Salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam adalah ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Di luar bulan Ramadhan, ibadah puasa dihukumi sunnah, kecuali untuk puasa tertentu, seperti puasa nadzar, kifarat, dan qadla Ramadhan.
Di balik kewajiban puasa Ramadhan, ada sejumlah hikmah yang bisa dipetik pelajarannya. Satu di antaranya adalah puasa Ramadhan menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia. Di bulan penuh berkah tersebut, umat Islam di berbagai penjuru dunia melakukan ritual yang sama, yaitu berpuasa di siang hari dan melaksanakan shalat tarawih dan juga sahur di malam hari.
Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitab Hikmatu Tasyri menjelaskan, Allah lah yang memilih Ramadhan sebagai bulan diwajibkannya puasa. Dalam sejarahnya, orang-orang Arab biasa menjadikan hilal sebagai pertanda masuknya bulan baru.
Dengan kata lain, metode Qamariyah menjadi pegangan bangsa Arab dalam menentukan sebuah bulan. Dipilihnya Ramadhan tentu bisa memberi kemudahan umat Islam pada saat itu dalam menentukan bulan diwajibkannya puasa.
Selain itu, jika bulan diwajibkannya puasa ditentukan oleh umat Islam, tentu akan menimbulkan perbedaan yang berpotensi pada perpecahan. Hal ini karena umat Islam di berbagai negara akan memilih waktu yang mudah untuk berpuasa sesuai dengan situasi dan kondisi di wilayahnya masing-masing.
Maka dari itu, Allah memilih pelaksanaan puasa pada bulan tertentu (Ramadhan) agar umat Islam bisa merasakan sebuah persatuan. (Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Hikmatu Tasyri wa Falsafatuhu, [Beirut: Darul Fikr, 2003], Juz I, halaman 150)
Dijelaskan Syekh Al-Jurjawi, bulan Ramadhan adalah bulan paling mulia dari bulan lain karena di dalamnya terdapat peristiwa penting, yaitu diturunkannya kitab suci Al-Qur’an (nuzulul qur’an) dan ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar.
Syekh Al-Jurjawi juga menerangkan, puasa bisa menjadi wasilah untuk meraih kesehatan lahir dan batin. Dengan puasa, umat Islam bisa meraih derajat taqwa sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an. Di sisi lain, dengan puasa terjadi proses relaksasi pada saluran pencernaan dan juga badan bisa steril dari ancaman racun yang bersembunyi dalam makanan. Wallahu a‘lam
Editor: Muhammad Faizin


