Menurut saya, novel ini bagus. Saya sangat senang menemukan berbagai karakter yang unik. Margaret Lea, Adeline, Isabella, dan Charlie adalah sosok yang belum pernah saya temui sebelumnya bahkan saya pikirkan. Mereka seolah tidak pernah hidup, baik di dunia nyata maupun dalam khayalan. Beruntung, melalui pikiran dan tangan Diane Setterfield, saya sempat berjumpa dengan tokoh-tokoh tersebut melalui Dongeng Ketigabelas (2006).
Saya menyukai Lea yang antusias terhadap teks-teks lama dan menyelidikinya seolah para penulis yang sudah mati kembali hidup. Saya tertarik pada Adeline dengan sifat penghancurnya. Saya gembira mengenal Isabella dengan tingkahnya yang independen meski agak gila. Saya juga menyukai Charlie yang memiliki cara hidup dan berpikir yang aneh.
Terlepas dari begitu bagusnya isi Dongeng Ketigabelas, saya harus mengungkapkan dengan jujur bahwa saya tidak begitu suka membaca novel ini meski menatapnya hingga halaman terakhir. Sepanjang waktu rasanya saya dipaksa untuk sabar. Perasaan, mata, dan pikiran saya dibuat tidak lekas berkesimpulan. Tabah, tenang, dan menunggu adalah hal yang sangat sulit untuk saya lakukan.
Ini bukan soal isi novel, mungkin karena kemampuan saya dalam membaca buku yang masih seumur jagung membuat saya kurang bisa menikmatinya. Atau mungkin juga karena ceritanya yang terlalu gelap. Entahlah, saya belum bisa memastikannya. Namun yang jelas isi buku ini bagus, begitu menurut teman-teman saya yang gandrung terhadap karya-karya John Ernst Steinbeck. Dongeng Ketigabelas adalah novel yang sangat menarik.
Margaret Lea
Satu hal yang membuat saya tetap bertahan membaca novel ini adalah pengalaman Lea dan Adeline sebagai anak-anak. Lea memiliki daya tarik. Untuk anak seusianya, ketenangan, keberanian, dan daya kritis gadis itu sangat patut dipuji. Ia melampaui anak-anak seusianya. Ketika dihadapkan pada kondisi yang menegangkan bersama ibunya dan Vida Winter, ia tetap setenang air danau.
Dugaan saya, berdasarkan cerita, karakternya banyak dibentuk oleh lembaran-lembaran. Ia tidak hanya diasuh oleh ayahnya, tetapi juga oleh buku. Lea pernah mengatakan: “Aku sangat kagum pada almanak-almanak tua. Sejak masih kecil, setiap kali merasa bosan atau cemas atau takut, aku pergi ke rak ini untuk membuka-buka halaman berisi nama-nama dan tanggal-tanggal serta catatan-catatan.”
Kelak, kebiasaan kecil itu yang menghantarkan Lea seatap Vida Winter, penulis terkenal dengan biografi misterius. Lea dipilih di antara banyak jurnalis dan penulis lainnya yang berharap bisa mengungkap sisi kehidupan Winter. Kisah itu berlanjut dengan petualangan, teka-teki, dan terungkapnya rahasia besar yang tertimbun selama puluhan tahun.
Ternyata, buku sebagai pembentuk biografi tidak hanya terjadi dalam cerita fiksi. Di dunia nyata, hal itu juga terjadi pada gadis cilik yang antusias terhadap alam semesta. Bocah itu diceritakan suka membaca sejak kecil. Ketika menginjak usia tujuh tahun, ia sudah khatam buku cerita tentang petualangan manusia di wilayah Indian dan Amerika karangan Karl May. Dalam buku tersebut, ia takjub dengan pemandangan indah yang digambarkan oleh Karl May.
Seiring berjalannya waktu, ia bertemu dengan otobiografi Madame Curie yang dibawa kakaknya dari perpustakaan sekolah. Buku dipercaya sebagai jembatan bagi gadis tersebut untuk membuka dan menantang dirinya mengenal alam semesta. Konon, pengalamannya bersama buku menjadi garis awal terlahirnya seorang ilmuwan berbakat di Indonesia, Karline Supeli namanya. Kisah itu diabadikan dalam buku Srikandi Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi Edisi 1991.
Adeline
Tingkah laku si kembar (Adeline-Emmeline) juga membuat saya bersemangat menatap teks. Membaca kenakalan mereka yang nyaris membunuh bayi dengan meninggalkannya di atas bukit dan sederet tingkah lainnya menggiring saya untuk teringat pada Astrid Lindgren (1907-2002), penulis buku anak asal Swedia. Lindgren melahirkan banyak cerita tentang kenakalan anak. Bukunya masih hidup hingga kini.
Kenakalan-kenakalan Baru Emil (1966) adalah salah satu novel buah pikiran Lindgren yang menceritakan berbagai kenakalan bocah laki-laki. Ibunya, Alma Svensson, selalu mencatat kenakalan Emil hingga berjilid-jilid. Setiap harinya selalu ada kenakalan yang dibuat. Salah satu kisah yang membuat pembaca tercengang adalah ketika Emil mengguyur ayahnya dengan adonan dadih darah dan kentang. Selain itu, ia juga menyulut tumpukan kembang api yang membuat seluruh penduduk Vimmerby panik mengira ada komet jatuh.
Meski sering membuat orang kesal, akhir hidup Emil penuh kemenangan. Penulis menuturkan bahwa ketika dewasa, bocah itu hidup terhormat: “Emil tumbuh dewasa dan ia menjadi bupati, orang paling terpandang di seluruh Lonneberga.”
Selain novel tersebut, ada beberapa buku lain yang mengulik banyak kisah kenakalan anak susunan Lindgren: Kami Anak-anak Bullerbyn (1957), Karlsson on the Roof (1955), Medicken (1960), Madita dan Lisbet (1976), Madicken dan Lisabet (1985). Semua karya tersebut memiliki suara dan jiwa anak-anak.
Selain dalam buku, kenakalan anak juga terekam dalam film. Tokoh Ne Zha yang diciptakan oleh Tiongkok melalui film Ne Zha (Jiao Zi, 2019) menampilkan kisah seorang anak dengan kandungan darah iblis. Kenakalannya sejuta kali lipat dibandingkan anak manusia. Meski orang-orang pesimis menatap Ne Zha, pada akhirnya ia justru menjadi penyelamat seisi dunia. Film yang apik, konon sekuel terbaru Ne Zha 2 (2025) membuat dunia takjub hingga mengalahkan posisi film animasi Inside Out 2 (Kelsey Mann, 2024).
Meski hidup Adeline tidak berujung seperti Emil, tokoh yang dibuat Astrid Lindgren, maupun Ne Zha, tokoh ciptaan Jiao Zi, kehidupan Adeline tetap menarik untuk dibaca dan dikenang. Di balik kenakalan Adeline, lahir tokoh baru yang aktif berpikir: Hester dan penulis terkenal dengan karya cemerlang: Vida Winter.
Editor: Kendi Setiawan


