Dark
Light
Dark
Light

Pelajaran Berharga dari Buku ‘Banyak Dosa Tapi Kok Hidup Tenang-Tenang Saja’

Pelajaran Berharga dari Buku ‘Banyak Dosa Tapi Kok Hidup Tenang-Tenang Saja’

“Tiada hukuman yang lebih perih jika Allah telah berpaling darimu. Dia tidak lagi mau berbicara dan mendengarmu bicara, dibiarkan lena panjang itu padamu. Cukuplah Allah menarik nikmat dan kelezatan tahajud dalam dirimu itu sebagai hukuman kepadamu.”

Arina.id - Kutipan quote yang amat membuat hati terasa terhentak mak deg. Begitulah perasaan yang muncul saat membaca dan membuka halaman pertama dari buku Banyak Dosa Tapi Kok Hidup Tenang-Tenang Saja. Buku dengan tebal halaman 143 ini kiranya cukup membuat pembaca diam sejenak merenungi segala perbuatan dosa yang telah dilakukan, terutama di bab pertama buku ini.

Buku ini ditulis dengan 4 bab utama; bab pertama memikirkan dosa kita, bab kedua menata hati kita, bab ketiga beragama dengan keseimbangan, dan bab keempat usaha menjadi hamba sepanjang hidup.

Bab pertama sangatlah menarik. Pembaca akan dibuat diam sejenak dan mempertanyakan apakah kondisi ini ada pada diri saya?. Bab ini diawali tentang kisah seorang pemuda yang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri, “Aku telah melakukan maksiat mengapa Allah tidak menghukumku?” lantas Imam Hasan Al Bashri bertanya kepada pemuda itu. “Apakah setiap malam kamu bangun tahajud?” “tidak” jawab sang pemuda. “Itulah hukumanmu yang seberat-beratnya. Tiada hukuman yang lebih perih jika Allah telah berpaling darimu. Dia tidak lagi mau bicara dan mendengarmu bicara, dibiarkan lena panjang itu padamu. Cukuplah Allah menarik nikmat dan kelezatan tahajud dalam dirimu itu sebagai hukuman kepadamu.”

Lebih lanjut penulis juga memaparkan kisah serupa dengan mengutip dalam kitab Shaidul Khatir karya Ibnu Qayim Al Jauzi;

وَرُبَّمَا رَأَى الْعَاصِي سَلَامَةَ بَدَنِهِ وَمَالِهِ، فَظَنَّ أَنْ لَا عُقُوبَةَ، وَغَفْلَتُهُ عَمَّا عُوقِبَ بِهِ عُقُوبَةٌ. وَقَدْ قَالَ الْحُكَمَاءُ: الْمَعْصِيَةُ بَعْدَ الْمَعْصِيَةِ عِقَابُ الْمَعْصِيَةِ، وَالْحَسَنَةُ بَعْدَ الْحَسَنَةِ ثَوَابُ الْحَسَنَةِ. وَرُبَّمَا كَانَ الْعِقَابُ الْعَاجِلُ مَعْنَوِيًّا، كَمَا قَالَ بَعْضُ أَحْبَارِ بَنِي إِسْرَائِيلَ: يَا رَبِّ! كَمْ أَعْصِيكَ وَلَا تُعَاقِبُنِي؟! فَقِيلَ لَهُ: كَمْ أُعَاقِبُكَ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي! أَلَيْسَ قَدْ حَرَمْتُكَ حَلَاوَةَ مُنَاجَاتِي؟

Artinya: "Terkadang, seorang pelaku maksiat melihat dirinya sehat secara fisik dan hartanya tetap aman, lalu ia menyangka bahwa tidak ada hukuman untuk dosanya. Namun, kelalaiannya terhadap hukuman yang telah menimpanya itu sendiri adalah sebuah hukuman. Para ahli hikmah berkata, “Maksiat yang dilakukan setelah maksiat adalah hukuman dari maksiat itu sendiri, sedangkan kebaikan yang dilakukan setelah kebaikan adalah balasan dari kebaikan itu sendiri.”

Terkadang pula, hukuman yang segera itu bersifat maknawi (tidak terlihat secara fisik). Sebagaimana dikisahkan dari salah seorang ulama Bani Israil yang berkata, “Wahai Tuhanku! Betapa sering aku bermaksiat kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menghukumku!” Lalu dijawab kepadanya, “Betapa sering Aku menghukummu, tetapi engkau tidak menyadarinya! Bukankah Aku telah mencabut manisnya munajat kepada-Ku dari hatimu?”

Seharusnya kita memahami hukuman Allah kepada hambanya yang bermaksiat tidak hanya yang “kasat mata” seperti banjir di era Nabi Nuh As, kehancuran kota Sodom, gempa bumi dan lain lain. Ada juga hukuman yang “tak kasat mata” dan itu sebenarnya jauh lebih menyakitkan. 

Ketika Allah tak lagi mengizinkan kita menyebut namanya, Allah membuat lisan kita berat melantunkan dzikir juga ayat suci Al Qur’an. Lantas kita dibuat bersemangat untuk sibuk membicarakan hal-hal yang tidak penting bahkan mengakibatakan dosa. Lebih parahnya ketika Allah tak ingin bertemu apalagi mendengar kita dengan membuat kita merasa berat untuk menjalankan ibadah sholat lima waktu, berdoa, menyentuh air wudhu, bangun malam dan melakukan tahajud.

Jangan pernah berpikir bahwa kita sering melakukan maksiat, tetapi Allah tidak menghukum kita. Bisa jadi, hukuman itu sudah diberikan, namun dalam bentuk yang lebih menyakitkan. Misalnya, kita terus-menerus terjerumus dalam maksiat atau bahkan Allah menjauh dari kita. Akibatnya, kita merasa berat untuk melakukan amal kebaikan. Atau, mungkin kita masih melaksanakan ibadah, tetapi terasa hampa, tanpa kenikmatan dan tanpa manisnya iman.

Identitas Buku

Judul buku: Banyak Dosa Tapi Kok Hidup Tenang-Tenang Saja
Penulis: Muhammad Khoirul Wafa
Penyunting: Rifai Asyhari
Pemeriksa aksara: Ulul Mustafidah
Desainer Sampul: Sadternal Visual
Penata Isi: Razi Andika P.
Penerbit: Buku Mojok
ISBN: 978-623-8463-02-2
Halaman: 143 halaman
Genre: Religi


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo