Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet tidak hanya menjadi primadona film lewat Titanic (James Cameron, 1997). Melalui sinema Revolutionary Road (Sam Mendes, 2008), mereka juga berhasil memainkan peran sebagai sepasang kekasih dengan amat apik. Meski Revolutionary Road tidak menyuguhkan tumpukan peristiwa romantis layaknya Titanic, keduanya tetap menunjukkan kemistri yang patut untuk diberi tepuk tangan.
Film Revolutionary Road menyajikan gambaran realistis tentang kehidupan keluarga yang penuh tekanan, kebosanan serta ketidakmampuan individu untuk melepaskan diri dari sistem pekerjaan. Permasalahan itu melahirkan banyak konflik yang sering menghadap-hadapkan April (Kate Winslet) dan Frank (Leonardo) dalam pertengkaran hebat. Klimaks dari pertengkaran itu membawa April menyepi ke hutan.
Ia tidak bicara dan tidak mengamuk. Pilihan yang diambil adalah berjalan sendirian ke area hutan yang letaknya tak jauh dari rumah. Setelah menghabiskan beberapa lama dengan berjalan dan menatap banyak pohon, April kembali dalam keadaan lebih tenang dan mampu berpikir lebih jernih. Adegan itu menyisakan sebuah pertanyaan: apakah hutan punya pengaruh terhadap kesehatan mental?
Keajaiban Hutan
Sekilas, kita hanya melihat hutan sebagai kumpulan dari beragam tumbuhan dan hewan. Narasi paling umum yang sering dibicarakan adalah hutan dapat mencegah tragedi banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya. Namun, ternyata hujan memiliki peran melampaui hal itu. Di dalam hutan mengandung banyak keajaiban yang bisa membuat hidup manusia lebih sehat dan bermakna.
National Center for Biotechnology Information (1/11/2022) dalam penelitian yang dilakukan Qing Li menuliskan bahwa ilmu kedokteran hutan menemukan cara untuk menjadi lebih aktif, rileks, sehat, dan bahagia, yaitu dengan mengunjungi hutan secara rutin. Mandi hutan atau Shinrin-yoku dipercayai sebagai praktik penyembuhan berbasis penelitian melalui interaksi tubuh dengan lingkungan hutan.
Salah satu negara yang turut memperkenalkan Shinrin-yoku adalah Jepang. Mandi hutan kian masif dipromosikan oleh negara tersebut karena semakin meningkatnya jumlah penduduk yang merasa stres dalam menjalani hidup. Gejalanya berkisar dari kecemasan, sakit kepala, depresi, kelelahan mental, ketegangan mata dan leher, insomnia, frustrasi, mudah tersinggung dan kehilangan kesabaran. Konon, masalah itu muncul ketika teknologi mulai memasuki kehidupan manusia.
Karena permasalahan tersebut, pada tahun 1982, Badan Kehutanan Jepang mulai memperkenalkan program kesehatan nasional yaitu Mandi Hutan atau Shinrin-yoku untuk manajemen stres pekerja di Jepang. Secara empiris, lingkungan hutan memang terbukti dapat mengurangi stres dan memiliki efek relaksasi. Berjalan-jalan di taman hutan dipercayai memiliki efek yang besar bagi kesehatan manusia. Selain biaya yang amat murah, program ini juga dapat menjaga kelestarian lingkungan.
Bagaimana Cara Melakukan Shinrin-yoku atau Mandi Hutan?
Shinrin-yoku berarti mandi di suasana hutan atau menikmati hutan melalui indera kita. Aktivitas ini bukan dalam bentuk olahraga, hiking, atau jogging. Mandi hutan hanya sekadar berada di alam, menjalin kedekatan melalui indera penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan peraba.
Kita dapat menikmati Shinrin-yoku atau mandi hutan dengan kelima indera, di antaranya:
- Melalui indera penglihatan dengan memandang berbagai warna yang ditampilkan oleh kekayaan hutan. Mata kita biasanya akan dibanjiri oleh warna kuning, merah, hijau, cokelat, dan beragam pemandangan menenangkan di dalam hutan
- Melalui indera penciuman dengan mempersilakan hidung kita mencium aroma harum khas yang dimiliki oleh hutan. Aroma itu biasanya dihasilkan dari wangi pohon, bunga, buah, tanah, dan beragam zat yang menguap di udara
- Melalui indera pendengaran dengan memungkinkan telinga mendengar suara-suara di dalam hutan. Kicauan burung, desiran angin, gemericik air, atau ranting-ranting pohon yang saling bersentuhan bisa menimbulkan efek rileks
- Melalui indera peraba dengan menyentuh permukaan batang pohon, daun, tanah, dan beragam hal yang menyelimuti hutan
- Melalui indera perasa dengan memakan makanan berupa buah, sayur-sayuran dan menikmati udara segar di hutan.
Aktivitas itu tentu tidak menguras isi kantong dan setumpuk lembaran formulir. Shinrin-yoku bisa dilakukan dengan budget amat rendah. Siapa pun bisa melakukan aktivitas ini selama dilingkungannya masih terdapat alam yang bisa dimanfaatkan untuk terapi penyembuhan. Syarat yang diperlukan hanya konsistensi dan kesabaran untuk merasakan manfaat yang diberikan oleh alam.
Manfaat Shinrin-yoku atau Mandi Hutan
Manusia telah menikmati dan memanfaatkan lingkungan hutan selama berabad-abad karena suasananya yang tenang, pemandangan yang indah, iklim yang sejuk, aroma yang menyenangkan, dan udara yang segar dan bersih. Para peneliti di Jepang telah mencoba menemukan efek pencegahan terhadap penyakit tidak menular dari hutan dan telah mengusulkan konsep baru yang disebut Shinrin-yoku atau mandi hutan.
Dalam penelitian bertajuk Effects of forest environment (Shinrin-yoku/Forest bathing) on health promotion and disease prevention the Establishment of “Forest Medicine” (2022), dituliskan beragam manfaat dari aktivitas mandi hutan, di antaranya mengurangi gejala kecemasan, depresi, kemarahan, kelelahan dan kebingungan.
Selain itu, mandi hutan sangat efektif melawan stres mental (kelelahan mental). Banyak hasil penelitian yang melaporkan bahwa Shinrin-yoku secara signifikan meningkatkan kadar serotonin dalam serum. Shinrin-yoku juga terbukti meningkatkan kualitas tidur dan pengelolaan emosi.
Editor: Kendi Setiawan


