Menjelang pergantian hari, mata saya masih menatap layar ponsel. Saya menelusuri dunia virtual–Facebook–melihat penawaran buku-buku yang sering menggiurkan. Di tengah aktivitas itu, muncul status As Laksana, atau yang lebih akrab disapa Mas Sulak. Ia mengunggah cerpen hasil terjemahannya bertajuk Ibuku, Afrika Gila karya feminis Afrika, dari Nigeria. Mengetahui bahwa penulisnya Chimamanda Ngozi Adichie, saya lekas membacanya, nantinya berakhir pada ingatan tentang sebuah buku mungil mengenai parenting anak.
Cerpen Ibuku, Afrika Gila sangat menarik; menggambarkan sikap seorang ibu yang tegas mempertahankan nilai-nilai budaya daerahnya, terutama tentang bagaimana seorang perempuan harus bersikap. Nilai-nilai itu berupaya diwariskan pada anak peremuannya. Konflik terjadi ketika sang anak diam-diam mengabaikan dan lebih melirik nilai-nilai kebebasan yang diusung Amerika. Adichie menghadapkan dua nilai–Timur dan Barat–dengan cara yang unik, melalui psikologis seorang anak.
Adichie punya karakter kepercayaan diri yang kuat dalam tulisannya. Terutama menyangkut perempuan dan kearifan lokal daerah asalnya, Nigeria. Tak jarang ia menggabungkan dua hal tersebut dalam setiap karya yang dibuat. Tidak hanya dalam cerpen, tapi juga esai-esai pendek. Membaca cerpen itu menarik saya kembali membaca sebuah buku tentang parenting hasil modifikasi Adichie dari kuliah umum yang disampaikan di TedxEuston, pada Desember 2012. Buku itu berjudul A Feminist Manifesto, Kita Semua Harus Menjadi Feminis.
A Feminist Manifesto diterbitkan Odyssee pada tahun 2019, bersampul pink dengan ukuran sangat mungil. Pemilik buku bisa membacanya dengan riang gembira karena tak ada teori-teori yang berat apalagi bahasa-bahasa akademik. Pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai teman makan, teman menunggu antrean, hingga teman di angkutan umum. Adichie mengemas tulisannya seperti bercerita atau bersurat yang memungkinkan para pembaca merasa lebih dekat. Meski ringan, gagasan dalam buku terasa penting untuk dipikirkan, diobrolkan dan diperdebatkan. Walaupun konteks tulisan dalam buku ini sangat kental dipengaruhi kondisi wilayah dan masalah dari tempat asal penulis, para pembaca Indonesia bisa menemukan titik temu dengan permasalahan yang digugat Adichie tentang bagaimana cara kita menerapkan pendidikan pada anak, terutama perempuan.
Dan yang paling penting, buku ini tidak mengajarkan para orang tua untuk menempatkan perempuan di atas laki-laki atau berkuasa pada segala hal. Jangan percaya dengan asumsi feminisme membuat perempuan menjadi liar. Itu tidak tepat. Penulis justru menempatkan pendidikan yang adil gender, mungkinkan anak bisa tumbuh tanpa merasa lebih baik dari yang lain.
Saya menjadi teringat gagasan Kartini yang pernah dituangkan dalam suratnya Habis Gelap Terbitlah Terang (1992) yang ditulis tahun 1900. Surat itu punya spirit yang sama, seperti yang digagas oleh Adichie: “… oleh karena aku hendak menjadikan annakku jadi perempuan kaum baru, tiada aku akan meyuruh belajar bila tiada kehendaknya, maupun tiada kecakapannya akan belajar, tetapi mengurangi haknya akan melebihi abangnya, sekali-kali tidak! Lagipula hendaklah aku menghapuskan pembatas antara laki-laki dan perempuan yang diadakan orang dengan amat telitinya, sehingga menggelikan.”
