, dan kebutuhan dasar lainnya.
Dengan memberikan perhatian dan cinta kepada lansia, kita tidak hanya membantu mereka merasa lebih bahagia dan sehat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian dalam masyarakat.
Rasa cinta memang memiliki kekuatan untuk melahirkan sikap dan perhatian yang tulus, membuat kita lebih sabar dalam menghadapi perubahan dan tantangan terutama dalam menghadapi para lansia. Penurunan fisik dan kognitif seringkali membutuhkan kesabaran ekstra, dan cinta membantu kita untuk lebih mengerti dan menerima keadaan mereka tanpa frustrasi.
Ketika kita mencintai seseorang, kita cenderung lebih peka terhadap kebutuhan mereka, baik kebutuhan fisik seperti perawatan kesehatan, atau kebutuhan emosional seperti dukungan dan kebersamaan. Cinta melahirkan sikap yang penuh kehangatan dan kelembutan yang dibutuhkan dalam berinteraksi oleh para lansia, yang mungkin merasa rentan atau kesepian. []
Penulis adalah Rektor UIN Mataram dan Anggota Tim Monev Haji 2024
Editor: Muhammad Faizin


