Dark
Light
Dark
Light

Mendengarkan Celoteh Anak, Pintu Menuju Kedekatan

Mendengarkan Celoteh Anak, Pintu Menuju Kedekatan

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita banyak mendengarkan anak-anak yang senang berceloteh. Ya, maksud saya, kita sungguh-sungguh mendengarkan mereka secara aktif. Telinga kita benar-benar fokus pada suaranya, mata kita menatap lurus pada matanya, ekspresi wajah kita tulus perhatian dengan apa yang anak-anak sampaikan. Hati kita terbuka menampung kisahnya. Dan, mulut kita tidak memotong pembicaraannya melainkan siap-siap menyambutnya dengan kalimat penyemangat dan pertanyaan yang memancing agar anak makin ingin berkisah lebih banyak lagi. 

Mendengarkan anak-anak berbicara merupakan aktivitas yang tampak sederhana. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang mengabaikan saat anak berceloteh. Padahal, menyimak dengan seksama apa yang anak-anak ungkapkan adalah bentuk perhatian yang sangat berharga. Saat ayah dan bunda menaruh tangan pada dagu dengan raut wajah antusias, ketika itu anak merasa diterima sepenuh hati, dihargai ceritanya, dan percaya pada kita. 

Kepercayaan anak adalah pintu masuk jalinan komunikasi mereka dengan orang tua akan berjalan lancar. Tanpa kepercayaan yang penuh, komunikasi kita dengan anak-anak kerap macet seperti terantuk aral penghalang dan mengikis pertautan hati antara orang tua dan anak. 

Anak yang percaya pada orang tuanya merasa memiliki idola. Ini penting, sebelum anak mengidolakan banyak tokoh yang mereka jumpai di luar sana, ayah dan bunda adalah idola pertamanya. Bahkan, orang-orang spesial yang akan ia jadikan idola berikutnya akan ia sesuaikan dengan karakter orang tua. Betapa, orang tua yang telah memikat hati sang buah hati akan menjadi barometer siapa saja yang hendak anak gemari dan panuti. 

Kepercayaan yang kita peroleh dari si kecil, alangkah baiknya berlaku sebaliknya. Orang tua juga perlu menaruh rasa percaya kepada anak. Mungkin kita pernah mencegah anak melakukan hal baru. Sebagai orang tua, kita perlu cermat. Tak boleh gampang panik dan mengucapkan larangan-larangan.

Saat kita terlalu mudah melarang anak-anak mencoba sesuatu yang baru, merupakan ciri bahwa kita sendiri kurang percaya kepada anak-anak. Dampaknya anak akan enggan untuk mengeksplor hal-hal baru. Jika kejadian semacam ini berlangsung berulang-ulang, bukan tidak mungkin, akibatnya bisa permanen. Anak-anak kita kurang kreatif dan miskin imajinasi. 

Suatu kali saya sedang membuat sebuah tulisan menggunakan gawai. Tiba-tiba, dari samping anak saya yang berusia lima tahun menghampiri dan menghamburkan sebuah cerita. Bahwa, ia ingin menjadi orang yang membantu membawakan makanan di pesawat. Segera saja saya letakkan gawai dan sepenuh perhatian menatap lurus ke mukanya.

Setelah selesai, saya layangkan pertanyaan dengan pelan dan lembut. "Kenapa Dede ingin jadi seperti itu?".

Pertanyaan ini langsung dijawab lugas. "Dede senanglah membantu orang."

Saya punya kesempatan memberikan penghargaan dengan mengatakan, "Mulia sekali hatimu, nak. Kamu anak baik hati, sayang." Dia balas dengan senyuman bahagia pujian itu. 

Obrolan tak berhenti di sana. Saya ajukan pertanyaan lagi, "Dede tahu nggak, orang yang membantu membawakan makanan di pesawat sebutannya apa?"

"Tak tahu," balasnya singkat. "Orang itu dipanggil pramugari, Nak. Pra-mu-ga-ri." Saya sebutkan nama profesi itu.

Dia membalas lagi dengan, "Ooh.. Pramugari"."

Pertanyaan lain saya tambahkan, "Dede pernah melihat pesawat?" Langsung ia jawab, "Pernah, di luar rumah, depan, dua kali. Di luar rumah, belakang satu kali. Jadinya, Dede pernah lihat tiga kali, pesawatnya lagi terbang". Saya menatap kaget sekaligus bangga, anak saya bisa melakukan operasi penjumlahan. 

Adegan nyata semacam itu bukan sesuatu yang sepele. Begitulah alamiahnya anak-anak belajar. Orang tua sering kali salah paham, belajar merupakan proses yang mengalir melalui dialog sederhana yang tulus. Belajar bukan sesuatu yang kaku bahwa anak harus duduk diam dan sikap sempurna mendengarkan ceramah.

Dalam buku Carrol S. Dwek yang berjudul Keajaiban Otak Anak, disebutkan bahwa, anak-anak memiliki daya imajinasi dan rasa ingin tahu yang begitu besar. Bahkan, Carrol bilang, otak anak-anak dalam mencari ketersambungan antar informasi mirip seperti seorang mahasiswa doktoral yang tengah melakukan riset. 

Jadi, mendengarkan dengan sungguh-sungguh celoteh anak-anak dengan penuh perhatian yang tidak dibuat-buat merupakan pintu ajaib yang akan mengantarkan keluarga dalam balutan kehangatan dan kebahag. Posisikan jiwa dan ragamu berhadapan dengan anak-anak yang sedang menarasikan hasil olah pikirnya. Di depan ayah dan bunda adalah seorang mahasiswa doktoral yang sedang menyajikan ilmu pengetahuan berharga.

Selamat memetik makna.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo