Dark
Light
Dark
Light

Boneka, Kemenangan, dan Kemungkinan

Boneka, Kemenangan, dan Kemungkinan

Boneka tidak pernah mati, selalu punya penggemar sepanjang zaman. Pada tahun 2023, jutaan orang menonton film berjudul Barbie. Tahun yang berganti artinya Barbie yang diyakini lestari. Pada akhirnya, kita diminta belajar lagi tentang boneka, yang lokal dan global.

Boneka bergerak dari ruang ke ruang. Peralihan waktu tidak pernah meninggalkan boneka. Benda itu seolah tak pernah absen dalam setiap babakan zaman. Kita mengenalnya melalui tangan anak-anak, industri perfilman, negara, dan masyarakat adat. Benda itu meninggalkan ingatan bersama dan beragam. 

Anak-anak menjadikannya sebagai media pembangkit sekaligus penghubung imajinasi. Industri film memakainya sebagai ikon kecantikan, pencipta rasa takut, dan penyebaran nilai multikulturalisme dalam bayangan profit. Di konteks negara, boneka menjadi alat diplomasi yang membawa pesan budaya, harga diri, dan tanggung jawab moral. 

 

Boneka kembali mendapatkan panggung dari khalayak dunia, sejak kehadiran film Barbie (2023) garapan Greta Gerwig. Kehebohan film pembawa pesan feminisme mengalahkan film garapan Christoper Nolan yang berjudul Oppenheimer (2023), yang bercerita sains dan Perang Dunia II.  Kompas, 9 Januari 2024, mengabarkan bahwa film Barbie berhasil mendapat sembilan nominasi penghargaan di Golden Globe 2024. Barbie menjadi film terlaris 2023. 

Efek boneka Barbie tidak berhenti hanya pada kesuksesan pasar tetapi merasuk hingga gaya hidup. Margo Robbie, pemeran Barbie, menuturkan bahwa film Barbie melebihi apa yang diwakili oleh angka-angka. Sejak kemunculan film Barbie, orang-orang banyak berpikir soal boneka dan hal-hal lainnya. 

Dalam imajinasi anak, boneka menuntut peran, percakapan, dan gerak tubuh. Dorothy Edwads menggambarkan bentuk boneka dalam bukunya berjudul Adikku yang Nakal (1984): “Boneka itu ada sayapnya yang berkilauan. Dia juga memakai mahkota yang berkilauan dan membawa tongkat bidadari. Kalau boneka itu dibaringkan, matanya tertutup. Kalau berdiri matanya terbuka dan kalau dibungkukkan ke depan, dia bisa berkata, ‘ma-ma’.”. 

Selanjutnya, di buku Kisah Sukses Bisnis Barbie (2010) susunan Robin Gerber, kita membaca Barbie sengaja tidak dibuat sendirian. Boneka ini dilengkapi oleh serangkaian teman bermainnya. Sosok terpenting adalah pacarnya, Ken. Lalu, ada teman-temannya dengan nama-nama yang mudah diingat. Model tersebut menuntut anak bercakap dalam bahasa seorang ibu, kekasih, adik, kakak, dan teman. Anak-anak menjadi lekas dewasa dan berpikir tentang peran-peran dalam kehidupan. 

Kalangan Islam ortodoks menempatkan mainan boneka sebagai benda mati. Kehadirannya bahkan dilarang untuk menyerupai makhluk hidup. Namun, Hilary Kay dalam buku Boneka, Mainan dan Permainan (1955) memberikan informasi jika mainan diproduksi besar-besaran, 1910-1930, sengaja dirancang untuk membuat tiruan kehidupan nyata dalam bentuk miniatur, yang dibuat untuk disukai, menghibur atau mendidik, dan mengambil bagian dari masa kecil setiap orang. 

Dalam genggaman negara, boneka mengambil peran menjadi penyambung pesan yang tidak tersampaikan oleh kata-kata saja. Di perayaan Olimpiade Beijing 2022, boneka panda yang dikenal dengan nama Bing Dwen Dwen menjadi fenomenal dan pusat perhatian. Boneka bukan sekadar benda tetapi media diplomasi negara kepada masyarakat dan negara-negara lain.

Di dunia politik, kata boneka juga sering terdengar. Namun, tidak merujuk pada makna sebenarnya. ‘Boneka’ dalam lingkaran politik mengarah pada seseorang yang memegang gelar otoritas politik, tetapi dikendalikan oleh orang atau kelompok luar. Obrolan perihal ‘boneka’ pernah mencuat beberapa bulan lalu. Prabowo disebut-sebut sebagai presiden boneka karena diduga dibayang-bayangi Jokowi. Perdebatan ini dicatat oleh Tempo (5/5/2025) dan beberapa media lain. 

Di Amerika Serikat, boneka menjadi komoditas yang menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Pembeli bisa memainkan boneka sesuka hati dan membuangnya jika sudah tidak berkenan. Di Indonesia, boneka memiliki cerita yang berbeda, yang tidak bisa menyaingi industri boneka di Amerika Serikat, Eropa, atau China. Padahal, kita semestinya bisa ikut andil dalam industri boneka sekaligus penciptaan peradaban abad XXI. Sesuatu yang pasti andil dengan nuansa ke-Indonesiaan. 

Di biografi para tokoh perempuan dalam sejarah Indonesia, boneka terasa asing. Semasa anak-anak, Kartini tidak menggendong boneka. Tangannya lebih akrab dengan kertas dan tinta, selain buku dan surat kabar. Pikirannya tidak berimajinasi bersama boneka dan mainan-mainan modern. Kepalanya dipenuhi gagasan emansipasi, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat. 

Tokoh yang tidak akrab dengan boneka itu barangkali bisa menjadi pilihan bagi industri boneka di Indonesia. Pembuatan boneka berkarakter Kartini mungkin saja menyaingi Barbie, yang bagi anak-anak di Indonesia adalah asing. Kartini yang ingin dikenali dan menjadi teladan anak-anak Indonesia dapat dipikirkan untuk referensi industri boneka. Hal yang harus diperhatikan adalah desain dan karakter-karakter. 

Pilihan mengingat dan menghormati Kartini melalui boneka daripada membuat patung-patung sebenarnya ingin menjadikan anak-anak berpijak sejarah dan kondisi kebudayaan Indonesia. Namun, anak-anak di Indonesia sudah telanjur kecanduan Barbie, yang berhasil menguasai dunia dengan imajinasi yang memukau dan industri yang sifatnya global. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo