Laki-laki bergelar red flag sangat mungkin lebih disukai oleh banyak perempuan ketimbang kalangan green flag. Perempuan yang mandiri dan pintar sering kali lebih sulit mendapatkan pasangan ketimbang perempuan lemah lembut dan dicitrakan “keibuan”. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, tetapi konon banyak terjadi di realitas.
Pada tahun 2007-2008 muncul film ‘Super Maskulin’ asal Jepang garapan Takashi Miike berjudul Crows Zero. Tokoh Genji Takiya dan Tamao Serizawa hampir dijadikan prototipe sosok ideal laki-laki. Punya karakter kepemimpinan yang kuat, berani, hobi bertarung, dan tidak takut mati menjadi daya tarik bagi kaum hawa. Sebaliknya, Tom Hansen di film 500 Days of Summer (Marc Webb, 2009) mesti menerima penolakan dari Summer, kekasihnya, karena terkesan kurang maskulin dan mandiri.
Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam memandang cinta memang sering terjadi. Perbedaan ini muncul karena disokong didikan budaya dalam pembentukan identitas. Konstruksi cinta yang terbangun tak selalu menguntungkan kedua belah pihak. Baik laki-laki maupun perempuan, kerap dirugikan karena pembagian peran yang kurang proporsional.
Ester Lianawati lewat bukunya Revolusi Hati (EA Books, 2025) menggambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dalam memaknai ketertarikan. Laki-laki yang menarik bagi perempuan adalah maskulin, berkharisma, tampil sebagai pelindung, penyelamat, dan pahlawan. Ia mesti membawa citra superior, mapan, cerdas, punya jabatan, dan kendaraan.
Ketampanan laki-laki tidak selalu menjadi syarat dominan. Laki-laki jantan meski tidak tampan lebih memikat bagi perempuan ketimbang laki-laki tampan yang tidak jantan apalagi jika inferior ketimbang perempuannya.
Karena laki-laki dikonstruk lebih superior, ia lebih cenderung tidak tertarik pada perempuan yang superior darinya. Perempuan yang demikian di matanya tampak berjenis kelamin sama sebab kurang feminim bahkan tampak maskulin. Kondisi itu mengganggu laki-laki ketika ia tak tahu cara menaklukkannya.
Sebaliknya, bagi perempuan yang dididik dalam budaya patriarki, perempuan akan menginginkan sosok yang lebih superior darinya. Ia akan mencari seseorang yang punya insting menaklukkan, melindungi, dan memimpin.
Selama perbedaan itu tidak menimbulkan masalah tak perlu untuk dirisaukan. Namun sayangnya pembagian itu rawan memberikan posisi yang tidak strategis bagi perempuan. Dalam banyak situasi, perempuan yang paling dirugikan dalam konstruksi hubungan romantis ketika mengalami keretakan.
Di buku Cinderella Complex (1989), Colette Dowling memaparkan ketakutan kemandirian yang dirasakan banyak perempuan. Mereka tidak mau mengalami kecemasan yang merupakan bagian dari proses perkembangan. Ini terjadi karena pengaruh pola asuhan selama masa anak-anak yang tidak mengajarkan para gadis kecil untuk asertif dan mandiri, kebanyakan dari mereka justru dididik untuk non asertif dan ketergantungan. Pola ini turut menyumbang pandangan cinta bagi perempuan yang lebih senang ditaklukkan, dilindungi, dan bergantung dengan orang lain.
Di banyak kasus perempuan akan sulit bicara dan merespon kekerasan dalam relasi dengan tegas karena muncul ketakutan resiko menjadi mandiri. Jika terjadi perceraian, perempuan juga sering menjadi pihak yang paling dirugikan karena sejak awal dikonstruksi menjadi inferior dan bergantung pada orang lain. Kemandirian, keberanian untuk menghadapi ketidakpastian dunia terdengar asing bagi hidup perempuan.
Revolusi Hati
Second Sex (1949) susunan Simone de Beauvoir adalah salah satu buku yang turut mengulas perihal cinta. Beauvoir memaparkan dikotomi pandangan antara perempuan dan laki-laki dalam melihat relasi percintaan. Cinta bagi perempuan kerap dipahami sebagai kesetiaan, penyerahan total akan tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, dan tanpa harapan mendapat imbalan apa pun. Sementara bagi laki-laki, jika ia mencintai seseorang perempuan apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuan.
Dalam Jurnal Perempuan edisi Feminisme dan Cinta (2018) juga dituliskan kerangka pemikiran Beauvoir dalam memandang cinta. Bagi laki-laki, jatuh cinta membuat mereka menginginkan objek yang dicintai menjadi miliknya dan mendaku diri sebagai subjek yang berdaulat untuk memiliki dan mengendalikan sang objek. Sedangkan bagi perempuan, jatuh cinta adalah meleburkan diri atau menyerahkan segalanya kepada objek yang dicintai.
Ringkasnya, jatuh cinta bagi laki-laki dipahami sebagai ajang penaklukan, sementara bagi perempuan adalah sebuah devosi. Perbedaan dalam pemaknaan itu yang kerap menjadi akar kesalahpahaman sekaligus kekerasan antara laki-laki dan perempuan dalam berelasi. Pemikiran Beauvoir membantu banyak perempuan untuk lebih protektif dalam menganalisis cara memandang cinta yang berpotensi pada kekerasan.
Revolusi hati merupakan sebuah upaya untuk menata kembali definisi cinta yang selama ini diyakini. Patriarki yang didukung oleh kapitalisme sukses membuat cinta kehilangan arah dalam menciptakan relasi ketersalingan. Kepuasan bagi salah satu gender dan keuntungan bagi pemilik modal merupakan akar dari permasalahan ketimpangan pemaknaan cinta yang kerap menyudutkan perempuan.
Karena cinta adalah sumber kehidupan, menelisik kembali cara masyarakat menampilkan cinta khususnya pada anak menjadi upaya penting yang perlu dilakukan. Betapa pun cinta itu paradoks, cinta tetap menjadi harapan yang tersisa bagi perempuan dan laki-laki untuk memiliki ikatan kuat, demikian ungkap Eva Illouz.
Editor: Kendi Setiawan