Saya menyebut buku ini sebagai kitab pengasuhan anak yang ramah gender karena di dalamnya memuat beberapa hal seputar parenting. Penulis menguraikan 15 poin yang perlu dipertimbangkan dalam mengasuh anak. Saya mencoba mengulas, mengkontekstualkannya dengan hal-hal yang pernah saya lalu. Tapi hanya beberapa poin yang menurut saya menarik, selebihnya akan lebih menyenangkan jika membacanya secara langsung.
Pertama, Mengedukasi Anak Bahwa Gagasan tentang 'Peran Gender' adalah Omong Kosong Belaka
Dalam mengasuh anak, pembagian peran banyak dilakukan berdasarkan apakah ia ‘laki-laki’ atau ‘perempuan’ bukan karena kemampuan atau kebutuhan. Ambil contoh, urusan domestik, laki-laki dengan mudah melangkahinya sementara bagi perempuan aktivitas itu seolah wajib dilakukannya hanya karena ia ‘perempuan’. Padahal tindakan ini kurang tepat. Membiasakan anak untuk peduli pada urusan domestik (membersihkan rumah, memasak, mencuci dan lainnya) merupakan skill dasar yang harus dikuasai oleh semua manusia, tidak hanya gender tertentu.
Contoh lainnya soal pendidikan. Jika memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan, orang tua akan mendahulukan laki-laki, meski dalam realitas anak perempuannya lebih cerdas. Ini dilakukan dengan alasan karena laki-laki kelak akan menjadi kepala rumah tangga. Tindakan ini kurang tepat, laki-laki maupun perempuan sama besarnya membutuhkan pendidikan. Pendidikan tidak terbatas pada gender, tetapi hak semua orang dengan tujuan merubah cara pandang dan memperbaiki cara hidup.
Mengajarkan anak–utamanya perempuan–mempertanyakan hal-hal yang dilarang untuk dilakukan dengan alasan gender membuat ia bisa peka menyikapi budaya maupun nilai-nilai yang membatasi ruang perempuan untuk mengaktualisasikan potensi diri maupun berkontribusi dalam lingkup masyarakat.
Kedua, Membiasakan Membaca dan Menelisik Bahasa
Simone de Beauvoir, feminis asal Perancis abad ke-20 pernah menuliskan sebuah kalimat dalam bukunya Second Sex’ Jika saya ingin mendefinisikan diri saya, pertama-tama saya harus mengatakan, “Saya seorang perempuan”; semua pernyataan lain akan muncul dari kebenaran dasar itu. Kalimat ini membuka banyak tafsiran untuk menjawab sebuah pertanyaan Apa Arti Menjadi Perempuan?
Pernyataan ‘Saya Seorang Perempuan’ mengandung akibat si pengucap mesti menjalani segala aturan dan nilai yang berlaku di dalamnya. Agama, budaya, maupun aturan negara menjadi pemasok nilai yang mesti dijadikan pegangan. Pertanyaannya, apakah sumber nilai tersebut menempatkan perempuan dan laki-laki dalam posisi yang adil? Seringkali perempuan berada dalam posisi tidak adil buah dari penafsiran maupun keputusan yang bersifat patriarki.
Kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak masa anak-anak sangat membantu mempertajam nalar kritis anak dalam mempertanyakan hal-hal yang tidak adil namun diyakini banyak orang sebagai sebuah kebenaran. Modal pengetahuan luas yang didapat dari membaca juga membuat anak selektif dalam menerima bahasa. Tak bisa dipungkiri, dunia dibentuk lewat bahasa. Bahasa yang bermuat patriarki membuka peluang sangat besar terjadinya ketidakadilan gender.
Masih ada 13 gagasan dalam buku Adichie yang bisa dibaca. Orang-orang bisa dengan mudah memilikinya lewat toko buku online maupun offline. Buku ini terasa penting karena masa anak-anak adalah keniscayaan yang pasti dilalui setiap manusia. Segala harapan baik sangat mungkin bisa terwujud, melalui masa anak-anak, termasuk budaya adil gender dalam masyarakat .
Editor: Kendi Setiawan


