Dark
Light
Dark
Light

Jauhi Pola Asuh Menyakiti Anak, Ini 3 Tips Islami Menghindari Toxic Parenting

Jauhi Pola Asuh Menyakiti Anak, Ini 3 Tips Islami Menghindari Toxic Parenting

Arina.id - Toxic parenting bukan hanya soal kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga pola asuh yang secara halus melukai batin anak. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin telah memberikan panduan jelas untuk mencegah pola asuh merusak ini. Dari sikap adil terhadap anak, penghormatan terhadap martabat mereka, hingga pemilihan nama yang baik, semuanya merupakan bentuk kasih sayang yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut adalah 3 tips Islami untuk hindari toxic parenting.

1. Jangan Pilih Kasih

Toxic parenting sering berawal dari sikap pilih kasih orang tua terhadap anak-anaknya. Ketika satu anak dipuji dan diberi perhatian berlebihan, sementara yang lain diabaikan atau dibanding-bandingkan, hal ini menimbulkan rasa tidak adil dan luka batin yang dalam. Dampaknya, anak yang terabaikan dapat tumbuh dengan rasa rendah diri, iri hati, bahkan permusuhan terhadap saudara kandung.

Pola asuh seperti ini merusak hubungan keluarga, mengikis kepercayaan, dan meninggalkan trauma yang sulit dihapus hingga dewasa.

Dalam Islam, berlaku adil terhadap anak adalah prinsip penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka secara sehat. Rasulullah SAW sendiri pernah menegur seorang ayah yang bersikap pilih kasih. Teguran ini sebagai peringatan bahwa ketidakadilan dapat melukai hati anak, merusak hubungan keluarga, dan menimbulkan dampak buruk hingga dewasa.

Nabi bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ.

Artinya: "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”

Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Daqiqil 'Id alam Ihkamul Ahkam menjelaskan:

الْحَدِيثُ: يَدُلُّ عَلَى طَلَبِ التَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْأَوْلَادِ فِي الْهِبَاتِ، وَالْحِكْمَةُ فِيهِ: أَنَّ التَّفْضِيلَ يُؤَدِّي إلَى الْإِيحَاشِ وَالتَّبَاغُضِ، وَعَدَمِ الْبِرِّ مِنْ الْوَلَدِ لِوَالِدِهِ. أَعْنِي الْوَلَدَ الْمُفَضَّلَ عَلَيْهِ. وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي التَّفْضِيلِ: هَلْ هُوَ مُحَرَّمٌ، أَوْ مَكْرُوهٌ؟ فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إلَى أَنَّهُ مُحَرَّمٌ. وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ: أَنَّ هَذَا التَّفْضِيلَ مَكْرُوهٌ لَا غَيْرَ.

Artinya: "Hadits ini menunjukkan anjuran untuk menyamaratakan pemberian hadiah di antara anak-anak. Hikmahnya adalah bahwa perlakuan yang lebih kepada salah satu anak dapat menimbulkan rasa renggang, kebencian, dan hilangnya bakti dari anak yang diperlakukan kurang istimewa. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum membedakan pemberian ini: apakah haram atau makruh? Sebagian berpendapat haram, sedangkan menurut mazhab Syafi‘i dan Malik, hal tersebut makruh saja, tidak lebih." (Ibnu Daqiqil 'Id: 1987: juz 2, h. 154)

Dari penjelasan Ibnu Daqiqil 'Id ini dapat dipahami bahwa hadits tersebut menegaskan pentingnya tidak pilih kasih kepada anak agar terhindar dari kebencian, patah hati, dan rusaknya mental si anak. Keutamaan adil bukan hanya formalitas fiqih, tetapi juga langkah preventif sosial-psikologis.

Adanya perbedaan hukum antara haram dan makruh adalah bentuk kehati-hatian ulama. Meski beberapa menganggapnya terlarang, madzhab Syafi'i dan Maliki melihatnya sebagai makruh. Pandangan ini merupakan peringatan moral yang sebaiknya dihindari demi menjaga keharmonisan keluarga.

2. Menghargai Anak

Menghormati anak berarti mengakui perasaan, pendapat, dan martabat mereka sebagai individu. Dalam konteks toxic parenting, sikap merendahkan, mengabaikan, atau mempermalukan anak dapat merusak rasa percaya diri dan membentuk pola hubungan yang tidak sehat hingga dewasa.

Penghormatan orang tua menjadi fondasi bagi perkembangan emosional yang stabil, membangun rasa aman, dan mencegah luka batin. Dengan menghormati anak, orang tua mengajarkan nilai saling menghargai, sehingga hubungan keluarga terjalin harmonis dan bebas dari pola asuh yang merusak.

Rasulullah bersabda:

أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ.

Artinya: “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka."

Berkaitan dengan hadits ini, Imam Al-'Azizi dalam Sirajul Munir menjelaskan:

بِأَنْ تُعَلِّمُوهُمْ رِيَاضَةَ النَّفْسِ وَمَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ، قَالَ الْعَلْقَمِيُّ: وَالْأَدَبُ هُوَ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا. وَقِيلَ لِلْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ: قَدْ أَكْثَرَ النَّاسُ فِي عِلْمِ الْآدَابِ، فَمَا أَنْفَعُهَا عَاجِلًا وَأَوْصَلُهَا آجِلًا؟ فَقَالَ: الْفِقْهُ فِي الدِّينِ، وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا، وَالْقِيَامُ بِمَا اللَّهُ عَلَيْكَ، وَتَوْضِيحُهُ أَنَّهُ إِذَا عُدِمَ الْفِقْهُ وَقَعَ فِيمَا لَا يَنْبَغِي، وَإِذَا لَمْ يَزْهَدْ فِي الدُّنْيَا لَمْ يُمْكِنْهُ الْقِيَامُ بِمَا عَلَيْهِ مِنَ الْأَحْكَامِ لِشُغْلِهِ بِحِفْظِهَا وَتَحْصِيلِهَا وَجِهَاتِ كَسْبِهَا

Artinya: "Dengan cara mengajarkan latihan pengendalian diri dan akhlak yang luhur. Al-‘Alqami menjelaskan, adab adalah menerapkan hal-hal yang terpuji, baik ucapan maupun perbuatan. Pernah ditanya kepada al-Ḥasan al-Bashri: “Orang banyak membicarakan ilmu adab, manakah yang paling bermanfaat di dunia dan paling berguna di akhirat?” Ia menjawab: “Pemahaman agama, zuhud terhadap dunia, dan menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan padamu.” Penjelasannya, jika seseorang tidak memiliki pemahaman agama, ia akan terjerumus pada hal-hal yang tidak semestinya; dan jika ia tidak bersikap zuhud terhadap dunia, ia tidak akan mampu menunaikan kewajiban-kewajibannya karena sibuk menjaga, mengumpulkan, dan mencari berbagai sumber penghasilan duniawi." (Al-'Azizi: tanpa tahun: juz 1, h. 284)

Dari penjelasan Imam Al-‘Azizi ini dapat dipahami bahwa menghormati anak tidak hanya sebatas memberi kasih sayang, tetapi juga membekali mereka dengan pengendalian diri dan akhlak mulia. Adab yang benar meliputi ucapan dan perbuatan yang terpuji, serta fondasi nilai berupa pemahaman agama, sikap zuhud, dan tanggung jawab terhadap perintah Allah.

Ketiga hal ini membentuk karakter yang kuat, mencegah penyimpangan moral, serta mempersiapkan anak menghadapi tantangan hidup dengan kebijaksanaan, sehingga terhindar dari dampak pola asuh yang merusak.

3. Memberi Nama yang Baik

Nama yang buruk dapat meninggalkan bekas negatif pada harga diri anak, sehingga membuatnya merasa rendah diri atau menjadi bahan ejekan. Dalam Islam, pemberian nama yang baik merupakan hak awal anak yang harus dipenuhi orang tua. Nama yang indah mengandung doa, identitas, dan makna positif yang akan menemani anak sepanjang hidup. Dengan nama yang baik, anak terdorong membangun citra diri yang positif, percaya diri, dan merasa dihargai dalam lingkungannya.

Pada hari kiamat kelak, setiap orang akan dipanggil dengan nama yang diberikan kepadanya di dunia. Hal ini menjadi isyarat bahwa dalam Islam, nama bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan kehormatan yang melekat sepanjang hidup hingga akhirat. Karena itu, memberi nama yang baik kepada anak merupakan amanah penting bagi orang tua, sebagai bentuk kasih sayang dan harapan akan kebaikan hidup anak di dunia maupun di hadapan Allah kelak.

Nabi bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ، فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

Artinya: "Kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Kesimpulannya, menghindari toxic parenting bukanlah tugas sekejap, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesadaran, kesabaran, dan keteladanan. Islam telah memberi panduan yang jelas, yaitu berlaku adil, menghormati anak, dan memberi nama yang baik. Ketiganya bukan sekadar aturan, tetapi wujud nyata kasih sayang yang menumbuhkan jiwa anak dengan cinta, bukan luka.

Dengan mengamalkan ajaran ini, orang tua bukan hanya membentuk generasi yang berakhlak mulia, tetapi juga meraih keberkahan keluarga di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo