Tradisi sufi bagaikan sebuah taman dengan diameter begitu luas. Di dalamnya terdapat beragam bunga dengan aroma dan warna yang berbeda. Masing-masing bunga sangat menarik dan indah, masing-masing merefleksikan satu aspek taman surga, dan masing-masing dengan bentuk khasnya sendiri.
Ada tradisi sufi tertentu yang lebih terkesan praktis dan operatif, yang lain mengekspresikan tradisi doktrin-doktrin metafisis dan kosmologis, sementara kelompok yang lain menggunakan hikayat untuk menyampaikan pesan tasawuf. Sekalipun realitas batin tasawuf di mana pun adalah sama, berisi dan merefleksikan inti pesan Islam itu sendiri, apapun model dan bentuk tradisi tarekat namun sumbernya satu yaitu Haqiqatul Muhammadiyah dan tujuannya satu yaitu hadrah Ahadit Dzat.
Salah satu tradisi sufi dalam tarekat adalah tradisi suluk yang merupakan ciri khas pengamalan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dalam Tanwirul al-Qulub menjelaskan, "Tarekat Naqsyabandiyyah merupakan tarekat yang paling dekat dan paling mudah bagi murid untuk mencapai derajat tauhid, meskipun kemampuan penerimaan si murid kurang baik dan tidak memiliki kesiapan yang sempurna untuk meraih derajat tinggi itu. Oleh karena itu, Syaikh atau mursyid yang menjadi guru dalam tarekat ini akan berupaya melakukan pengaturan pada sang murid dengan menambahkan rasa cinta kepadanya."
Suluk merupakan metode yang dilakukan oleh mursyid tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dalam upaya untuk memperbaiki kondisi spiritual murid. Sebagai contoh, tradisi suluk yang berlangsung di setiap bulan Ramadhan di Pesantren Darul Ihsan Pawoh, Labuhan Aceh Selatan, pimpinan Abuya H. Amran Waly Al-Khalidi Al-Naqshabandi. Tradisi suluk bulan Ramadhan ini melanjutkan apa yang telah dilaksanakan oleh ayahnya, Al-Mukarram Abuya Syekh Muhammad Muda Waly al-Khalidi.
"Selama mengikuti suluk, kita harus dapat menjaga mata melihat hal yang tidak perlu apalagi melihat yang haram, maka kita harus menutup mata agar hati kita hidup. Jika membuka mata maka hati kita tertidur," jelas Abuya menjelaskan tentang tujuan suluk ketika kedatangan tamu jurnalis televisi, Maret lalu.
“Ulama sufi itu ibarat Ka'bah. Orang yang jauh datang berbondong-bondong. Orang yang dekat tidak menghiraukan."
Metode suluk dalam tasawuf sebagai upaya untuk membendung dan mengatasi berbagai keterpengaruhan yang tidak baik, termasuk pengaruh dari kelompok Islam fundamentalis yang terkesan bersifat ekstrim, dan sentimental terhadap kelompok yang tak seidiologi dengan pemikiran mereka. Adapun suluk lebih menitikberatkan dalam mengekspersikan nilai-nilai toleransi, anti kekerasan, cinta damai dan menjunjung tinggi moralitas (akhlak mulia), bahwa apapun bentuk keperbedaan pemikiran, pemahaman, idiologi merupakan fitrah yang datang dari Ilahi.
Ibadah suluk adalah tradisi mengasingkan diri untuk berzikir secara terus menerus dengan menutup kepala hingga wajah yang menggunakan sorban, kain dan mukena, hal ini dilakukan agar para jamaah, dapat lebih fokus dan khusyuk dalam mengingat, dan mendekatkan diri terhadap hadrah Ilahi.
Al-Imam Al-Ghazali, menjelaskan ibadah suluk adalah
أعلم: ان االسلوك هو تهذيب الاخلاق والأعمال والمعارف، وذلك اشتعغال بعمارة الظاهر والباطن، والعبد فئ جميح ذلك مشغول عن ربه إلا أنه مشتغل بتصغية باطنه ليستعد للوصول.
Ketahuilah suluk adalah proses penyucian (tahzib) akhlak, amal dan makrifat dari segala sesuatu selain Allah. Suatu kesibukan untuk membangun lahir dan bathin. Dalam kondisi ini, seorang hamba akan dibuat lupa kepada Tuhannya, tetapi ia sibuk membersihkan batinnya agar siap untuk wushul kepada Allah. (Kitab: Raudha ath Thalibin wa' Umdatu as Salikin dalam Majmu Rasa'il, Maktabah al-Tawfikiyah, Al-Qahirah, hal 108).
Suluk di bulan ramadhan merupakan suatu bentuk metode praktis dalam memperoleh puasa khawash (khusus) dan puasa khawashul khawas (puasanya orang-orang yang sangat khusus). Kita tidak hanya menahan perut dari makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari yang merupakan model puasa awwam. Tapi harus meningkat ke level di atasnya, yaitu menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang diharamkan serta menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, dengki, riya dan sifat buruk lainnya. Puasa khawashul khawash menahan hati untuk tidak mengingat selain Allah dan menahan ruh supaya tidak mencintai kecuali hanya Allah dan menahan sirr untuk tidak menyaksikan (Syuhud) selain Allah.
Adapun dalam mengikuti suluk jamaah tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan yang mengandung darah, seperti, daging, ikan dan telur, selama menjalankan ibadah ini yang dimulai 1 Ramadhan hingga berakhir pada 1 Syawal.
Para jamaah suluk di Pesantren Darul Ihsan pimpinan Abuya Syekh H. Amran Waly selain jamaah lokal juga datang dari berbagai penjuru Nusantara, diantaranya, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Jawa, termasuk Malaysia dan Singapura.
Budi Handoyo
Dosen Prodi Hukum Tatanegara, Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam, STAIN Teungku Dirundeng, Meulaboh, Aceh.
Editor: Muhammad Zunus


