Dark
Light
Dark
Light

International Women's Day 2025: Bagaimana Rasanya Menjadi Perempuan?

International Women's Day 2025: Bagaimana Rasanya Menjadi Perempuan?

Seseorang menemukan sebutir telur elang dan meletakkannya di eraman induk ayam. Anak elang itu menetas bersama anak-anak ayam dan tumbuh besar bersama mereka. Selama hidupnya, elang itu bertingkah seperti seekor ayam. Ia mengira bahwa dirinya adalah seekor ayam. Ia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga, berkotek-kotek, dan mengebaskan sayapnya, terbang tak jauh seperti ayam. Sebab, begitulah seekor ayam terbang, bukan?

Tahun-tahun berlalu, elang itu pun menjadi tua. Pada suatu hari, ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa. Burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah melawan tiupan angin, hampir-hampir tak mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna keemasan.

Elang tua itu melihat ke atas dengan kagum. “Apakah itu?” tanyanya kepada temannya. “Itulah elang, raja segala burung,” kata temannya.

“Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Engkau dan aku berbeda dengannya.”

Maka, elang tua itu pun tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya, ia mati dengan tetap mengira dirinya hanyalah seekor ayam.

Begitulah yang banyak dialami para perempuan, seperti elang yang memiliki sayap namun dibatasi untuk terbang. ‘Perempuan’  tidak hanya merujuk pada identitas biologis: vagina, sel telur, rahim, kelenjar mamae. Kata ‘perempuan’ mengandung kewajiban peran dan posisi dalam sebuah lingkungan sosial. Di beberapa situasi, kewajiban itu bisa berwajah adil tapi di situasi lain bisa tampil sebaliknya.

Bagaimana Rasanya Menjadi Perempuan?
Jika lahir di keluarga yang menempatkan perempuan sama beratnya dengan laki-laki, biasanya menjadi ‘perempuan’ akan terasa bahagia karena dimanusiakan dalam hidup. Bisa mengenyam pendidikan, diberi tempat untuk ikut berpendapat, bebas memilih dan menolak, serta mengembangkan potensi yang dimiliki. Begitu yang ditampilkan dalam film The Iron Lady (Phyllida Lloyd, 2012), sinema drama biografi yang mengisahkan perjalanan hidup Margaret Thatcher, perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris.

Namun, jika lahir di keluarga yang meyakini nilai perempuan lebih rendah dari laki-laki, hidup akan seperti tungku pembakaran, menjadi perempuan berarti neraka. Diposisikan sebagai aset domestik, dinikahkan dini, dianggap sebagai mesin produksi bayi, suaranya diragukan, pendapatnya dianggap lemah, pendidikan dinilai bukan hak, dan tubuhnya dinilai hanya sebagai objek. Demikian yang ditulis Nawal El-Saadawi dalam novel Perempuan di Titik Nol (1977).

Bukan hanya soal keluarga. Wilayah tempat tinggal juga turut menyumbang jawaban dari pertanyaan bagaimana rasanya menjadi perempuan. Jika tinggal di negeri konflik dengan pemahaman agama yang ekstrem, menjadi perempuan juga berarti sengsara. Sekadar untuk memilih pasangan menjadi barang mahal. Dipisahkan dari anak, dijadikan budak seks, dan direnggut hak hidupnya adalah nasib yang banyak dialami para perempuan. Tokoh Nawal dalam sinema Incendies (Denis Villeneuve, 2010) mengalami hal serupa.

Di negara-negara maju yang memiliki kebijakan lebih inklusif, kehidupan perempuan terasa menyejukkan. Forbes (12/11/2024) menuliskan 12 negara teratas dalam hal hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, Islandia menempati posisi pertama. Negara ini menjadi wilayah dengan kesetaraan gender paling konsisten di dunia selama 15 tahun.

Islandia menerapkan berbagai kebijakan yang menggembirakan: melarang diskriminasi upah berdasarkan gender sejak 1961, mengesahkan undang-undang untuk mencegah diskriminasi gender dan menjaga kesetaraan gender, mengintegrasikan perspektif gender ke dalam kebijakan dan program untuk mengatasi ketidakadilan, meningkatkan jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan, dan memerangi kekerasan dan pelecehan berbasis gender dengan serius.

Selain persoalan wilayah, agama juga turut menentukan. Agama diyakini sebagai salah satu sumber nilai dalam menjalani hidup, tak terkecuali mengatur peran dan posisi perempuan. Kita meyakini agama adalah petunjuk menuju jalan yang lurus. Namun, sayangnya, terkadang teks agama kerap ditafsirkan bias gender dan menempatkan perempuan dalam posisi pelik.

Islam termasuk salah satu agama yang sering kali ditafsirkan sebagai agama patriarki. Penafsiran yang bias gender sering diyakini sebagai kebenaran; perempuan harus mau dipoligami, tidak boleh menjadi pemimpin, perempuan adalah sumber fitnah, ruang perempuan adalah domestik, dan perempuan hanya sebagai mesin produksi bayi.

Jurnal Perempuan dalam edisi Perempuan dan Fundamentalisme (2003) menuliskan bahwa gejala gerakan keagamaan yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinatif tidak hanya ditemukan dalam agama Islam. Fundamentalisme agama juga terjadi dalam Buddhisme dan Katolik. Beberapa penafsiran menyudutkan perempuan pada risiko diskriminasi dan ketidakadilan.

Jo Priastana menjelaskan bahwa pada fundamentalisme Buddhis ditemukan peraturan-peraturan diskriminatif, misalnya pada hasil Konsili Pertama setelah Sang Buddha wafat. Delapan aturan dalam 8 garu dhamma dinilai sebagai bentuk penghancuran Sangha Bhikkhuni, dan gejala menyusupnya kembali kultur patriarkis.

Intan Darmawati juga menuliskan bahwa dalam ajaran gereja ditemukan dikotomis dan ambigu tentang moralitas perempuan, seksualitas, peranan perempuan, perceraian, dan kontrasepsi yang kerap kali menjadi ruang terjadinya kekerasan terhadap perempuan dengan legitimasi religius.

Selain agama, cara pandang masyarakat terhadap perubahan tubuh juga ikut menyumbang jawaban. Di banyak daerah, perubahan tubuh pada laki-laki biasanya ditandai dengan acara ‘Sunatan atau Khitan’. Acara itu selalu disambut dengan kebahagiaan. Orang-orang bersorak dan mengartikannya sebagai berkah. Bahkan, anak laki-laki yang baru dikhitan biasanya dipersilakan duduk pada tempat khusus untuk menerima ucapan selamat dan dukungan moral dari banyak orang.

Lain halnya dengan perubahan tubuh perempuan. Perempuan yang mengalami perubahan fisik dan psikologis, misalnya ditandai dengan menstruasi, masih sering diperlakukan diskriminatif. Pikirannya kerap dipenuhi oleh setumpuk stereotip, mitos, dan beragam bullying karena masyarakat masih menempatkannya dalam posisi tabu. Begitulah yang banyak terjadi.

Setelah menelisik dari berbagai sisi, apa jawaban dari pertanyaan ‘bagaimana rasanya menjadi perempuan?’ Menyakitkan ketika harus tumbuh dan berkembang dalam keluarga, wilayah, agama, dan masyarakat yang meyakini perempuan tidak memiliki hak dan kesempatan layaknya laki-laki. Menjadi perempuan terasa berat, menyesakkan, dan sulit. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo