Dark
Light
Dark
Light

4 Etika Bersilaturahim saat Lebaran Idul Fitri

4 Etika Bersilaturahim saat Lebaran Idul Fitri

Lebaran Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di momen ini, umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Selain itu, Lebaran juga menjadi momen penting untuk bersilaturahim dengan keluarga, kerabat, dan tetangga.

Sejatinya, silaturahim dapat mempererat tali persaudaraan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Dengan bersilaturahim, kita dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan keluarga dan kerabat, serta saling memaafkan atas kesalahan yang mungkin terjadi selama setahun terakhir.

Selanjutnya, silaturahim dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Dengan bertemu dan berinteraksi secara langsung, kita dapat merasakan kebahagiaan dan kesedihan orang lain, sehingga mendorong kita untuk saling membantu dan menguatkan.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Jilid II, halaman 516 menjelaskan pada Hari Raya Idul Fitri, para sahabat Nabi Muhammad saw memiliki kebiasaan untuk saling mengunjungi dan bersilaturahmi. Dalam kunjungan tersebut, mereka saling mendoakan agar amal ibadah selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah swt. Tradisi ini mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan rasa saling mendoakan di antara sesama Muslim.

وعن جبير بن نفير ، قال : كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض ، تُقُبِّل منا ومنك . قال ابن حجر : إسناده حسن .

Artinya: "Dari Jabir bin Nufair, dia berkata: "Para sahabat Nabi saw ketika bertemu pada hari raya, mereka saling berkata, "Semoga diterima amal ibadah dari kami dan dari kalian." [Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, Jilid II, [Beirut; Darul Magrifah, tt] halaman 516].

Dengan demikian, silaturahmi merupakan momen penting untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat hubungan antar individu. Dalam momen ini, penting untuk memahami etika bersilaturahmi agar tercipta suasana yang harmonis dan penuh berkah. Berikut adalah beberapa etika yang perlu diperhatikan.

1. Menjaga sopan santun 

Sopan santun dan perilaku ramah merupakan landasan utama dalam membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Saat bersilaturahmi, baik dalam pertemuan keluarga, reuni, ataupun acara sosial lainnya, menjaga ucapan dan tindakan menjadi hal yang esensial untuk menghindari kesalahpahaman dan menjaga perasaan orang lain.

Sejatinya, kitab Suci Al-Quran, mengajarkan pentingnya menjaga lisan atau ucapan. Terdapat banyak ayat yang menekankan hal ini, salah satunya adalah surat Al-Baqarah ayat 83;

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا 

Artinya: "Bertutur katalah yang baik kepada manusia."

Profesor Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah, Volume I, halaman 248 mengatakan bahwa manusia diperintahkan untuk selalu berkata baik dan benar. Ucapan yang baik dapat membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Al-Qur'an pun menekankan pentingnya berkata benar. Ketika ucapan baik dan benar terpadu, ini menunjukkan ketulusan dan kejujuran. Sekalipun ucapan tersebut berisi kebenaran yang pahit, jika disampaikan dengan baik dan bijaksana, maka diharapkan pesan tersebut dapat diterima dengan baik pula oleh lawan bicara dan pendengar.

Selanjutnya, terdapat hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang anjuran yang penting bagi umat Islam untuk menjaga lisannya dari berkata buruk. Selain itu, hadits ini juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga dan memuliakan tamu.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.”

2. Menjaga waktu bertamu 

Salah satu etika penting dalam silaturahim Lebaran Idul Fitri adalah menjaga waktu bertamu. Dalam Islam, kita dianjurkan untuk menghindari bertamu pada waktu yang tidak tepat, seperti saat tuan rumah baru bangun tidur, waktu makan, atau waktu istirahat. Hal ini penting untuk menghormati privasi dan kenyamanan tuan rumah.

Waktu terbaik untuk bertamu adalah saat tuan rumah sudah siap menerima tamu, seperti setelah shalat Idul Fitri, setelah sarapan pagi, atau setelah waktu makan siang. Sebaiknya hindari bertamu terlalu pagi atau terlalu malam, karena dapat mengganggu waktu istirahat tuan rumah. Jika memungkinkan, hubungi tuan rumah terlebih dahulu untuk menanyakan waktu yang tepat untuk berkunjung. Hal ini menunjukkan rasa hormat dan sopan santun kepada tuan rumah.

Rasulullah saw memberikan pedoman tentang etika waktu bertamu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hadits tersebut berbunyi:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ قَالَ أَبُو دَاوُد قُرِئَ عَلَى الْحَارِثِ بْنِ مِسْكِينٍ وَأَنَا شَاهِدٌ أَخْبَرَكُمْ أَشْهَبُ قَالَ وَسُئِلَ مَالِكٌ عَنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ قَالَ يُكْرِمُهُ وَيُتْحِفُهُ وَيَحْفَظُهُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ضِيَافَةً

Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Hadiahnya (pahala) adalah satu hari dan satu malam. Keramahan terhadap tamu selama tiga hari, dan setelah itu, itu adalah sedekah. Dan tidak halal baginya untuk tinggal di sisinya (tuan rumah) sampai dia mengeluarkannya.

Abu Daud berkata, "Telah dibaca di hadapan Harits bin Miskin dan aku menyaksikannya." Asyhab memberitahukan kepada kami. Dan Malik ditanya tentang perkataan Nabi saw, "Hadiahnya adalah satu hari dan satu malam." Dia berkata, "Dia memuliakannya, memberinya hadiah, dan menjaganya selama satu hari dan satu malam, dan tiga hari sebagai keramahan."

3. Hindari saling mengejek saat bersilaturrahim

Silaturahmi merupakan momen penting untuk mempererat hubungan antar keluarga dan kerabat. Saat berkumpul, ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama, seperti bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan menikmati hidangan lezat. Namun, ada satu hal yang perlu dihindari saat silaturahmi, yaitu saling mengejek.

Mengejek orang lain, dapat menimbulkan rasa sakit hati dan merusak suasana silaturahmi saat lebaran. Hal ini dapat membuat orang yang diejek merasa tidak dihargai dan dihina, sehingga mereka menjadi enggan untuk berinteraksi di masa depan. Selain itu, saling mengejek juga dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman dan tegang, sehingga silaturahmi menjadi tidak menyenangkan.

Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Jawi Al-Bantani dalam kitab Mirqat Su’udit Tashdiq Syarh Sullamit Taufiq menegaskan bahwa berkata-kata yang menyakiti sesama Muslim, seperti mengolok-olok dan menghina, adalah perbuatan terlarang. Hal ini dikarenakan ucapan tersebut dapat melukai hati, menimbulkan rasa malu, dan merendahkan harga diri orang yang dituju.

Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita wajib berhati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kita harus selalu ingat bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan harga diri yang perlu dihormati dan dijunjung tinggi.

والاستهزاء اي السخرية بالمسلم و هذا محرم مهما كان مؤذيا كما قال تعالى : (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ), و كل كلام مؤذ له اي للمسلم كاءفشاء السر   

Artinya: “Dan menghina, yaitu mencemooh orang Muslim, dan ini adalah hal yang diharamkan, tidak peduli seberapa menyakitkannya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat:11). Dan setiap ucapan yang menyakiti orang Islam adalah seperti menyebarkan rahasianya."

4. Saling memaafkan saat silaturrahim

Kesalahan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam hubungan antar manusia. Oleh karena itu, momen Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan atas kesalahan yang telah diperbuat. Mintalah maaf dengan tulus dan ikhlas kepada orang-orang yang telah kita sakiti, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Memberikan maaf kepada orang lain dengan lapang dada juga merupakan hal yang penting. Dengan saling memaafkan, hati menjadi lebih tenang dan hubungan pun menjadi lebih harmonis. Momen Lebaran ini menjadi kesempatan untuk memulai lembaran baru dengan penuh kasih dan persaudaraan.

Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 134 menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Dengan menerapkan adab dan etika di atas, momen silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri akan menjadi lebih bermakna dan penuh berkah. Silaturahmi yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang akan mempererat tali persaudaraan dalam kemanusiaan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo