Prabowo Subianto tak “singgah” dalam buku cerita berjudul Toko Buku Abadi. Ia singgah ke toko buku di New Delhi, India. Toko buku bernama meski kita belum mendapat kabar. Prabowo Subianto sibuk di Indonesia dan dunia. Buku cerita belum menjadi pilihan untuk menjadi bacaan “persinggahan” saat hari-hari bergelimang masalah.
Buku cerita berjudul Toko Buku Abadi (2024) ditulis Yudhi Herwibowo. Buku berlatar di Indonesia. Para tokoh dalam cerita terhubung toko buku. Kita mengutip: “… Ganda Soedjara membangun sebuah bangunan baru di halaman depan rumah. Bangunan itu kemudian dijadikan toko buku olehnya. Ini keinginan yang selalu ada, yang juga diamini oleh istrinya. Ya, konon, di dalam jiwa seorang pembaca buku, selalu pernah berharap memiliki toko buku kecil tempat ia bisa bersantai dan membaca buku apa pun yang ia inginkan.”
Kakek (Margono Djojohadikusumo) dan bapak (Soemitro Djojohadikusumo) suka membaca buku dan menulis buku. Prabowo meneladani kakek dan bapak. Ia dikenal sebagai pembaca buku. Pada suatu hari, kita sulit berimajinasi ia menikmati hari-hari tua atau pensiun dari kekuasaan dengan membuka toko buku. Ia memang belum membaca buku gubahan Yudhi Herwibowo dalam impian pembaca buku berharap memiliki toko buku. Konon, jumlah toko buku di Indonesia malah berkurang gara-gara perdagangan buku lesu. Impian memiliki toko buku tentu disemai oleh kaum heroik dan malu berputus asa.
Suami-istri dalam cerita Yudhi Herwibowo sadar hidup dan sikap. Suami itu kalem tanpa nafsu besar lagi dalam menguasai dan menggengam dunia. Ia pun berkata: “Kita bukan orang yang suka berkebun, bukan juga orang yang suka berolahraga. Kita hanya suka membaca. Jadi, kupikir membuka sebuah toko buku kecil, tempat menjual buku-buku bagus menurut kita, adalah satu-satunya jalan untuk mengisi waktu.” Asmara dan menua disempurnakan toko buku dan kegandrungan membaca buku. Istri turut mengesahkan: “Toko buku selalu sepi, kita bisa menghabiskan waktu dengan membaca.” Mereka tak terlalu mencari keuntungan. Suami-istri sekadar terlena buku. Janji terpenuhi berwujud Toko Buku Abadi.
Kita mendingan membaca (lagi) buku cerita berjudul Toko Buku Abadi. Pembaca bisa berperan sebagai pemilik, penjaga toko buku, pengunjung, atau pembeli. Buku itu sulit bersaing mendapat pembahasan ketimbang foto diunggah di media sosial (25 Januari 2025) menampilkan Prabowo Subianto singgah atau mengunjungi toko buku. Ia berperan sebagai pembeli buku, berlanjut pembaca buku. Kunjungan di tempat jauh gara-gara itu toko buku langganan. Foto telah berdampak kemunculan ribuan kemontar mengandung pujian, iri, cemooh, bangga, bingung, salut, dan lain-lain.
Kita mengandaikan para pemberi komentar itu telah membaca novel-novel bertema toko buku. Di pasar buku, ada belasan novel terjemahan mengenai toko buku berasal dari Jepang, Korea Selatan, Prancis, Afghanistan, dan lain-lain. Tema justru naik saat nasib toko buku di Indonesia merana. Para pembaca menjadi pengunjung atau pembeli buku di toko buku. Mereka dalam jalinan dunia fiksi.
Toko buku, tempat bagi buku-buku menanti dilihat, dipegang, dibaca, dan dibeli orang-orang. Di Indonesia, toko buku sepi menandakan bisnis rawan rugi. Pengertian berbeda: jumlah pembaca menurun. Kita tak usah terlalu meratapi perbukuan di Indonesia.
Novel dari Jepang memberi percik-percik hasrat buku tak pernah pudar. Kita membaca novel berjudul The Cat Who Saved Books (2023) gubahan Sosuke Natsukawa. Cerita dibuka dengan kematian kakek. Ia mewariskan toko buku kecil kepada cucu. Peristiwa penuh duka dan ketakjuban. Cucu masih remaja bernama Rintaro tak pernah kepikiran bakal menjadi pengelola toko buku.
Di novel, kita membaca: “Toko Buku Natsuki adalah toko buku bekas mungil di pinggir kota. Toko itu tidak terlalu merugi, tapi juga tidak cukup menguntungkan. Bukan warisan yang terlalu berharga.” Semula, Rintaro kebingungan dan lesu untuk mengurusi toko buku. Hari demi hari, nasib berubah dan kejutan-kejutan dipengaruhi toko buku mungil dan kucing.
Toko buku dalam novel Sosuke Natsukawa berbeda dengan kesan saat kita melihat foto toko buku disinggahi Prabowo Subianto. Kita mendapat deskripsi toko buku mungil: “Dari pintu depan, ada satu lorong panjang yang mengarah lurus ke belakang. Di kedua sisi lorong berjajar rak-rak buku amat tinggi yang menjulang sampai ke langit-langit. Dan, setiap rak dijejali buku-buku. Lampu-lampu bergaya retro tergantung di atas, memancarkan cahaya lembut yang memantul di lantai kayu yang mengilap.”
Mata bertemu buku. Raga berakraban dengan buku: rupa, aroma, dan bentuk. Berkunjung ke toko buku itu pengalaman raga. Pengalaman itu sempurna dengan pikiran dan imajinasi. Kepatutan singgah di toko buku tentu uang agar resmi menjadi pembeli buku. Prabowo Subianto bila membaca novel Sosuke Natsukawa mungkin sedikit memberi perhatian atas nasib pasar buku bekas di seantero Indonesia.
Pada suatu hari, kita menanti ada tulisan (agak) panjang mengenai Margono, Soemitro, dan Prabowo dalam biografi sebagai pembaca buku dan rajin singgah ke toko buku. Kita tak perlu kaget dengan pemberitaan Prabowo Subianto sebagai pembaca buku atau pengunjung toko buku. Ia berada dalam silsilah buku telah dirintis oleh kakek.
Tulisan dari Prabowo Subianto kelak bisa menggenapi buku telah terbit berjudul Bukuku Kakiku (2004) dengan editor St Sularto, Wandi S Brata, dan Pax Benedanto. Prabowo Subianto pasti sanggup mengajak kalangan politik, intelektual, militer, atau seniman turut membuat tulisan agar terbit menjadi buku tebal atau selusin jilid. Dampak dari tulisan mungkin bermutu ketimbang cuma pamer foto di media sosia. Tulisan itu memuat pengalaman membeli di toko buku, membaca buku, atau ikhtiar menjadi kolektor buku. Judul bisa diusulkan “Bukuku: Kisahku dan Kasihku”.
Kita mengutip sedikit dari Bukuku Kakiku (2004), bersumber tulisan Remy Sylado. Pada masa remaja, ia melanjutkan studi di Solo. Remy Sylado keranjingan main musik dan memberi perhatian besar untuk seni-peradaban Jawa. Di Solo, ia tergoda pedalangan. Dampak dalam kancah dan pergaulan seni: “Akhirnya, saya terbiasa pergi ke belakang Sriwedari di mana berjajar kios-kios buku bekas dan baru menyangkut sastra Jawa dan gending. Di sanalah, saya dapatkan buku-buku berharga…” Kini, pasar buku di belakang Sriwedari dan Gladag (Alu-Alun Utara Kasunanan Surakarta Hadiningrat) itu sepi pengunjung. Kita mengandaikan suatu hari Prabowo Subianto dolan ke rumah Joko Widodo di Solo memiliki waktu untuk singgah membeli buku di Sriwedari dan Gladag. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


