“Hai Orang-Orang yang Beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (Q.S. Al Baqarah ayat 183).
***
Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam dengan ibadah istimewa di dalamnya yakni berpuasa. Oleh karena ibadah ini disambut dengan sangat meriah dan rasa bahagia.
Di sisi lain, banyak yang mengira puasa adalah ibadah ekslusif umat Islam. Sesungguhnya tradisi puasa sudah memiliki akar sejarah sangat lama. Substansi ajarannya telah dilakukan oleh berbagai bangsa. Keutamaannya pun diyakini oleh bermacam umat beragama.
Pada titik inilah kita disadarkan bahwa puasa tidak hanya sakral dalam hubungan dengan Tuhan tetapi substansi ajarannya sangat strategis mempertemukan berbagai bangsa dan umat beragama dalam lingkar persaudaraan untuk perdamaian.
Praktik Historis
Puasa diakui sebagai ajaran yang sudah sangat tua. Telah ada sebelum Islam datang, bahkan mungkin sudah dipraktikkan sebelum datang berbagai agama besar itu sendiri. Maka pada saat perintah itu diturunkan kepada umat Islam di Madinah, Al-Qur’an menuliskannya dengan untaian obyektif “.. kama kutiba ala allaziina min qablikum ..”, artinya “.. sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian (umat Islam)..”
Oleh karena itu, saat kewajiban puasa ditetapkan pada tahun ke 2 Hijriah maka Al-Qur’an secara gamblang menegaskan bahwa kewajiban puasa adalah kelanjutan dari puasa berbagai umat manusia sebelumnya.
Memang ada beberapa hal yang membedakan antara puasa satu agama dengan lainnya. Namun substansinya adalah sama, yaitu upaya untuk membangun iman yang kuat, rohani yang kokoh, dan kemanusiaan yang tinggi.
Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan ‘shaum” atau “shiyam”, artinya menahan diri tidak makan, minum, dan hubungan seksual. Di tengah masyarakat Indonesia atau negara serumpun Melayu, “shaum” lebih dikenal dengan nama puasa.
Walaupun istilah puasa berasal dari bahasa Sanskerta, namun istilah itu sudah populer di dalam tradisi Nusantara. Sehingga lebih terbiasa diucapkan, lebih mudah penyebutannya, tentu juga lebih kental kearifan lokal sehingga dapat diterima dan digunakan oleh berbagai budaya.
Puasa Umat Manusia
Dalam sejarah panjang agama Abrahamic, atau agama-agama yang bersumber dari Nabi Ibrahim as, puasa sudah dipraktikkan lama dalam tradisi penganut Yahudi, Nasrani, dan kemudian Islam.
Puasa di kalangan umat Yahudi sering ditujukan untuk mengenang peristiwa penting atau bersejarah pada masa lalu, seperti puasa 10 Muharram untuk memperingati keselamatan bangsa Israel dari kejaran Firaun di laut Merah. Puasa Tisha Pave selama dua hari penuh pada tanggal 7 Agustus untuk memperingati peristiwa kehancuran Kuil Sulaiman akibat serangan kekaisaran Babilonia dan Romawi.
Dalam kitab Perjanjian Baru yang diimani oleh pemeluk Kristen, ada puasa yang dinamakan dengan “Nestis” yang pada umumnya diartikan sebagai tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu. Umat Katolik dikenal mempraktikkan Puasa Abu dan puasa Jum’at Agung. Menjelang hari Paskah, penganut Protestan menjalankan puasa 40 hari, sebagaimana termaktub landasannya dalam Matius 4 : 2.
Sedangkan bagi umat Islam sendiri, puasa adalah rukun Islam yang ke-4 setelah syahadat, shalat dan zakat, dan sebelum haji. Dengan demikian puasa menjadi ajaran yang penting dan bernilai esensial, sehingga perintah puasa turun secara khusus melalui Q.S. Al Baqarah ayat 183 dan diperkuat dalam beberapa hadits Nabi Muhammad saw.
Dalam tradisi agama-agama kuno, seperti Zoroaster, Hindu dan Budha, puasa sudah dipraktikkan penganutnya sejak lama. Penganut agama Zoroaster dengan nabinya Zarathustra mengajarkan hidup agar bersih suci dengan berpuasa. Umat Hindu juga diajarkan Upawasa dengan tidak makan, minum, termasuk tidak menyentuh perempuan. Di kalangan bangsa Yunani Kuno dan Mesir Kuno juga sudah terbangun tradisi puasa setiap kali mereka akan menghadapi peristiwa penting seperti peperangan.
Hakikat Puasa; Insan yang Humanis
Puasa berbagai umat agama dan bangsa memang tidak sama, baik cara atau waktunya. Namun hakikatnya atau substansinya adalah sama yaitu untuk membangun iman, mengokohkan rohani, dan melahirkan insan-insan yang humanis, yang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan.
Oleh karena kemanusiaan itu universal, maka penghormatan harus diberikan kepada semua umat manusia yang sedang berupaya mewujudkannya melalui puasa, bukan hanya kepada komunitas atau pemeluk agama dan kepercayaan tertentu. Orang yang berpuasa, setidaknya dalam pandangan Islam, berupaya meningkatkan kualitas kemanusiaan dirinya dan orang lain agar kehidupan manusia saling menyayangi (rahmah), mengampuni (maghfirah), dan terbebas dari berbagai penderitaan, kesengsaraan dan ketidakadilan (‘Itqun minan Naar). Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad tentang keutamaan sepuluh malam pertama, kedua, dan ketiga bulan Ramadhan.
Untuk itu, seorang berpuasa dianjurkan untuk banyak bersedekah, berkata baik, tidak berdusta, bertengkar, apalagi fitnah dan adu domba. Di sinilah sabda Nabi Muhammad saw mengingatkan, “Puasa itu benteng, maka seorang yang berpuasa tidak boleh berkata dusta dan berbuat keji”.
Oleh karena bertujuan merubah manusia dari insan-insan yang egoistik dan negatif menjadi humanis yang kontributif, maka puasa menjadi titik temu kebaikan sekaligus persaudaraan semua agama. Dengan adanya titik temu tersebut maka sudah sepatutnya semua umat beragama saling menghormati, menghargai, menolong, dan tidak merendahkan, menyakiti, apalagi sampai melarang ibadah umat beragama lainnya.
Puasa Ramadhan mengajak dan mengingatkan bahwa umat beragama adalah bersaudara, sehingga antara satu dan lainnya harus toleran, yaitu dengan saling menghargai perbedaan, termasuk perbedaan dalam tata cara puasa itu sendiri. umat beragama tidak boleh mengejek atau menghina keyakinan dan praktik ibadah umat lainnya. Allah swt dalam al-Qur’an secara tegas telah melarang orang-orang beriman agar jangan menghina Tuhan atau sesembahan atau tradisi umat agama lain (lihat Q.S. Al An’am ayat 108).
Peradaban yang Berkemanusiaan
Dengan menjadi insan yang humanis, maka puncak puasa Ramadhan adalah melahirkan manusia yang membangun peradaban untuk kemajuan umat manusia. Puasa menjadi dasar pijakan yang kuat untuk menyadarkan kembali kita sebagai makhluk yang secara ruhani memiliki hakikat sama mengharapkan untuk kedamaian dan kebahagiaan bersama.
Hakikat puasa akan merekatkan kembali persaudaraan, saling menghormati perbedaan, baik pemahaman maupun praktik keagamaan. Puasa mengajak umatnya terbuka untuk menerima keanekaragaman, sehingga terwujud kerukunan umat beragama, toleran terhadap perbedaan, baik sesama anak bangsa dalam satu negara maupun umat manusia di dunia.
Inilah harapan yang selalu kita ucapkan dalam setiap penutup doa, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘zaban naar, .. Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan bebaskanlah kami dari siksa api neraka”.
Prof. Alamsyah, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung
Editor: Muhammad Faizin


