Rabi’ah Al Adawiyah, sufi asal Irak, pernah berlari-lari di Kota Baghdad sambil menenteng seember air dan memegang obor di tangan kirinya. Orang-orang yang melihat, bingung dan bertanya pada Rabi’ah. Sufi itu menjawab bahwa ia ingin membakar surga dan menyiram api neraka.
Orang-orang yang mendengar jawaban Rabi’ah semakin bingung, meminta penjelasan lebih. Rabi’ah mengatakan bahwa surga dan neraka telah membuat umat islam menjadi semakin jauh dari cintanya kepada Allah. Mereka lebih berharap dan takut kepada surga dan neraka ketimbang Allah.
Cerita tentang upaya membakar surga dan neraka yang terjadi ribuan tahun lalu masih hidup hingga kini. Kegelisahan yang timbul dalam hati Rabi’ah terwariskan dalam hati banyak manusia, salah satunya penulis. Banyak penulis berupaya menggoyangkan pemaknaan tentang surga neraka yang didominasi kitab suci. Kegelisahan itu dituangkan lewat sastra.
Kita bisa menemukan beragam tafsir surga neraka dalam fiksi mini, cerpen, dan novel. Meski tak selalu menyajikan jawaban yang jelas, kadang justru sebuah pertanyaan, karya sastra memungkinkan pembacanya untuk ikut berpikir. Pembaca diajak mencari keterkaitan surga neraka dengan dunia yang saat ini sedang kita huni.
Fiksi mini karangan Adi. K berjudul Cermin dua Arah (2019) menghentakkan pembaca untuk memikirkan kembali maksud dari surga. Adi menggoyahkan keimanan soal surga lewat akhir tulisannya yang menyanggah pikiran banyak orang.
“Azra diberi mukjizat bisa melihat dengan sangat jauh. Ia bisa melihat siapa yang datang dari jarak lima kilometer, melihat semut yang berada di puncak gunung, melihat nama pramugari yang sedang melayani penumpang, melihat judul buku yang berada di lantai tiga puluh sebuah gedung, bahkan melihat astronot sedang menggaruk di dalam stasiun ruang angkasa yang mengorbit Bumi. Semakin hari, penglihatannya semakin tajam dan semakin jauh. Akhirnya, pada suatu hari, ia bisa melihat kalau surga itu tidak seperti yang orang-orang bayangkan selama ini.”
Yuditeha, lewat cerpen bertajuk Membakar Surga (2022) juga memaknai surga lain dari yang dikatakan kitab suci. Lewat suara seorang laki-laki yang melihat anak jalanan duduk sambil merokok, penulis membangun makna surga yang beririsan dengan keserakahan manusia, isu kemiskinan, dan jurang ekonomi antar masyarakat.
"Dia bilang, Orang-orang yang merasa hidupnya bersih selalu ingin menghilangkan yang kotor dengan cara membakar. Orang-orang itu memusnahkan segala hal yang dinilai buruk. Alasannya mereka membersihkan kehidupan dari segala yang nista. Dengan begitu hidup mereka akan menjadi suci lantas merasa pantas untuk berharap, kelak ketika mati dapat dimasukkan ke dalam surga. “Dan aku tidak menyukai hal itu. karenanya aku ingin melenyapkan surga!” tambahnya.
Lucy M. Montgomery dalam novel Anne of the Island (2017) juga menuliskan arti surga. Lewat tokoh Anne Shirley, penulis mendudukkan surga lebih dekat dengan kehidupan manusia saat ini. Ia menuliskan: “Kehidupan surga harus dimulai di bumi ini.” Dilanjutkan dalam kutipan lain: “Aku pikir, surga tidak akan terlalu berbeda dari kehidupan kita kini, tidak seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Aku percaya kita akan terus hidup seperti ini dan menjadi diri kita sendiri. Bedanya, di surga segalanya akan lebih mudah menjadi baik dan untuk mengikuti Sang Maha Tinggi. Semua masalah dan kebingungan akan hilang, dan kita akan bisa melihat dengan lebih jelas.”
Tiga karya di atas berhasil mengotak-atik makna surga yang sering ditampilkan dalam ceramah dan buku-buku. Di masa anak-anak, kita mungkin pernah menjumpai komik neraka dan surga beredar di sekolah, pasar dan TPA. Komik neraka bersampul cerah menampilkan api yang berkobar-kobar, lidah yang dipotong, tubuh yang digergaji lalu dimakan ular.
Berkebalikan dengan neraka, komik berjudul Indahnya Taman Surga gubahan MB. Rahimsyah menampilkan gambar yang indah dipandang. Pepohonan dan bunga-bunga tumbuh subur, burung-burung berterbangan di atas air jernih, langit cerah berhias pelangi, dan bangunan kubah menyerupai masjid menjulang berkilauan.
Neraka dan surga dalam ayat suci kerap digambarkan demikian. Kedua gagasan itu ikut membentuk perilaku manusia. Jika seseorang berbuat salah, kata “neraka” kerap diselipkan untuk menakut-nakuti. Sementara kata “surga” dijadikan pemancing agar orang-orang rajin melakukan kebaikan.
Pemaknaan neraka dan surga hanya pada sebatas tempat, membuat kita kerap lebih terfokus pada rasa takut dan berharap ketimbang cara berpikir. Gagasan itu menempatkan neraka dan surga amat jauh, seperti tidak ada duduk-duduknya di bumi ini.
Tentu tidak ada yang bisa memastikan dengan absolut seperti apa surga dan neraka yang dimaksud dalam kitab suci. Namun, dalam memandang arti surga dan neraka, kita boleh setuju dengan gagasan Prof. Quraish Shihab yang mengatakan bahwa surga dan neraka adalah perumpamaan, bukan tempat.
Achmad Chodjim dalam bukunya Membangun Surga (2015) juga berpendapat demikian. Di salah satu bab, Chodjim menuliskan: “Seandainya Al-Qur’an diturunkan di Jawa, perumpamaan surga sebagai taman kehidupan seperti ala Timur Tengah tidak akan berpengaruh nyata untuk membangkitkan moralitas manusia Jawa.”
Al-Qur’an menggambarkan neraka dan surga sebagai api dan taman yang elok dengan metode ancaman dan iming-iming. Ini memang cara yang manjur bagi manusia di dunia timur karena kondisi geografisnya amat mendukung. Namun, bagi agama-agama yang lahir di Asia, khususnya Asia Timur, Selatan, dan Tenggara, gambaran itu tidak berhasil menyasar pada aspek psikologis. Lalu bagaimana sebenarnya neraka dan surga itu?
Barangkali, surga dan neraka tidak hanya ada di akhirat. Surga dan neraka sudah ada sejak di dunia seperti yang dituliskan dalam banyak teks sastra. Bagaimana bentuknya? Ia tidak berupa api atau sungai madu yang mengalir tetapi ada di setiap diri manusia. Surga berbentuk kebahagian dan ketenangan sementara neraka adalah kegelisahan dan penderitaan.
Memposisikan neraka dan surga sebagai suatu keadaan ketimbang tempat membuat keduanya menjadi hidup jika dihadapkan pada problematika dunia ini. Ketakutan pada neraka bisa dihilangkan dengan meringankan penderitaan orang lain dan senantiasa berbuat baik. Dengan begitu, ketenangan akan menyelimuti hidup kita: itulah surga.
Editor: Kendi Setiawan


