Serial When Life Gives You Tangerines (2025, Kim Won-Seok) adalah serial televisi roman asal Korea Selatan yang tayang perdana di Netflix pada 7 Maret 2025 lalu. Sejak rilis pertama, film ini berhasil menarik banyak penonton dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Akting apik IU, Park Bo-gum, Moon So-ri, dan Park Gae-Joon membuat warganet aktif menyebarkan potongan video dan gambar-gambar dari serial When Life Gives You Tangerines.
Secara garis besar, drama ini menceritakan kisah cinta yang amat indah. Yang Gwan-Sik (Park Bo-gum) diceritakan mencintai Ae-sun (IU) melebihi apa pun. Ia rela mengesampingkan tradisi, nenek, orang tua, dan segala hal yang menghalangi perasaannya pada Ae-sun. Lautan disebrangi, gunung didaki. Pada akhirnya, mereka menikah dengan bahagia meski harus hidup dalam keterbatasan ekonomi. Persoalan tempat tinggal dan makan untuk hari esok menjadi masalah sehari-hari yang harus dipikirkan.
Kemiskinan yang mereka rasakan terasa puitis karena dibungkus dengan rasa sayang, pengorbanan, pengertian, dan saling mendukung. Namun, penonton boleh bertanya, apakah kemiskinan dalam dunia nyata bisa semenyenangkan itu? Apakah masih tersisa kebahagiaan dalam setiap kesulitan yang harus dipanggul setiap hari?
Dalam dunia nyata, kemiskinan sering terasa pelik. Miskin kerap dihadapkan pada ketidakadilan regulasi, pengabaian, dan penipuan. Teks dari tangan para sastrawan maupun antropolog merekam banyak nestapa yang dihadapi masyarakat miskin. Hampir keseluruhannya terjadi ketika berhadapan dengan negara.
Tahun Penuh Gulma (2020) susunan Siddhartha Sarma juga membabarkan nestapa kaum miskin di hadapan para birokrat dan polisi. Novel peraih penghargaan Neev Book Award 2019 untuk kategori Young Adults ini berkisah tentang penggusuran masyarakat adat atas nama tambang. Meski berpotensi merusak ekosistem dan mencerabut kebudayaan masyarakat, para petinggi tetap berupaya melakukan tindakan pengusiran dengan berbagai strategi licik.
Roanne Van Voorst lewat catatan penelitian yang dipublikasikan Margin Kiri menuliskan sulitnya masyarakat miskin mengakses kesehatan. Diskriminasi terjadi lewat tempat. Orang-orang yang tinggal di kawasan elit akan lebih mudah mengakses layanan kesehatan dibandingkan orang miskin.
Lagu-lagu juga mengabadikan bagaimana sulitnya menjadi masyarakat miskin di hadapan negara. Iksan Skuter mengabadikan dalam lagunya bertajuk Teruslah Miskin Teruslah Bodoh (2023):
Hai orang miskin tidur yang nyenyak
Agar kami tetap berkuasa
Hai orang miskin tetaplah bodoh
Biar kami bebas ‘tuk menipu
Hai orang miskin janganlah pintar
Karena kami makin ganas dan liar
Hai orang miskin jangan membaca
Supaya kami liar berdusta
Ketika kemiskinan diletakkan terpisah dari kebijakan negara dan wajah-wajah petinggi, kebudayaan yang terjalin di dalamnya menyimpan banyak kebahagiaan. Perasaan senang bisa dilihat semudah menatap langit. Novel Saga no Gabai Bachan (Shimada Yosichi, 2004) menampilkan hal tersebut.
Itulah yang dialami Akihiro, anak lelaki kecil yang baru menginjak kelas dua SD. Saat itu bom atom jatuh di Hiroshima. Bencana itu menyebabkan ia harus kehilangan ayah dan kehadiran ibunya sebab harus membanting tulang untuk anak-anaknya. Akihiro akhirnya dititipkan pada neneknya di sebuah kota kecil bernama Saga
Dalam gubuk amat sederhana Akihiro menggantungkan hidup bersama neneknya. Tidak menjalani hidup yang lebih enak, ia justru menghadapi kemiskinan yang lebih miskin dari saat di Hiroshima. Biarpun hidup miskin, nenek Osano hidup dengan amat optimis dan ceria. Akal nenek Osano menghidupi segala keterbatasan materi. Misalnya, ia selalu mengikat pinggangnya dengan seutas tali dan menyeret magnet ke mana pun pergi untuk menarik paku dan berbagai sampah logam lainnya yang nanti bisa dijual ke toko daur ulang.
Sungai yang letakknya dekat gubuk mereka tinggal juga dimanfaatkan Nenek Osano sebagai penunjang hidup. Sungai diimajinasikan sebagai supermarket pribadi yang menyediakan macam-macam benda yang bisa tersangkut di galah yang sengaja dibentangkan. Misalnya ranting untuk kayu bakar, sayuran cacat dari pasar, sandal kayu, dan lain sebagainya.
Nobel ini menarik karena menampilkan kemiskinan yang tidak berbuah nestapa. Miskin justru sebuah kebanggaan yang memunculkan tawa. Dalam salah satu kutipan, nenek berkata: “Uang bukanlah tujuan hidup kita, uang hanyalah sebuah alat untuk bertahan hidup.” Di perbincangan lain bersama cucunya, nenek Osano juga pernah berucap: “Ada dua jalan untuk orang miskin, yaitu miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria.” Suka cita dan rasa syukur dijadikan landasan dalam hidup nenek Osano.
Pada akhirnya, Kemiskinan yang Bahagia, Apakah Utopis? Tidak. Miskin bisa akrab dengan kebahagiaan. Hal yang justru sering mematahkan kebahagiaan masyarakat miskin adalah kebijakan dan sikap para petinggi negeri yang mempersulit hak-hak untuk mendapat keadilan. Kita jadi teringat perkataan Budiman Sudjatmoko, kepala Badan Pengentasan Kemiskinan yang bersemangat saat mengatakan ingin mencegah kelahiran orang miskin baru.
Barangkali, sebaiknya para petinggi mesti meluangkan waktu untuk sekadar menatap serial drama maupun novel agar bisa mengetahui titik permasalahan yang dihadapi masyarakat miskin. Bukan pencegahan apalagi menghilangkan masyarakat miskin dengan jargon-jargon kemanusiaan, cukup membuat regulasi yang manusiawi dan berpihak pada rakyat, itu sudah sebuah upaya progresif dalam memperlakukan masyarakat miskin dengan penuh hormat.
Editor: Kendi Setiawan


