Dark
Light
Dark
Light

Asal Usul Keyakinan Banyak Anak Banyak Rezeki

Asal Usul Keyakinan Banyak Anak Banyak Rezeki

Banyak anak banyak rezeki bukan bersumber dari hadits, melainkan pepatah atau pandangan masyarakat. Kalimat ini singkat dan ringkas tapi punya efek sangat besar bagi sejarah kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak keluarga dari kalangan ekonomi menengah bawah, tengah, maupun atas, dengan dasar kalimat tersebut memiliki anak dengan jumlah lebih dari empat, tak jarang ditemui belasan. 

Alasan yang menaungi keyakinan tersebut sering kita jumpai karena perspektif spiritual. Dalam banyak ajaran agama, diyakini bahwa setiap manusia telah memiliki rezekinya masing-masing yang telah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu, kelahiran anak tidak dianggap sebagai beban ekonomi, melainkan sebagai makhluk yang juga membawa rezekinya sendiri. Keyakinan ini membuat sebagian orang tidak terlalu khawatir terhadap persoalan ekonomi ketika memiliki banyak anak.

Selain itu, anak sering dipahami sebagai titipan atau amanah dari Tuhan sekaligus sebagai berkah bagi keluarga. Memiliki banyak anak sering dimaknai sebagai tanda keberkahan dalam rumah tangga. Dalam tradisi Islam misalnya terdapat hadist yang sering dikutip menganjurkan umat untuk memperbanyak keturunan. Ini kemudian sering ditafsirkan tekstual oleh sebagian masyarakat sebagai dorongan untuk memiliki banyak anak.

Dalam ajaran agama juga terdapat konsep bahwa anak yang saleh dapat mendoakan orang tuanya setelah meninggal. Memiliki anak dipercayai bisa menjadi investasi spiritual dan moral bagi orang tua, bukan sekadar persoalan ekonomi.

Alasan tersebut mendorong banyak orang menolak program KB (Keluarga Berencana) atau pembatasan melahirkan anak dalam bentuk apa pun. Misalnya, seperti kasus yang pernah viral tahun lalu, bapak dengan 11 anak menolak program Keluarga Berencana (KB) saat ditemui Dedi Mulyadi (Tribun Jabar, 6/5/2025). Peristiwa itu membuat banyak warganet geram karena hak-hak anak yang semestinya diberikan justru diabaikan. Anak justru dipaksa bekerja keras untuk membantu perekonomian keluarga. 

Selain alasan agama, ternyata dalam sejarah Indonesia, kondisi sosial dan ekonomi yang dialami oleh keluarga di perdesaan akibat kebijakan kolonial turut menjadi alasan kuat munculnya keyakinan banyak anak banyak rezeki. Mohamad Ichsanudin Adnan, lewat bukunya bertajuk Anda Sopan Bapak Segan, Pendisiplinan Keluarga pada Era Orde Baru, (Selak Lali, 2026) turut menuturkan pengaruh kolonial di dalamnya. 

Pepatah banyak anak banyak rezeki sudah lama dikenal dan cukup populer di daerah perdesaan, terutama di kalangan masyarakat yang hidup dengan tradisi agraris. Penyebaran pepatah ini dapat ditelusuri sejak masa ketika industrialisasi mulai masuk ke wilayah pedesaan di Jawa. Pada masa itu, anak dianggap sebagai “aset” bagi keluarga karena dapat membantu orang tua bekerja di sawah, ladang, atau usaha kecil lainnya. 

Selain itu, tingginya angka kematian anak serta tidak adanya jaminan sosial dari pemerintah membuat orang tua menggantungkan masa depan mereka pada anak-anaknya. Dalam kondisi seperti ini, memiliki banyak anak dianggap penting karena dapat memperbanyak keturunan yang akan melanjutkan garis keluarga sekaligus membantu menjamin kehidupan orang tua di masa tua.

Pepatah tersebut semakin berkembang pada masa pemerintahan kolonial, khususnya ketika kebijakan tanam paksa mulai diterapkan di wilayah jajahan. Setelah utang pemerintah kolonial meningkat akibat Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825–1830, pemerintah Belanda mencari cara baru untuk memulihkan kondisi ekonomi dengan cepat. Dari situ lahirlah sistem cultuurstelsel atau tanam paksa yang diperkenalkan oleh Johannes van den Bosch.

Melalui sistem ini, para petani diwajibkan menanam tanaman ekspor tertentu yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sistem ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari sistem monopoli yang sebelumnya dijalankan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Selain itu, pemerintah kolonial juga memanfaatkan hubungan feodal agar masyarakat tetap patuh dan dapat menghasilkan produksi dalam jumlah besar.

Pelaksanaan sistem tanam paksa membuat pemerintah Belanda membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk mengolah lahan serta membangun fasilitas yang diperlukan guna mengangkut hasil produksi ke pelabuhan. Salah satu cara untuk memperoleh tenaga kerja adalah dengan menetapkan pajak tanah yang dapat dibayar melalui kerja bakti. Namun, pajak yang harus ditanggung para petani dianggap sangat berat. Keadaan ini mendorong para petani untuk memiliki banyak anak agar mereka dapat membantu pekerjaan keluarga dan mengurangi beban yang harus ditanggung.

Meluasnya pepatah banyak anak banyak rezeki di masyarakat agraris dapat dipahami sebagai bentuk respons terhadap tekanan sosial dan ekonomi yang dialami oleh keluarga di pedesaan. Dalam situasi tersebut, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat reproduksi biologis, tetapi juga menjadi dasar kegiatan ekonomi yang berperan sebagai penghasil sekaligus pengguna hasil produksi. Peran ini turut mendukung berjalannya sistem ekonomi kolonial. 

Dengan demikian, selain narasi agama yang sering digulirkan dalam masyarakat untuk memiliki banyak anak, sejarah kondisi sosial dan ekonomi yang dipengaruhi kebijakan kolonial  pada saat itu,  juga menjadi asal usul munculnya keyakinan banyak anak banyak rezeki.

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo