Dark
Light
Dark
Light

Kenapa Pelaku Kekerasan Seksual Lebih Banyak Laki-laki?

Kenapa Pelaku Kekerasan Seksual Lebih Banyak Laki-laki?

Tidak semua laki-laki adalah pelaku. Laki-laki juga bisa menjadi korban kekerasan, meski sering kali tidak dimunculkan karena stigma dan stereotip. Kekerasan seksual bukan takdir biologis, melainkan berdasarkan pilihan individu. Jadi, siapa pun memungkinkan untuk menjadi pelaku tanpa memandang apakah dia laki-laki atau perempuan.

Kalimat di atas perlu mendapatkan penegasan agar tidak memberi stereotip pada semua laki-laki sebagai pelaku kekerasan. Nyatanya, di beberapa kasus juga dijumpai perempuan sebagai pelaku. Namun, kita memang mesti mengakui, fakta menunjukkan persentase pelaku kekerasan terbanyak adalah laki-laki. 

Data terbaru dari Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat perempuan Indonesia (15-64 tahun) pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam hidupnya, baik dari pasangan maupun bukan (laki-laki). Fakta itu memunculkan sebuah pertanyaan: Kenapa perempuan banyak menjadi korban, sementara laki-laki adalah pelaku?

Bukan untuk menyudutkan, ini bisa menjadi dasar untuk mencari asal muasal masalah ini terjadi. Kekerasan berbasis gender yang dilakukan seseorang tentu tidak datang dari langit begitu saja. Tindakan itu bisa muncul karena budaya dan proses pendidikan yang selama ini diterima (pelaku). Budaya patriarki yang mengagungkan peran laki-laki dibandingkan gender lain dan industri hiburan bisa menjadi penyebab utama perbuatan itu terus berulang dari waktu ke waktu.

Diakui atau tidak, kehidupan laki-laki seringkali dipengaruhi maskulinitas toksik, sebuah konsep sosial yang menggambarkan bentuk maskulinitas yang merugikan. Laki-laki sering dibesarkan dengan gagasan bahwa mereka harus kuat, dominan, dan tidak boleh menunjukkan kelembutan. Ini banyak terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pergaulan antar negara.

Secara tidak langsung tindakan itu bisa mendorong perilaku agresif dan kurang empati. Bukan hanya itu, penolakan dari orang lain (perempuan) juga bisa dianggap sebagai hal yang tidak bisa diterima, alih-alih melihatnya sebagai hal yang wajar dan manusiawi.

Untuk melihat asal usul terjadinya kekerasan seksual, sebuah film menampilkannya dengan begitu epik. Pink (2016) garapan Aniruddha Roy Chowdhury menjadi salah satu film yang membantu penonton memahami penyebab terjadinya kekerasan seksual secara analitis.

Film itu mengisahkan tiga perempuan muda: Minal (Taapsee Pannu), Falak (Kirti Kulhari), dan Andrea (Andrea Tariang), yang menjadi korban pelecehan seksual oleh sekelompok pria berpengaruh. Ketika salah satu dari mereka, Minal, membela diri dengan melukai seorang pelaku, ketiga perempuan itu justru dituduh melakukan penganiayaan.

Deepak Sehgal (Amitabh Bachchan), seorang pengacara yang memiliki sensitivitas gender, berupaya membela para korban di depan meja pengadilan. Analisis dan argumentasinya menarik penonton untuk memikirkan kembali berbagai budaya yang banyak merugikan perempuan.
Tidak. ‘Tidak’ bukan hanya sebuah kata, tapi juga kalimat utuh. ‘Tidak’ tak butuh penjelasan lebih lanjut. ‘Tidak’ ya berarti ‘tidak’. Dan para pria seharusnya sadar bahwa ‘tidak’ berarti ‘tidak’. Entah perempuan itu kenalan, teman, pacar, pelayan seks atau bahkan istri Anda sendiri! Tidak berarti ‘tidak’! Dan saat perempuan berkata demikian, berhentilah.

Paragraf di atas merupakan potongan hujah Deepak Sehgal ketika menutup argumentasi pembelaan. Ia meyakinkan hakim dan orang-orang yang hadir di persidangan bahwa dalam kasus kekerasan, stereotip, budaya, dan hukum yang korup sering kali menyudutkan perempuan pada ketidakadilan.

Di banyak kasus kekerasan, sering kali ketika perempuan mengatakan “tidak” atau “tidak nyaman,” respons laki-laki tidak menangkap itu sebagai tanda untuk berhenti. Sebaliknya, penolakan itu justru dianggap sebuah tantangan. Sikap tersebut muncul tidak secara alami—itu terjadi dari hasil konstruksi sosial yang sudah lama tertanam.

Dalam sistem patriarki, laki-laki sering diajarkan bahwa mereka harus “menaklukkan” perempuan. Penolakan dianggap bukan sebagai batasan, tetapi rintangan yang harus diatasi. Ini bukan lagi soal cinta, tapi ego dan dominasi

Banyak media dan narasi populer menggambarkan perempuan yang menolak sebagai “malu-malu tapi mau”. Gambaran ini menciptakan ilusi bahwa penolakan bukan sinyal agar berhenti, melainkan bagian dari permainan romantis. Masih ingat film Kabhi Khushi Kabhie Gham (Karan Johar, 2001) dan Dilan 1990 (Pidi Baiq, 2018)?

Kedua film itu digandrungi penonton pada zamannya. Kisah percintaan dalam film tersebut menampilkan permainan romantis lewat penolakan-penolakan yang sebenarnya sebuah sinyal agar mendekat. Jalan cerita seperti ini banyak ditemui dalam film lainnya. Meski penceritaannya logis, gagasan itu tidak bisa ditelan bulat-bulat dalam dunia nyata. Tidak semua perempuan punya kecenderungan “malu-malu tapi mau”.\

Ketika seseorang mengatakan “tidak”, apalagi secara berulang itu bisa berarti “tidak”. Bukan undangan untuk negosiasi atau tarik ulur dalam percintaan. Kata ‘tidak’ adalah sebuah tanda agar berhenti, bukan sebaliknya. Ini perlu untuk ditegaskan agar tidak menyalahi aturan consent dalam membangun hubungan.

Ketika penolakan dianggap sebagai tantangan, itu berarti kehendak perempuan tidak dihormati. Ini membuka jalan bagi kekerasan seksual dan pelecehan terjadi terus-menerus. Jika masyarakat terus membiarkan maskulinitas toksik tumbuh dan narasi tunggal yang dibangun industri hiburan berkembang, maka kekerasan akan dianggap sebagai bagian dari dinamika cinta, padahal itu adalah pelanggaran.

Barangkali, perbincangan menyoal upaya mencegah terjadinya kekerasan pada perempuan tak melulu hanya melihat dari sudut pandang korban. Menganalisis asal muasal terjadinya kekerasan yang menitikberatkan pada latar belakang pelaku adalah salah satu upaya penting untuk memutus kejahatan tersebut.

Segala tindakan tidak pernah lepas dari konstruksi sosial. Semua itu tak hanya melibatkan personal (pelaku) tetapi ada industri hiburan, sistem pendidikan, budaya, bahkan kebijakan pemerintah yang ikut mendukung munculnya tindakan kekerasan yang terjadi secara terus menerus.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo