Pagi itu Madinah masih tenang. Tapi di dadaku perang sudah pecah.
Orang-orang naik ke bukit berduyun-duyun seperti kemarin berharap siluet Muhammad tampak. Tapi aku tak ikut. Aku di rumah Abdullah bin Ubay, calon pemimpin kami. Semalam Abdullah berkata “Jika Muhammad datang, orang-orang akan lupa siapa yang menyatukan Madinah. Mereka akan menari-nari di sekelilingnya seperti anak kecil.”
Aku percaya itu. Abdullah menyatukan Aus dan Khazraj dengan susah payah, tapi kini bisa hilang hanya karena satu orang. Aku sebarkan kalau kedatangan Muhammad hanya akan membelah lagi suku-suku yang baru saja kami satukan.
“Dia bukan penyatu,” kata Abdullah. “Dia datang untuk menggantikan.”
Dan aku tahu jika itu benar maka kami tak punya tempat lagi di kota ini.
Sejak berita hijrah berembus dari para kafilah, orang-orang Madinah menjadi seperti ini. Tiap pagi berbondong naik bukit menatap padang pasir selatan. Perempuan berdiri di pinggir jalan bersama anak-anak, lelaki tua memandangi dengan wajah lelah, dan para pemuda berlari ke bukit kecil tempat debu mengepul di kejauhan menandai rombongan datang.
Hari ini pun sama. Seorang pengintai berkuda datang dari arah Quba. Semua berdesakan mendekat.
"Apakah beliau sudah dekat?"
Ia hanya menggeleng, menepuk kudanya yang basah oleh peluh.
"Belum. Tapi tak lama lagi." Jawaban mengambang menebar harap dan cemas.
Aku melihat dari kejauhan. Abdullah duduk di kursinya, diam seperti biasa. Wajahnya tenang nyaris tanpa reaksi. Pikirannya penuh badai.
Sejak Bai’at Aqabah kedua tahun lalu Madinah tak lagi sama. Tujuh puluh lelaki bersumpah setia pada Muhammad, disusul pendakwah suruhan Muhammad datang. Mus’ab bin Umair, pemuda kurus dari Mekah, datang hanya dengan kata-kata. Bicaranya pelan tapi orang-orang diam mendengarkan. Dari diam itulah tumbuh keyakinan. Dan yang paling aku takuti. Sejak itu kota terasa lain. Anak muda lebih tenang dan para ibu mulai belajar agama.
Aku tidak membenci Muhammad. Aku bahkan belum pernah melihatnya. Tapi aku tahu jika ia datang semua yang kami bangun akan berubah. Diplomasi, keseimbangan antar suku, kendali atas rakyat, akan bergeser tidak lagi di Abdullah bin Ubay.
Malam sebelumnya aku dan Ubay duduk di serambi rumahnya. Angin gurun merayap pelan lewat celah dinding tanah liat. Langit Madinah jernih, tapi hati kami tidak.
“Aku hanya ingin menyatukan kota ini agar anak-anak kita hidup tanpa dendam.”
“Aku tak ingin jadi raja. Hanya ingin satu poros. Tapi poros itu kini bergeser.”
Abdullah sudah berjuang mendamaikan suku Aus dan Khazraj, tapi semua berubah sejak nama Muhammad disebut-sebut.
Aku bertanya, "Bukankah Mus’ab membawa kedamaian juga?"
Ia tersenyum seperti ayah yang memaklumi anaknya.
"Kedamaian, iya. Tapi bukan hasil kerja kita. Bukan atas nama kita." Matanya menatap lampu minyak.
"Lebih sakit ditinggal kawan daripada dikalahkan lawan."
Malam itu aku pulang dengan dada berat. Aku tahu ia kecewa. Tapi aku juga berpikir apakah perjuangannya akan sia-sia, atau memang zaman sudah berubah.
Hari bersejarah pun tiba.
Pagi itu menjelang siang terdengar teriakan dari utara.
“Dia datang! Muhammad datang!”
Di kejauhan padang Quba terlihat rombongan kecil berkuda dan berunta pelan-pelan mendekati kota.
Madinah gempar. Warga tumpah ke jalan. Ada yang keluar rumah tanpa sempat merapikan diri. Ada yang sandalnya tertukar. Seorang lelaki tua menangis keras sambil memeluk bajunya sendiri karena tak kuasa menahan haru. Anak-anak berlarian menuruni bukit, meneriakkan nama Muhammad, orang yang belum pernah mereka lihat. Seorang ibu jatuh terduduk di depan pintu saking gembiranya.
Aku berdiri membeku di pintu rumah Abdullah bin Ubay.
"Jangan ikut," bisik dia lirih dari dalam.
Aku mengangguk. Tapi kakiku tetap bergerak tiga langkah ke depan. Cukup dekat untuk melihat arah debu yang perlahan naik di ujung selatan.
Sorakan orang-rang terdengar bukan gembira tapi pasrah. Seolah kota ini menyerahkan diri pada orang yang belum mereka kenal. Dan justru karena itu aku khawatir.
Mus’ab bin Umair berdiri tenang di tengah kerumunan, menunjuk ke arah sosok yang makin mendekat. Di sampingnya, seorang anak kecil berteriak, “Itu dia! Rasulullah!”
Ibunya menangis haru karena orang yang sudah lama dinantinya tiba.
Aku menunduk. Tanah di halaman Abdullah kering dan pecah-pecah, tapi cukup lunak untuk kugenggam. Entah kenapa tangan ini ingin mencengkeram sesuatu yang nyata agar tak goyah.
Semua orang berlomba menyambut. Para lelaki mengangkat tangan, yang perempuan menjerit haru, anak-anak berlarian tanpa arah.
“Ya Rasulullah, menginaplah di rumahku!” teriak satu.
“Tidak, di rumah kami saja! Lebih luas! Lebih dekat!” seru yang lain. Tangannya ditarik, bajunya disentuh, seolah setiap jengkal dari kota ini ingin jadi tempat pertama Nabi. Tapi ia hanya tersenyum, membiarkan untanya berjalan pelan.
Di depan rumah Abu Ayyub unta itu berhenti, seolah tahu perjalanan dari Mekah telah usai. Orang-orang terdiam. Tak ada yang berani bertanya kenapa bukan rumah mereka.
Aku berdiri menyaksikan tak jauh dari rumah Abu Ayyub. Ketika Muhammad turun dari unta tiba-tiba ia menoleh menatapku. Tatapannya seperti menyentuh sesuatu yang paling tersembunyi dalam diriku. Hanya beberapa detik, tapi membuatku ingin lari atau justru bersimpuh.
Malam itu aku tak bisa tidur. Wajah teduhnya terus membuatku berdebar. Berulang kali aku meyakinkan diri, “Ini hanya keramaian. Ini euforia orang banyak. Besok hilang.”
Saat Subuh aku terbangun gelisah. Tak ada suara. Hanya satu dorongan yang kuat: aku harus menemuinya.
Kakiku melangkah menembus dingin pagi.
Di depan rumah Abu Ayyub kulihat Muhammad duduk dikelilingi para sahabat.
Saat aku mendekat, ia menyambutku dengan mata lembutnya.
Aku mencoba berkata-kata tapi tercekat.
“Asyhadu an lā ilāha illallāh… wa asyhadu anna…”
Belum selesai. Namun karena tak kuat menahan haru tubuhku limbung, terjatuh, dan gelap.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor: Fajar WH


