Dark
Light
Dark
Light

Kiblat Masjid Demak: Ditentukan Sunan Kalijaga, Ditashih Syekh Arsyad Banjar

Kiblat Masjid Demak: Ditentukan Sunan Kalijaga, Ditashih Syekh Arsyad Banjar

Polemik arah kiblat di Nusantara mulai mencuat ke publik hingga diperbincangkan ulama Haramain pada abad 18 M. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menceritakan pengalamannya saat di Makkah, ketika ia mendengar silang pendapat masyarakat Betawi perihal kiblat; apakah cukup menghadap ke barat saja, ataukah serong ke utara sebesar 22 derajat? Hal ini mengetuk Syekh Arsyad untuk mengkaji kitab-kitab falak kepada para masyayikh di Kota Makkah.

Secara geografis, Betawi terletak di selatan garis khatulistiwa dengan lintang 6 derajat, dan selisih bujur ke Makkah 63 derajat, sehingga mengharuskan serong ke utara. Para masyayikh di sana akhirnya berfatwa, yang benar adalah menghadap serong ke kanan atau utara. 

Untuk mengetahui kekeliruan arah kiblat suatu masjid, Syekh Arsyad menyimpulkan dua hal. Pertama, terdapat perbedaan arah kiblat antar masjid yang berdekatan. Kedua, ada bantahan dari orang yang ahli dalam ilmu falak.

Syekh Arsyad kembali menceritakan perjalanan hidupnya dalam risalah Mas-alatul Qiblah fil Batawi yang ia tulis:


و لما وصلت أنا الحقير إلى البتاوي و طلبت الفرقتان مني تحرير أمر القبلة و أخبرت بالقواعد المقررة في الرسائل المؤلفة لاستخراج سمت القبلة وجدت عين ما قالت الفرقة الثانية المنحرفة. فحينئذ قلت أنا الحقير ثبت الطعن في تلك المحاريب، و صح طعن مولانا السيد أحمد بافقيه و مولانا السيد العلوي بافقيه و من بعدهما من العلماء إلى يومنا هذا. فالحقير الضعيف مصحح و مثبت لطعن هؤلاء العلماء.

“Ketika saya tiba di Betawi, kedua kelompok (yang silang pendapat) itu meminta saya untuk mengklarifikasi masalah kiblat, saya sampaikan kaidah-kaidah yang berlaku dalam beberapa risalah yang disusun untuk mendapatkan azimuth kiblat. Saya menemukan persis apa yang dikatakan kelompok kedua  (bahwa kiblat Betawi harus miring ke utara). Kemudian saya sampaikan, mihrab-mihrab tersebut memang terbukti ada yang membantahnya. Validlah bantahan dari Sayyid Ahmad Bafaqih dan Sayyid Alawi Bafaqih dan para ulama setelah keduanya hingga hari ini. Saya pribadi turut mengoreksi dan membenarkan bantahan ulama itu”.

Masih dalam risalah yang sama, Syekh Arsyad mengungkapkan bahwa kiblat di Betawi ketika itu banyak yang keliru, ia kemudian memberikan contoh masjid yang kiblatnya benar, yaitu Masjid Demak. Berikut redaksinya:


 
و محاريب البتاوي التي على خط المشرق و المغرب متيقن خطأها لمخالفتها لما أفادته الأدلة المقررة في استخراج سمت الكعبة التي ذكرها علماء الميقات و الفقهاء الثقات و مخالفتها للمحاريب المعتمدة التي لم يتوجه عليها طعن أصلا كمحراب مسجد دمّق فإنه موثوق به لموافقته ما أفادته الأدلة و لم يتوجه طعن أصلا. و قد أخبرنا جماعة من المسلمين بأن محراب دمق قد فتش بوضع بيت الإبرة فوجد أنه منحرف عن خط المشرق و المغرب إلى جهة اليمين بنحو اثنين و عشرين و نصف درجة فهو موافق لما أفادته الأدلة. 

"Mihrab-mihrab (Masjid) Betawi yang sejajar dengan arah timur-barat (menghadap barat) jelas keliru, karena bertentangan dengan dalil yang telah ditetapkan untuk menentukan arah Ka’bah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama miqat (falak) dan ahli fiqih yang terpercaya. Mihrab-mihrab ini juga bertentangan dengan mihrab-mihrab lain yang telah diterima namun belum pernah dibantah, seperti Mihrab Masjid Demak yang sahih karena sesuai dengan dalil, dan belum pernah dibantah. Sekelompok muslim memberi tahu kami bahwa mihrab (Masjid) Demak telah diperiksa berdasarkan posisi jarum (kompas) dan ditemukan miring dari arah timur-barat ke kanan sekitar 22,5 derajat, sehingga sesuai dengan dalil (hisab arah kiblat)”. 

Angka 22,5 derajat itu menunjukkan telah menghadap ainul ka’bah urfi, yaitu menghadap tepat bangunan ka’bah dengan selisih hanya satu sampai dua derajat. Jika tepat persis disebut dengan ainul ka’bah hakiki. Yang dituntut dalam mazhab Syafi’i adalah menghadap ainul ka’bah secara yakin ketika dekat dari ka’bah dan dengan zhan jika jauh darinya, dan itu sudah memadai dengan urfi. Komentar Syekh Arsyad tentang kebenaran arah kiblat Masjid Agung Demak itu ditulis pada tahun 1772 atau 253 tahun yang lalu. 

Belakangan, pada tahun 2010, tepatnya Kamis dan Jum’at, 15-16 Juli 2010, Tim Hisab Rukyah Jawa Tengah beserta Tim Hisab Rukyah Demak pernah mengukur kembali kiblat Masjid Agung Demak dengan metode rashdul kiblat pada pukul 16.27 WIB, saat itu bertepatan dengan posisi matahari di atas ka’bah. Pengukuran juga disaksikan oleh ketua umum takmir yang juga Wakil Bupati Demak. Dengan bantuan GPS, geografis Masjid Agung Demak berada di 6° 53' 40.3” LS dan 110° 38 15.3” BT; arah kiblatnya adalah 294° 25’ 39.4” UTSB atau 24° 25’ 39.4" dari arah barat ke utara. Artinya, kiblat Masjid yang sekarang ini selisih 12 derajat 1 menit kurang ke utara. Saat itu arah kiblat diluruskan ke ainul ka’bah atau ke arah 24° 25’ 39.4" barat ke utara.

Perubahan ini hanya merubah shaf saja, disosialisasikan pada 23 Juli 2010 dengan mengundang 150 ulama demak dan dihadiri oleh Bupati dan Kemenag Demak. Namun pada perkembangan selanjutnya, tahun 2012, kiblat Masjid Demak dikembalikan seperti sedia kala, dengan alasan husnuzhon dan ta’zhim kepada para wali.
Kenyataan kurang ke utara sebesar 12 derajat ini memang unik. Ia tidak persis menghadap ke ainul ka’bah hakiki atau 294° 25’ 39.4”, dan tidak juga menghadap ke barat persis arah 270 derajat sebagaimana umumnya masjid-masjid yang ada di Nusantara pada saat itu, kiblat Masjid Demak berada di tengah-tengah. Hal ini menimbulkan asumsi baru, sebagaimana nanti saya jelaskan di bagian akhir. Bahkan ada yang meragukan kewalian Sunan Kalijaga karena keliru menentukan arah kiblat. Apakah Sunan Kalijaga tidak paham masalah kiblat? Tunggu dulu.

Dalam sebuah manuskrip kuno beraksara Jawa (Hanacaraka) ditemukan catatan kisah penentuan arah kiblat Masjid Demak. Saat itu ada delapan wali sempat berdebat perihal kiblat yang belum menemukan titik temu. Selanjutnya, Sunan Kalijaga meminta perkenan kepada sang guru, Sunan Bonang, untuk menentukan kiblat. Seorang peneliti sumber primer tentang sejarah Walisongo, Ahmad Baso, menyalin kutipan manuskrip tersebut sebagai berikut:


 
“Marep mangidul brenggagah asta kiwa anyandhak sirah ing masjid, kang asta tengen anggayuh, sirah ing Kakbatullah, tan antara kakbah lan masjid wus gathuk. Sunan Kali aris turnya, lah sedaya kali pundi. 
Puniko mongso owaha, saking Misre ing kanan kelawan kering, pan pitulunging Yyang Agung, pra wali mawas samya, wus mufakat kakbatullah sigra wangsul. Wanci pajar sidik, asalat kang para wali
”.

Artinya: “Sunan Kalijaga berdiri menghadap selatan, lalu menancapkan tongkat, lalu bayangannya mewakili puncak masjid, kemudian menancapkan tongkat kedua yang mewakili arah ka’bah; kemudian, di antara keduanya dipertemukan dalam bayangan tersebut. Sang Sunan bertanya pelan kepada para hadirin: bagaimana kira-kira?

“Itulah pelajaran yang ditunjukkan ilmu miqat (satu sub ilmu dari ilmu falak) dari tradisi keilmuan Mesir, perhatikan perubahannya dari titik koordinatnya pada sisi kanan-kirinya (arah timur maupun barat). Berkat pertolongan Allah SWT, para wali memperhatikan dengan penuh seksama dan mawasdiri, ternyata mereka melihat arah kiblat masjid ke ka’bah sudah pas betul; setelah itu masuklah waktu fajar sebenarnya (fajar shadiq, tanda masuknya waktu subuh), para wali pun kemudian menunaikan shalat subuh berjamaah.”

Dari catatan di atas, menurut Ahmad Baso, Sunan Kalijaga menentukan kiblat tersebut bukan dengan cara supranatural, tapi secara ilmiah, ada alat yang dibawa, yaitu tongkat. Setelah diketahui arah kiblat, lalu para wali shalat subuh. “Sunan Kali adhan sarwi ngamati”, Sunan Kalijaga bertindak lagi sebagai muazin, lalu imam shalatnya adalah Sunan Bonang. Pada abad 14-15, istilah muwaqqit muazin adalah lazim ditemukan beberapa catatan. Muwaqqit atau seorang ahli ilmu waktu (falak) juga bertugas sebagai muazin. Sunan Kalijaga merupakan kader Pulo Opih di Malaka yang sanad keilmuannya terhubung dengan Mesir pada Dinasti Mamluk. 

Kutipan manuskrip dan analisis di atas, mengindikasikan bahwa Sunan Kalijaga menentukan kiblatnya di malam hari dengan berpedoman pada bulan atau bintang. Dalam literatur falak dan fiqih klasik, disebutkan beberapa metode penentuan arah kiblat, ada dengan matahari matahari di siang hari, dengan bulan dan bintang di malam hari, atau juga dengan hembusan angin, lintang dan bujur dan lainnya. Bintang yang dijadikan acuan untuk menentukan kiblat adalah bintang kutub utara, seperti yang disebutkan dalam banyak kitab fiqh. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menyebutkan bagaimana cara menentukan kiblat dengan bintang kutub yang ia kutip dari kitab-kitab fiqh Syafi’i, bahwa bilamana kita berada di Mesir maka kiblatnya adalah dengan menghadapkan daun telinga kiri kita ke arah bintang kutub. Bila berada di Irak, maka menghadapkan daun telinga kanan ke arah bintang kutub. Jika berada di Yaman, maka kibatnya dengan menghadapkan wajah ke bintang kutub; dan jika berada di Syam, dengan mengarahkan wajah membelakangi bintang kutub. Bintang kutub terlihat di belahan bumi bagian utara. Untuk Negeri Banjar dan Jawa maka tidak bisa melihat bintang kutub, karena keduanya berada di bumi bagian selatan. 

Mengingat Pulau Jawa berada di bagian bumi bagian selatan, maka wajar Sunan Kalijaga menghadap ke selatan. Tampaknya ia berpedoman pada bintang layang selatan, yaitu rasi bintang berbentuk layang-layang dan berfungsi sebagai penunjuk arah selatan. Dari arah selatan ini, tinggal nanti dicari kemiringan derajat kiblat Demak ke Makkah. Dikatakan Sunan Kalijaga menentukan kiblat di malam hari, selain indikasi “menghadap selatan” itu, juga shalat subuh berjamaahnya para wali ketika itu. Ditentukan dengan berpedoman pada bulan, juga sangat dimungkinkan, karena ada bayangan tongkat, sementara bayangan akan ada kalau ada cahaya terang.

Akurasi penentuan kiblat dengan bintang itu, menurut literatur falak dan fiqih klasik, adalah metode yang paling akurat. Maka wajar, setelah sekian abad kemudian, tepatnya pada tahun 1772, Syekh Arsyad membenarkan kiblat Masjid Demak yang telah divalidasi oleh sejumlah ulama ketika itu dengan kompas. Kompas sendiri tingkat akurasinya sudah sangat memadai untuk menghadap ainul ka’bah urfi. Walhasil, kiblat yang ditentukan Sunan Kalijaga ketika itu adalah benar menghadap ka’bah. Kesimpulan ini setidaknya menenangkan orang yang sempat meragukan kewalian Sunan Kalijaga. Keraguan akan kewalian Sunan Kalijaga ini saya dapatkan infonya dari wartawan senior di Jawa Tengah.

Lalu mengapa menurut penelitian sekarang kiblat Masjid Agung Demak tidak lagi tepat menghadap ka’bah, tapi ke arah 182 derajat atau 12 derajat ke utara dari titik barat sejati? Angka 12 derajat ini adalah angka tengah-tengah antara menghadap ainul ka’bah hakiki dengan menghadap ke barat sejati. Umumnya di Nusantara, masjid-masjid dulu menghadap ke barat.

Analisa saya, selisih 12 derajat itu diakibatkan akumulasi gempa dalam ratusan tahun. Memang sekali gempa tidak terlihat pengaruh pergeserannya. Tapi jika diakumulasikan pergeseran yang kecil itu, tentu akan bertambah besar; terlebih jika gempa itu seperti yang pernah terjadi di Palu, bangunan dan pohon bergeser jauh di atas tanah bagai mengalir di atas air. 

Gempa itu bisa saja membuat bangunan yang kokoh menjadi goyah lalu dilakukan renovasi masjid. Pada saat renovasi, bisa saja terjadi ketidaktelitian hingga presisi arah kiblatnya menjadi bergeser juga. Dalam catatannya, Masjid Demak memang beberapa kali mengalami renovasi. Foto-foto Masjid Demak dari masa ke masa tersimpan di Perpustakaan Univiersitas Leiden. 

Michelina Di Cesare seorang pengajar di Departemen Ilmu Kepurbakalaan (Sains/Ilmu-Ilmu tentang Antikuitas) pada Universitas Sapienza di Roma pernah menulis penelitian berjudul “A qibla mušarriqa for the First al-Aqṣà Mosque? A New Stratigraphic, Planimetric, and Chronological Reading of Hamilton’s Excavation, and Some Considerations on the Introduction of the Concave miḥrab”. Penelitiannya itu menyatakan bahwa gempa bumi pernah terjadi pada Masjidil Aqsha hingga bangunannya rusak dan memicu untuk dilakukan renovasi. Masjid al-Aqsa pernah hancur total akibat gempa kuat pada masa-masa akhir pemerintahan Bani Umayyah tahun 747-749 M dan kembali terhenti pembangunannya karena gempa kedua yang tidak terlalu kuat pada tahun 757 M di masa pemerintahan Al-Manshur (Abbasiyah). Kerusakan parah juga terjadi akibat gempa modern pada tahun 1927 dan 1937.

Maka, jika analisa saya ini benar, kiblat Masjid Demak sejatinya telah benar menghadap ainul ka’bah pada masa Sunan Kalijaga, karena diukur sesuai dengan kaidah ilmu falak yang beliau miliki. Sehingga kita tetap hormat dan mengakui akan kewalian beliau. Ketidakuratan kiblat Masjid Demak di masa sekarang ini hanyalah akibat akumulasi gempa sekian lama. 

Lalu apakah harus diubah kembali kiblatnya atau cukup dibiarkan seperti sedia kala? Mari kita simak ulasan Syekh Abdussomad Palembang dalam kitab Sairus Salikin:


 
(سؤال) جك دتيائي أورغ أكندكو اف حكم محراب كبايقكن مسجد يغد تانه جاوى؟ مك جواب) أولهمو بهواسن حكم محراب كبايقكن مسجد د تانه جاوى ايت صحيح اتس يغد معتمدكن أوله امام غزالي رحمه الله تعالى ايت مك هاروس أورغيغ عوام تقليد أكندى.
(سؤال) جك دتيائي أورغ أكندكو اف حكم محراب مسجد نكري يغدباوه أغين يغتله مشهور ببراف زمان مك داتغ ستغه علماء أهل الفلك مك ميلاهي اجتهادن ايت اكن محراب مسجد ايت أداكه واجب تقليد كفدان أتو واجب تقليد كفد محراب يغدهولو ايت؟ (مك جواب) أولهمو بهواسن تيليك اكن هاتيمو مان يغ برة كفد ساله سوات درفد كدوان ايت مك يائت تمفتمو تقليد دان جك تياد يغدمكين ايت مك تقليد كفد أورغيغ أهل الفلك يغ ماهر ايت ترلبه همفير بربتولن دغن فيهق عين كعبة الله ايت (تتافي) كدوان صحيح كارن كدوان دغن ظن جوا بوكن دغن يقين كارن تياد دافة يقين ممبتولي عين كعبة ايت ملينكن أورغيغ دكة كعبة الله يغدافة مليهة اكندي والله أعلم بالصواب.

Jika kamu ditanya, apa hukum mihrab kebanyakan masjid di Tanah Jawa? Kamu jawab, hukum mihrab kebanyakan masjid di tanah Jawa itu benar sebagaimana yang dimu’tamadkan Imam Ghazali rahimahullahu ta’ala, maka boleh bagi orang awam mengikutinya. 

Jika kamu ditanya perihal mihrab masjid Negeri yang di bawah angin (sebutan untuk nama Indonesia dulu) yang terkenal beberapa zaman, kemudian datang sebagian ulama falak yang ijtihadnya berbeda dengan mihrab masjid itu, apakah wajib mengikutinya atau mengikuti mihrab masjid dahulu (kuno) itu? Maka jawablah, lihatlah kemanakah condong hatimu, itulah yang diikuti. Dan jika tidak demikian, maka mengikuti orang yang ahli falak adalah lebih utama karena lebih mendekati pada ain ka’bah. Namun keduanya adalah benar, karena keduanya berdasarkan sangkaan yang kuat juga, bukan dengan keyakinan. Karena tidak mungkin mendapatkan keyakinan sesuai ain ka’bah kecuali bagi orang yang dekat dengan ka’bah yang langsung ia lihat.

Kesimpulannya, jika ada yang menghadap ainul ka’bah serong ke utara sebesar 12 derajat dari arah kiblat Masjid Demak saat ini, maka itu sah berdasarkan qaul mu’tamad dalam mazhab Syafi’i. Jika shalat seperti kiblat yang ada, itu juga sah berdasarkan jihat ka’bah. Wallahu a’lam. 

Nur Hidayatullah (Mahasiswa S3 UIN Walisongo Semarang 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Nur Hidayatullah
Nur Hidayatullah lahir di Banjarmasin 30 Agustus 1990. Pernah mondok di Pesantren Darul Hijrah Martapura (2002 – 2005), Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai (2005 – 2008), Pesantren Darun Najah Semarang (2008 – 2012). Mendapat beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI dan IsDB (Islamic Development Bank) untuk studi sarjana dan magister jurusan Ilmu Falak di UIN Walisongo Semarang. Juga pernah mengenyam Pendidikan di Al-Aqsha International Institute (2019) dan Ummul Qura University, Makkah, Dauroh Ma’had Ta’lim al-Lughah al-Arabiyyah li Ghoir an-Nathiqin Biha (non-degree, 2021). Sekarang menjadi dosen Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua LFNU Kalimantan Selatan


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo