Taqabbalallahu minna wa minkum wataqabbal ya karim. Hari Raya Idul Fitri 1445 H adalah hari kemenangan dan hari kebersamaan.
***
Ramadhan telah berlalu. Momentum Ramadhan adalah penyadaran diri untuk menguatkan iman hamba kepada Allah swt (hablun minallah) dan memperkuat kebersamaan dengan sesama manusia. (hablun minannas). Dikatakan demikian, karena kualitas ibadah kita dipantau secara langsung oleh Allah swt. Dalam hadits qudsi, Rasullulah saw bersabda:
كلّ عمل ابن آدم له إلاّ الصيام فإنّه لى وأنا أجزبه
Artinya: "Setiap amal ibadah anak Adam adalah miliknya kecuali puasa, sesungguhnya ibadah puasa adalah milikku dan aku yang akan senantiasa memberikan pahala" (Bukhari dan Muslim)
Pada saat Ramadhan, kita mengasah ketakwaan dan keimanan kita dengan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Kita pun melewati waktu-waktu spesial di bulan suci tersebut seperti peringatan Nuzulul Qur'an dan berupaya menggapai malam Lailatul Qadar.
Pada bulan Ramadhan kita juga berlomba-lomba dan berebut menggapai amal ibadah yang sempurna untuk benar-benar mengamalkan kewajiban dan sunah nafilah, yang dengan keberkahan-Nya, Allah memberikan nilai pahala yang berlipat ganda. Setelah 'gairah' ibadah berada pada akhir Ramadhan, kita diajarkan untuk tetap beribadah dan belajar bermuamalah. Ibadah zakat dan sedekah sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan kepedulian kepada sesama manusia kita tunaikan.
Sampailah kita di bulan Syawal, bulan kemenangan setelah sebulan lamanya kita melatih keimanan. Di hari yang fitri, kita memperkuat muamalah kepada manusia, bersilaturahmi dan senantiasa menjaga kesabaran. Betapa tidak, pada momentum ini, kita berkumpul dengan keluarga, saudara dan bahkan para sahabat dan handai taulan.
Pada momentum ini pula alur mudik dan alur balik juga bagian dari upaya menjaga kesabaran, sehingga tetap menjaga ukhuwah agar tidak terjadi bentuk pertikaian dan bahkan kecelakaan di jalan.
Konteks Idul Fitri adalah mempertahankan keimanan agar tetap teguh dan senantiasa istiqamah. Kita diajarkan untuk terus memperbaharui level keimanan kita yang sering mengalami 'fluktuasi'. Aneka ibadah dan dzikir kita lakukan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Rasulullah saw bersabda:
جدّدوا إيمانكم بقول لا اله إلاّ الله
Artinya: "Perbaruilah iman kalian dengan selalu mengucap Lailahaillah" (HR. Bukhari).
Maka pada bulan Syawal ini, adalah aplikasi dari proses penggemblengan panjang panjang selama satu bulan penuh lamanya. Kita harus menjaga kebersamaan ukhuwah Islamiyah agar menjadi insan yang moderat dalam beragama. Perkembangan zaman yang penuh dengan ujar kebencian, isu-isu hoaks, dan bahkan hasutan-hasutan harus kita halau. Ukhuwah Islamiyah harus tetap kita jaga agar senantiasa keikhlasan dan ketulusan hati dalam bermuamalah selama Syawal dapat mewujudkan visi misi agama yang rahmatan lil alamin.
Hingga akhirnya, kebersamaan kita bersama keluarga maupun sesama akan juga berakhir pada saatnya. Pada saatnya, kita akan kembali kepada aktivitas dan rutinitas sesuai dengan profesi yang melekat pada kita semua. Maka dengan itulah, keimanan kita senantiasa diuji kembali untuk tetap istiqomah. Keimanan yang kontemporer, tidak hanya temporer saat Ramadhan dan Syawal, melainkan pasca itulah kita tetap merawat semangat iman dan takwa kita..
Prof. Wan Jamaluddin ZA, Rektor UIN Raden Intan Lampung
Editor: Muhammad Faizin


