Korea Selatan semakin hari makin memperpanjang kekuasaannya dalam benak masyarakat global. Industri hiburan Korea membawa segala kebudayaan yang ada di negeri gingseng itu menembus batas-batas wilayah dari mulai hal-hal yang besar hingga kecil. Tak cukup hanya tren kecantikan, fashion, makanan, dan bahasa, Korea Selatan juga mengekspor permainan daerah di negaranya melalui musik dan serial film.
Lagu bertajuk APT (2024) karya Rose (Blackpink) dan Bruno Mars turut membawa misi pengenalan tradisi korea Selatan. Lagu itu menjajaki tangga-tangga lagu dunia dan menguasai media sosial dalam waktu yang cukup lama. Judul ‘APT’ merujuk pada dua hal, yaitu apartemen dan Apateu, sebuah permainan tradisional Korea. Tentu, pendengar tidak hanya berhenti pada lagu, jari-jari bisa tergugah untuk mencari makna dan hal-hal yang terkait lagu tersebut. Memori masyarakat global pada Korea Selatan menjadi semakin lekat.
Serial Squid Game Season 2 (2024) garapan Hwang Dong Hyuk juga semakin meneguhkan ingatan kita pada Korea, terutama pada permainan tradisionalnya. Serial itu menampilkan pembunuhan, uang, dan hiburan dalam satu cerita. Penonton bisa merasa ngeri, takjub, tertawa, sekaligus bernostalgia. Permainan tradisional yang biasanya lekat pada masa anak-anak dipersembahkan untuk orang dewasa dalam 7 episode.
Setelah menonton, kita boleh menepi dari pembahasan yang terlanjur ramai di media sosial menyoal aktor, jalan cerita, dan fakta-fakta dibalik pembuatan serial tersebut. Kita bisa memilih membuka buku untuk menengok permainan rakyat Indonesia yang mulai dilupakan. Buku yang dipilih bertajuk Permainan Rakyat Daerah Lampung (1983) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku ini mengandung banyak informasi terkait nama dan cara memainkan banyak permainan daerah Lampung.
Dalam pendahuluannya, isi buku memuat sisi lain permainan daerah yang tidak hanya sekadar hiburan di waktu senggang atau sebagai sarana sosialisasi bagi anak-anak dan para remaja, tetapi juga fungsi lain yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup masyarakat: “permainan mengandung unsur-unsur lainnya yang tidak kurang penting, antara lain; Unsur-unsur pendidikan, latihan/pembinaan jasmani religius, tradisi/adat istiadat dan sebagainya.”
Kita membayangkan, andai negeri ini mampu melestarikan kebudayaan daerah, misalnya permainan anak melalui film, layaknya Squid Game, yang kehadirannya dipuja oleh masyarakat global, daftar permainan yang akan ditampilkan tidak akan menemukan jalan buntu. Indonesia punya ribuan kekayaan yang bisa dieksplorasi hingga mata kita lelah untuk menghintungnya. Berikut adalah beberapa pemain yang sama menariknya dengan berbagai permainan di serial Squid Game:
1. Main Cukut Pancung
Permainan ini dinamakan Cukut Pancung (dalam bahasa Lampung) yang artinya cukut: kaki, pancung: tabung bambu. Jadi yang dimaksudkan adalah permainan dengan kaki yang terbuat dari bambu. Di daerah lain nama permainan ini juga sering disebut dengan ‘egrang’.
Cara memainkannya cukup mudah dan seru. Misalnya empat orang anak dengan masing-masing alat bambunya sepakat akan melaksanakan suatu perlombaan, mereka akan berunding terlebih dahulu untuk menentukan jalan yang akan ditempuh dan rute perjalanannya. Setelah sepakat, mulailah mereka berjalan dari suatu tempat start yang telah ditentukan.
Jika di antara empat orang tersebut ada yang terjatuh, maka alatnya akan dirusak dan dibuang oleh kawan-kawannya. Ia akan berjalan biasa dan mengikuti rombongan. Anak yang menang hingga garis finis akan dinobatkan menjadi raja dan duduk di tempat yang diistimewakan serta kepalanya dihiasi dengan mahkota yang dibuatkan oleh kawan-kawannya dari daun-daun yang ada di sekitar tempat tersebut.
2. Main Ketik
Permainan ini memakai alat yang sering disebut ketik atau gacon. Alat ini terbuat dari batu pipih yang dibulatkan, bisa juga menggunakan genteng yang dibulatkan kira-kira berdiameter 5-6 cm. Alat ini digunakan untuk menembak atau mengenai alat peserta lainnya. Jika berhasil mengenai sasaran, suara yang muncul akan terdengar bunyi ‘tik’, maka permainan ini dinamakan main ketik.
Permainan ini dilakukan oleh dua orang anak sebaya yang bersepakat dengan masing-masing menggenggam sebuah ketik atau gacon di tangannya. Tempat yang dipilih adalah lapangan atau halaman rumah yang tidak berumput. Mula-mula dibuat sebuah garis pertama sepanjang kurang lebih satu setengah meter di atas tanah dengan sepotong kayu atau kapur; kemudian berhadapan dengan garis tersebut dibuat pula garis kedua yang panjangnya sama dengan garis pertama. Jarak antar garis berkisar 6 sampai 8 meter. Permainan berjalan dengan meletakkan gacon di garis B dan A. Salah satu pemain membidik lalu melempar gacon lawan, berlaku juga sebaliknya.
3. Cam-cam Bukur
Permainan ini dinamakan Cam-cam Bukur karena diambil dari syair yang diucapkan pada saat penyelenggaraan permainan. Permainan ini dapat dilakukan oleh anak-anak dari segala tingkat atau lapisan masyarakat. Perlengkapan permainan hanya menggunakan sebuah batu kerikil dan sepotong kayu untuk ditancapkan di tanah sebagai patokan.
Anak-anak biasanya memainkan permainan ini saat sore hari di halaman yang luas. Adapun syair yang dinyanyikan dalam permainan: Cam-cam bukur/ Rimba bunga lalu/ Kusinggung kusimbat/ Sapa dapat melompat (Cam-cam bukur/ Menggait bunga sambil lalu/ Kusinggung dan ku sentuh/ siapa mendapat cepat melompat)
4. Main Kambing-kambingan
Permainan ini dinamakan demikian karena dalam permainannya salah seorang peserta berdasarkan undian (menang) akan berlaku sebagai kambing dan menirukan suara kambing dan seorang lagi akan berperan sebagai empunya kambing. Peserta lainnya akan berbaris melingkar sebagai pagar kambing.
Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak antara usia 9-13 tahun. Jumlah peserta minimal 10 orang dan boleh lebih. Peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan hanya memerlukan sebidang tanah lapangan atau halaman rumah dan tiga buah batu kerikil kecil.
5. Main Taplak
Permainan ini memiliki beberapa macam versi, diantaranya main taplak payung dan taplak kuping. Nama tersebut disesuaikan dengan bentuk denah lapangan yang digambar. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak perempuan yang berusia 7 sampai 12 tahun dan jumlahnya minimal 2 orang. Untuk main Taplak hanya dibutuhkan sebidang tanah lapang yang tidak berumput, kapur tulis atau arang untuk menggambar, dan beberapa pecahan genteng atau batu tipis yang akan digunakan sebagai gacon bagi masing-masing pemain.
Permainan ini memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Gerakan yang dilakukan anak selama permainan berlangsung bisa melatih koordinasi mata dan tangan, melatih keseimbangan tubuh, melatih kemampuan perencanaan gerak, melatih kemampuan visual spasial, dan meningkatkan kesadaran tubuh anak.
Lima nama permainan diatas adalah sebagian dari daftar permainan yang masih begitu banyak untuk disebut. Semua itu belum mencakup daerah-daerah lain yang memiliki kekayaan permainan anak hampir sama banyaknya. Kita berharap, kekayaan budaya Indonesia tidak lenyap ditelan oleh arus budaya asing. Sangat mungkin untuk melestarikan dan memperpanjang ingatan kebudayan melalui bantuan teknologi dan ruang hiburan.
Editor: Kendi Setiawan


