"Karena bersama-sama suara kita lebih kuat. Kita melihat satu sama lain bahwa kehancuran yang mengerikan di Gaza dan penduduknya harus diakhiri." (Yuval Abraham)
Perayaan Oscar 2025 tidak hanya berisi tepuk tangan dan kebahagiaan tetapi juga rasa haru. Keharuan menyusup di tengah acara ketika film No Other Land (2024) dikumandangkan sebagai film dokumenter terbaik dan berhak memenangkan Piala Oscar. Sinema itu mengandung pesan perdamaian, kemanusiaan, dan kritik atas perang.
No Other Land adalah film dokumenter hasil kolaborasi dari sineas, aktivis, dan jurnalis asal Palestina dan Israel. Dokumenter itu mengisahkan kehidupan komunitas Palestina di Tepi Barat, tepatnya di wilayah Masafer Yatta. Warga Palestina diceritakan harus berjuang melindungi rumah mereka dari pembongkaran dan kedudukan militer Israel.
Melalui pidato kemenangan di panggung Oscar, sang sutradara, Adra, mengatakan bahwa No Other Land mencerminkan kenyataan pahit yang telah dialami warga Palestina dalam waktu lama. Ia mengungkapkan harapannya agar putrinya tidak menjalani kehidupan seperti yang ia jalani sekarang.
Yuval Abraham, sutradara film, juga menambahkan bahwa Palestina dan Israel telah membuat film ini bersama-sama karena dengan bergandeng tangan suara yang terdengar akan lebih kuat. Upaya untuk menghentikan kehancuran yang mengerikan di Gaza dan penduduknya harus diakhiri.
“Ketika saya melihat Basel, saya melihat saudara saya, tetapi kami tidak setara. Kami hidup dalam rezim di mana saya bebas berdasarkan hukum sipil, tetapi Basel harus hidup di bawah hukum militer yang menghancurkan hidupnya dan ia tidak dapat mengendalikannya,” kata Yuval, dilansir dari The Guardian.
Ucapan itu disambung dengan ungkapan kritik pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang menghalangi jalan menuju perdamaian. Suara itu disambut gemuruh tepuk tangan dan simpati dari masyarakat global.
Kita boleh yakin, tidak ada hal baik yang didapatkan dari perang. Peperangan hanya menyuguhkan rasa sakit, perpecahan, kerusakan, dan kehancuran di muka bumi. Peperangan tidak lain adalah kepongahan. Sinema lain yang juga berbicara soal hal itu adalah film All Quiet on the Western Front (Edward Berger, 2022).
Film itu mematahkan asumsi soal kebanggaan dalam perang. Paul Baumer, diperankan oleh Felix Kammerer, digambarkan menyesal karena sempat berpikir tentang kebanggaan menjadi prajurit perang. Ia dan ketiga rekannya pernah antusias saat mendaftar dan membayangkan petualangan di medan perang. Yang kemudian terjadi, tidak ada secuil pun kebahagiaan. Perang tidak memiliki wajah selain kematian, ketakutan, rasa sakit, dan penyesalan.
Suara Perlawanan terhadap Perang dari Berbagai Penjuru
Selain di panggung Oscar, suara perlawanan terhadap perang terdengar di berbagai penjuru, sepanjang waktu, merangkul berbagai elemen. Peperangan telah menarik para jurnalis, aktivis, sineas, fotografer, penulis, penyanyi, dan pelukis untuk turut bersuara.
Pada tahun 1972, Nick Ut bersuara tentang perang lewat mata kamera. Ia mengabadikan sebuah foto yang dikenal dengan nama The Girl in the Picture. Gambar itu menampilkan seorang anak berumur sembilan tahun, tanpa busana, menangis di tengah jalan dengan luka bakar di tubuh akibat serangan bom Napalm. Foto itu berbicara banyak hal soal dampak peperangan bagi anak. Dunia tersentak di hadapan gambar tersebut.
Frances Hodgson Burnett, penulis novel anak asal Inggris, juga menyisipkan pesan penolakan perang lewat buku A Little Princess (1905) dan The Secret Garden (1911). Buku dipercayai sebagai karya terbaik di dunia. Anak-anak, pembaca yang disasar, dikenalkan dampak perang. Usaha itu memungkinkan penanaman rasa perdamaian sejak dini. Penolakan atas perang terjadi lewat pena.
The Magician’s Elephant (2009) gubahan Kate Dicamillo juga mengisahkan dampak pasca-perang bagi hidup anak-anak. Peter Augustus Duchenne digambarkan kehilangan ayah, lalu ibu karena perang. Ia tinggal bersama seorang mantan tentara yang tidak mengerti kata kasih. Sepanjang hidup, sebelum bertemu dengan Adel, satu-satunya keluarga yang tersisa, Peter hidup bagai robot.
Dalam sebuah penggalan cerita, Dicamillo menggambarkan kondisi batin Peter: “Peter sudah lupa sama sekali apa artinya dipeluk. Ia memeluk Gloria Matienne dan mulai menangis lagi.” Novel itu menguras air mata. Pasca perang, anak-anak harus mengalami banyak kehilangan.
Perlawanan terhadap perang juga muncul dalam alunan lagu. Tahun 1971, John Lennon, penyanyi-penulis lagu Inggris, merilis dendang Imagine yang masih menggema hingga kini. Lirik ini dipercayai sebagai himne perdamaian dunia.
Imagine all the people
Living life in peace
You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one.
Tahun 1973, Bob Dylan, penyanyi-penulis lagu asal Amerika Serikat juga membuat lagu bermakna serupa bertajuk Knockin’ On Heaven’s Door. Delapan belas tahun kemudian, lagu ini dinyanyikan ulang oleh Guns N’Roses. Lirik mengandung kritik terhadap pemerintahan AS dalam perang di Vietnam. Penolakan atas perang terjadi lewat melodi.
Mama put my guns in the ground
I can’t shoot them anymore
That long black cloud is comin’ down
feels like I’m knockin’ on Heaven’s door.
Pablo Picasso, pelukis revolusioner abad ke-20, melalui Guernica (1937) juga menyatakan kecaman atas perang. Karya itu dianggap sebagai salah satu lukisan anti-perang paling kuat dalam sejarah. Lukisan ini dibuat sebagai respon terhadap pengeboman mengerikan oleh Nazi di kota Guernica selama perang saudara Spanyol. Gambar ini mencerminkan kekacauan, rasa sakit, dan penderitaan yang menimpa warga sipil tak bersalah. Penolakan atas perang terjadi lewat kanvas.
Selamanya, peperangan adalah musuh bersama. Kejahatan yang terjadi di Palestina, bukan hanya milik politisi atau pemeluk suatu agama tetapi umat manusia. Kita membayangkan, pada abad ke-21 ini, berbagai elemen kembali bergotong-royong menghentikan nestapa warga Palestina. Suara yang muncul di panggung Oscar merupakan langkah yang amat penting untuk menarik perhatian dunia agar ikut bersuara meneriakkan perdamaian.
Editor: Kendi Setiawan


